Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ini Prioritas Penyedia Jasa Internet Tahun Depan

Penyedia jasa internet memilih untuk memprioritaskan kualitas jaringan dan kestabilan harga layanan pada tahun depan.
Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 26 Desember 2021  |  14:38 WIB
Aktivitas WFH membutuhkan dukungan internet WiFi yang cepat dan stabil. -  Dok. Biznet
Aktivitas WFH membutuhkan dukungan internet WiFi yang cepat dan stabil. - Dok. Biznet

Bisnis.com, JAKARTA - Menjaga kualitas layanan dan kestabilan harga menjadi salah satu fokus penyedia jasa internet pada tahun depan. Permintaan terhadap layanan internet tetap di perumahan diprediksi masih tumbuh, di tengah persaingan yang ketat.

Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Muhammad Arif mengatakan bisnis internet di sektor ritel atau perumahaan masih akan bertumbuh pesat pada tahun depan.

Arif tidak menyebutkan detail pertumbuhan, namun Internet sudah menjadi kebutuhan di era serba digital. Di tengah potensi pertumbuhan, penyedia jasa internet harus dapat menjaga kualitas layanan dan harga layanan agar tetap stabil.

“Kualitas layanan dan kestabilan harga saya rasa yang harus dijaga,” kata Arif, Sabtu (25/12/2021).

Arif menilai persaingan yang ketat telah mendorong pada harga layanan yang sangat terjangkau bagi masyarakat.

“Harga sudah sangat affordable,” kata Arif.

Sebelumnya, Ketua Umum Mastel Sarwoto Atmosutarno mengatakan pemain internet tetap terus melakukan harga layanan sesuai dengan tingkat keekonomian masyarakat.

Khusus untuk layanan internet tetap, kata Sarwoto, merujuk survei yang dilakukan oleh Cable.co.uk pada 2019, rata-rata harga layanan internet tetap di Indonesia senilai US$29,01 atau sekitar Rp414.400 per bulan. Indonesia menempati urutan ke-53 dari 211 negara dengan harga layanan internet termurah.

“Mastel melihat telah ada upaya yang telah dilakukan oleh para penyelenggara, yang sebagian besar merupakan anggota Mastel, untuk terus menurunkan tarif sesuai tingkat keekonomian,” kata Sarwoto.

Lebih lanjut, kata Sarwoto, pertumbuhan pendapatan bisnis infrastruktur telekomunikasi mengalami penurunan sebesar 2-3 persen selama 3 tahun terakhir. Kecenderungan selisih Return on Investment Capital (ROIC) dengan Weighted Average Cost of Capital (WACC) menurun dan tinggal sebesar 1-2 persen.

ROIC adalah Pengembalian Modal Investasi. Sementara itu WACC adalah Biaya Modal Rata-Rata Tertimbang. Dengan makin kecil selisih antara ROIC dengan WCC artinya keuntungan yang diperoleh penyedia infrastruktur makin kurang baik.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) Ririek Adriansyah mengatakan layanan internet tetap (fixed broadband) pada 2021 sudah menjangkau lebih dari 10 juta rumah.

Penetrasi masih akan berlanjut karena gaya hidup setelah pandemi dan saat pandemi tidak jauh berbeda. Secara umum, industri telekomunikasi diprediksi pada tahun depan tumbuh 3 persen dibandingkan dengan 2021.

“Jadi secara umum industri telekomunikasi pada tahun depan masih akan tumbuh single digit, perkiraan kita sekitar 3 persen secara tahunan,” kata Ririek.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

internet
Editor : Rio Sandy Pradana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper
To top