Begini Cara Mengantisipasi Pencurian Data

Leo Dwi Jatmiko
Sabtu, 22 Mei 2021 | 08:02 WIB
Ilustrasi serangan WannaCry./thehackersnews.com
Ilustrasi serangan WannaCry./thehackersnews.com
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Potensi kebocoran data dapat diantisipasi dengan menerapkan sejumlah strategi seperti pengolahan data secara anonim hingga penggunaan layanan penyimpanan data berlapis dengan komputasi awan privasi, publik, atau menggabungkan keduannya.

CEO NTT Ltd. untuk Indonesia Hendra Lesmana mengatakan penting bagi sebuah perusahaan mengetahui tahapan-tahapan dalam bertransformasi digital, termasuk dalam peralihan data dari data fisik ke data komputasi awan.

Berdasarkan pengalamannya, serangan siber kerap terjadi di tengah-tengah proses pengalihan data. Para peretas berusaha mengambil data pelanggan saat proses terjadi.

“Kami pernah mendapat aduan bahwa terjadi serangan saat peralihan data. Serangan ini jika tidak ditangani dengan benar maka peretas dapat mencuri data,” kata Hendra kepada Bisnis, Jumat (21/5/2021).

Hendra menambahkan pada waktu data dikirim ke komputasi awan (cloud) publik, perlindungan yang berlapis-lapis tidak bisa lagi diterapkan, dan data akan terekspose. Semua orang dapat dengan mudah mengambil data.

Untuk mengantisipasi pencurian data, maka data yang di komputasi awan publik aman dibuat anonim. Secara karakter masih sama dengan data aslinya, tetapi saat dikirim komputasi awan sudah berupa data olahan yang sulit ditebak.

Solusi selanjutnya adalah dengan melindungi ‘jalur’ tempat data mengalir dari satu titik ke titik lainnya.  Dengan membersihkan jalur, maka data dapat berpindah secara aman.

Solusi lainnya, kata Hendra, adalah dengan membuat peraturan yang tegas, dengan prinsip tidak ada yang dapat dipercaya (zero trust). komputasi awan publik yang bersifat virtual dan terbuka, hakikatnya bisa dibuat secara terbatas dan tertutup dengan sistem masuk akses yang ketat. Hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk dan mengakses data di komputasi awan publik.

“Semua tidak dipercaya, sampai dikasih akses spesifik. Ibaratnya dikasih kata sandi sekali pakai itu baru boleh akses,” kata Hendra.

Hendra juga mengatakan di luar negeri, sejumlah sektor menjadi target penyerang peretas. Umumnya sektor-sektor yang bergerak di bidang pendidikan dan kesehatan saat ini menjadi incaran.

Dengan sistem penyimpanan data berlapis dan menggunakan multi penyimpanan seperti private, hybrid dan publik secara bersamaan, sektor tersebut tidak mendapat masalah yang berarti.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Penulis : Leo Dwi Jatmiko
Editor : Zufrizal
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper