Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Microsoft: Amerika Serikat Jadi Target Utama Peretas Dunia

Microsoft mencatat sebagian besar serangan peretas menyasar Amerika Serikat sebagai target utama.
Ahmad Thovan Sugandi
Ahmad Thovan Sugandi - Bisnis.com 13 Oktober 2021  |  17:12 WIB
Ilustrasi kejahatan siber. - Reuters/Kacper Pempel
Ilustrasi kejahatan siber. - Reuters/Kacper Pempel

Bisnis.com, JAKARTA - Microsoft menyebut Amerika Serikat sebagai negara yang paling banyak mendapatkan serangan peretas sejumlah negara di dunia pada periode Juli 2020 hingga Juni 2021.

Berdasarkan Microsoft Digital Defense Report yang dikutip, Rabu (13/10/2021), perusahaan teknologi tersebut menyusun laporan berfokus pada aktivitas kejahatan dunia maya yang didukung negara.

Microsoft mencatat sekitar 48 persen serangan peretas tersebut menyasar Amerika sebagai target utama. Disusul Ukraina dengan 19 persen dari keseluruhan serangan peretas yang didukung negara dari bulan Juli 2020 hingga Juni 2021.

Terdapat empat negara yang paling banyak melakukan upaya peretasan. Posisi pertama diduduki oleh Rusia dengan 58 persen dari keseluruhan upaya peretasan. Posisi kedua ditempati Korea Utara dengan 28 persen, Iran sebesar 11 persen, dan China 8 persen.

Microsoft juga menjelaskan bahwa hampir setengah (48 persen) dari upaya peretaan tersebut menyerang sektor pemerintahan dan fasilitas milik pemerintah. Tempat kedua diduduki oleh LSM dan badan think thank yang mendapat 31 persen dari keseluruhan serangan.

Sektor IT justru hanya mendapatkan 2 persen dari keseluruhan upaya peretasan. Disusul sektor media, kesehatan, dan energi masing-masing hanya memperoleh 1 persen.

Kendati demikian, upaya-upaya peretasan tersebut tidak selalu berhasil, bahkan memiliki tingkat kegagalan yang tinggi.

Misalnya, peretas dari Korea Utara yang hanya memiliki tingkat keberhasilan 6 persen dari seluruh upaya yang dilakukan. Itu berarti 94 persen upaya peretasan dipastikan gagal.

Uniknya dalam laporan sebanyak 133 halaman tersebut Microsoft justru tidak menerangkan aktivitas peretasan yang didukung dan berasal dari Amerika Serikat.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

microsoft serangan siber
Editor : Rio Sandy Pradana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper
To top