Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Efek Putusnya Kabel Bawah Laut Makin Parah Gara-Gara Ini

Putusnya Sistem Komunikasi Kabel Bawah Laut (SKKL) bisa makin parah akibat ketergantungan server asing.
Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 22 Februari 2021  |  21:12 WIB
Ilustrasi kabel serat optik - Reuters/Alessandro Bianchi
Ilustrasi kabel serat optik - Reuters/Alessandro Bianchi

Bisnis.com, JAKARTA – Putusnya Sistem Komunikasi Kabel Bawah Laut (SKKL) Jakarta–Singapura beberapa waktu lalu membuat sejumlah layanan internet tersendat. Ketergantungan Indonesia terhadap aplikasi dan platform yang hanya memiliki server di luar negeri memperparah keadaan.

Ketua Bidang Aplikasi Nasional Masyakat Telematika Indonesia (Mastel) M. Tesar Sandikapura mengatakan putusnya SKKL milik PT Ketrosden Triasmitra berdampak pada gangguan sejumlah layanan internet MyRepublic. Para penyedia layanan internet yang bergantung dengan Triasmitra menggunakan SKKL cadangan, tetapi kapasitas jaringan cadangan tidak sebesar kapasitas jaringan inti, sehingga kualitas layanan menjadi berkurang dan melambat.

“Jika terdapat satu kabel putus itu akan berakibat ke mana-mana. Penyedia sistem cadangan juga akan terdampak karena ada permintaan tambahan kapasitas. Itu butuh waktu dan tidak mudah,” kata Tesar kepada Bisnis.com, Senin (22/2/2021).

Tesar menjelaskan besarnya dampak yang diberikan disebabkan lalu lintas data yang mengalir ke Singapura cukup besar. Beberapa aplikasi dan platform hanya memiliki server di negara dengan julukan Negeri Singa tersebut.

Tesar berpendapat agar dampak yang diberikan tidak terlalu besar, ke depannya para penyedia platform dan aplikasi harus membangun server di Tanah Air. Tujuannya agar perputaran lalu lintas data hanya berputar di dalam negeri sehingga mudah dipantau, cepat diperbaiki jika terjadi kerusakana dan tidak membebani operasional operator telekomunikasi.

“Seandainya server-server yang diakses tidak banyak di luar negeri maka tidak banyak masalah,” kata Tesar.

Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) sempat menyampaikan bahwa 70 persen layanan data Indonesia berasal dari luar negeri. Artinya hanya 30 persen dari seluruh lalu lintas data yang berputar di dalam negeri. Ongkos bandwidth yang dikeluarkan oleh operator seluler pun terbilang cukup mahal. Jauh berbeda dengan bandwidth lokal.

Sementara itu berdasarkan survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyeleggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada kuartal II/2020, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 196,7 juta pengguna.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

telekomunikasi kabel bawah laut
Editor : Rio Sandy Pradana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top