Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Jumlah Startup Logistik di Indonesia Masih Minim

Berdasarkan survei We Are Social pada April 2021, 88 persen pengguna internet di Indonesia memakai layanan e-Commerce. Kemudian, startup logistik bertumbuh seiringan dengan tumbuhnya tren belanja online di e-Commerce.
Janlika Putri Indah Sari
Janlika Putri Indah Sari - Bisnis.com 24 September 2021  |  09:41 WIB
Layanan SiCepat yang terjangkau dan strategi brand awareness secara signifikan berdampak positif bagi bisnis Sicepat.  - Sicepat
Layanan SiCepat yang terjangkau dan strategi brand awareness secara signifikan berdampak positif bagi bisnis Sicepat. - Sicepat

Bisnis.com, JAKARTA — Jumlah startup logistik di Indonesia  kian bertambah seiring maraknya tren belanja di e-Commerce, sebut saja seperti kehadiran Iruna, Paxel, dan Expedito yang menambah jajaran startup logistik.

Ketua Umum Indonesian Digital Empowering Community (IDIEC) M. Tesar Sandikapura mengatakan jika populasi startup logistik di Indonesia masih minim.  

“Malah menurut saya startup logistik kita masih kekurangan yah. Perlu banyak jumlah logistik.  Saat ini hanya beberapa jasa logistik saja yang namanya dikenal baik oleh publik,” katanya pada Bisnis, Kamis (23/9/2021).

Berdasarkan survei We Are Social pada April 2021, 88 persen pengguna internet di Indonesia memakai layanan e-Commerce. Kemudian, startup logistik bertumbuh seiringan dengan tumbuhnya tren belanja online di e-Commerce.

Oleh karena itu, Tesar menyarakan agar beberapa daerah harus memiliki jagoan logistiknya sendiri. Untuk menjadi startup logistik  tidak harus level nasional, namun juga bisa  untuk tingkat kota atau provinsi.

Jika harga yang ditawarkan tidak mahal, maka startup logistik akan mudah menjangkau pasar. Tren bakar uang kerap menjadi andalan para startup untuk mencari konsumen.  Namun, jika dilakukan terlalu sering akan membuat kerugian bagi perusahaan.  Startup logistik harus punya strategi yang kuat untuk bersaing.

Tesar juga mengatakan jika  jasa logistik akan kuat jika mempunyai armada sendiri. Namun, jika level masih startup tidak terlalu penting untuk punya armada sendiri. Maka solusinya adalah kerjasama dengan pihak lain.   

“Startup logistik ini akan  menikmati keuntungan selalu. Jadi, tumbuhnya pesat semenjak gaya hidup masyarakat berpindah dari offline ke online. Jadi ini bisnisnya akan terus tumbuh. Ditambah lagi Indonesia variannya cukup luas yah, pasarnya harusnya cukup banyak pemain. Tidak akan cukup jika hanya dua atau tiga pemain,”  kata Tesar. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

logistik StartUp ekonomi digital
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

Banner E-paper
To top