Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Migrasi Siaran TV Digital, Meramu Candu buat Pemirsa

Siaran televisi digital memerlukan candu untuk disuguhkan kepada pemirsa yang saat ini masih menikmati siaran analog supaya segera bermigrasi.
Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 14 Agustus 2021  |  08:00 WIB
Migrasi Siaran TV Digital, Meramu Candu buat Pemirsa
Keluarga menonton televisi. / istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah telah memastikan bahwa siaran televisi digital harus mengudara pada 2 November 2022. Namun, perlu ada candu yang harus diramu agar pemirsa kepincut untuk beranjak dari siaran televisi analog yang saat ini masih dinikmati.

Salah satu caranya adalah dengan menyuguhkan killer content. Artinya adalah program acara unggulan yang disuguhkan oleh lembaga penyiaran kepada masyarakat, sehingga mereka tertarik untuk menonton televisi.

Killer content ini ibarat taburan topping di atas donat. Beragam, banyak rasa, dan tidak ada acuan.

Pantas saja Ismail, Plt. Dirjen Penyelenggaraan Pos dan Informatika PPI Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) yang belum lama ini dilantik, pusing bukan kepalang dalam merumuskan killer content. Alumni ITB Bandung yang terbiasa mengurus spektrum frekuensi itu, harus berpikir keras memahami selera orang, yang hampir mustahil ditebak.

“Garis finis [berupa siaran TV digital] sudah ada [2 November 2022]. Sekarang bagaimana caranya kita membuat masyarakat berpindah ke siaran digital dengan welcome,” kata Ismail dalam talkshow virtual beberapa waktu lalu.

Killer content memiliki andil besar dalam mendorong masyarakat untuk beralih ke digital. Berdasarkan survei yang digelar Kemenkominfo pada Juli 2021, diketahui konten yang beragam dan menarik (65,5 persen) menjadi salah satu alasan tertarik untuk menonton siaran digital. Sementara gambar yang lebih jelas (86,5 persen) dan suara yang lebih jernih (80 persen) menjadi alasan utama mereka beralih ke digital.

Dari beragam jenis konten dan program siaran tersebut, menurut survei yang digelar di 5 wilayah ASO tahap I itu diketahui sebanyak 50,21 persen responden menyatakan program sinetron menjadi program yang paling diminati. Program berita dan olah raga menempati urutan kedua dan ketiga masing-masing dengan 40,08 persen dan 18,59 persen.

“Sosialisasi harus masif melalui siaran televisi dan yang paling penting siaran digital ada sinetron, berita dan olah raga,” kata Direktur Penyiaran Kemenkominfo Geryantika Kurnia.

Survei tersebut seakan-akan menekankan bahwa killer content merupakan program acara bernuansa sinetron, olah raga dan berita. Padahal, kondisi di lapangan khususnya televisi lokal, tidak seperti itu.

Pendefinisian killer content membutuhkan pengetahuan dan pengalaman panjang. Ketua Umum Asosiasi Televisi Lokal Indonesia (ATVLI) Bambang Santoso menjelaskan hal itu tidak hanya berkutat pada program sinetron, program pemasaran pun di daerah-daerah, penggemarnya membludak.

“[Contohnya] home shopping, dahulu kita dicerca dan dimusuhi Komisi Penyiaran Indonesia daerah [KPID] karena hanya menyiarkan itu. itukan program. Sekarang lihat, televisi nasional mana yang tidak menyiarkan,” kata Bambang.

Dia mengatakan dari pengalaman yang panjang, lembaga penyiaran swasta lokal memilki pandangan tentang killer content yang merupakan seluruh program yang memiliki penonton. Masuk dalam pengukuran Nielsen atau tidak masuk pengukuran, tidak masalah.

Meski hanya program-program pemasaran, kata Bambang, faktanya masyarakat di daerah banyak yang melototi tayangan-tayangan tersebut.

Selain memiliki penonton, dia juga berpandangan, killer content memiliki durasi. Perlu waktu untuk memastikan bahwa konten tayangan yang dihadirkan merupakan killer content.

Killer content ini sangat berdampak dalam migrasi ke digital, tetapi sekali lagi konten program televisi itu tidak satu uniform. Saya tidak setuju kalau seluruh televisi menayangkan tayangan seragam. Buat apa ada 48 stasiun televisi kalau kontennya seragam,” kata Bambang.

Paksaan & Kualitas
Sementara itu, pakar telematika Roy Suryo menilai kondisi penyiaran - menjelang peralihan siaran analog ke digital - saat ini, sama seperti tahun 1962 saat TVRI pertama kali mengudara.

Saat ini, masyarakat menunggu set top box untuk menonton siaran digital, kalau dulu televisi gratis dari pemerintah yang dinantikan. Tanpa ada dorongan kuat dari pemerintah tidak ada siaran gratis saat itu.

Mantan Menteri Pemuda dan Olah Raga itu pun menduga kemungkinan killer content tidak berpengaruh dalam migrasi siaran analag ke digital. Masyarakat dengan sendirinya, baik terpaksa maupun tidak, akan menonton siaran digital dengan membeli STB sendiri atau membeli televisi yang telah mendukung siaran digital.

“Menurut saya kata kuncinya adalah keterpaksaan. Jika siaran analognya sudah mati maka otomatis masyarakat akan menonton siaran digital,” kata Roy.

Dia juga mengatakan selain keterpaksaan, hal yang membuat orang beralih menonton siaran digital karena gambar yang lebih jelas dan jernih dibandingkan siaran analog.

Mengenai kualitas dan konten, Bisnis.com mencoba mewawancarai Ria, seorang ibu rumah tangga yang kerap menemani sang buah hati menoton televisi di sore hari.

Perempuan yang tinggal di Kecamatan Pasar Minggu itu mengaku lebih senang menemani sang anak menonton tayangan Shinbi’s House di NET TV, dibandingkan harus menonton Upin & Ipin atau BoBoiBoy di stasiun lain.

Alasannya, kualitas gambar Shinbi’s House di NET TV lebih jernih dan enak dilihat, berbeda program Upin & Ipin. Sebagai pengguna televisi analog, siaran Upin & Ipin menampilkan gambar dengan gradasi warna yang berantakan, berbayang dan membuat mata sakit.

“Walaupun Upin & Ipin tayangannya relevan dengan anak-anak, kualitas gambarnya buruk. Jadi saya pilih yang lebih jernih,” ujarnya.

Sementara itu, Mai, yang juga seorang ibu rumah tangga, rela mengocek kantong lebih dalam untuk berlangganan TV kabel demi mendapat siaran dengan kualtias gambar jernih. Setiap bulan Mai harus mengeluarkan uang hingga ratusan ribu rupiah.

Tayangan favorit Mai adalah sinetron. Setelah azan Magrib, Mai selalu memasang posisi rebahan di depan televisi. “Lebih dari 5 tahun saya berlangganan.”

Ria dan Mai mungkin hanya segelintir orang yang mendambakan siaran televisi dengan gambar jernih, yang dapat membuat pengalaman mereka dalam menonton televisi menjadi lebih baik.

Para penjaga toko kelontong dan warung sembako, penjaga kios pulsa, pekerja di warteg, restoran padang dan lain sebagainya tentu juga mengharapkan siaran dengan kualitas gambar yang lebih jernih.

Bagi mereka televisi adalah satu-satunya hiburan yang gratis, yang dapat dimiliki. Setelah kualtias gambar, konten tayangan yang mendidik dan menghibur menjadi harapan mereka selanjutnya.

Pemerintah tidak ingin tergesa-gesa dan memastikan ketika siaran digital mengudara, seluruh pemirsa di Tanah Air dapat menikmati siaran digital yang memiliki gambar jelas, suara jernih dan berteknologi canggih. Semoga siaran televisi digital bisa segera kita nikmati.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

televisi digital kominfo migrasi siaran digital
Editor : Rio Sandy Pradana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top