Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Startup SaaS Diprediksi Bersaing Ketat Rebut Pelanggan pada 2021

Pasca pandemi Covid-19, proporsi belanja teknologi informasi (TI) yang beralih ke awan menjadi peluang startup saas untuk berkembang lebih jauh.
Akbar Evandio
Akbar Evandio - Bisnis.com 19 Januari 2021  |  06:35 WIB
Karyawan beraktivitas di sebuah gedung perkantoran di kawasan Kuningan, Jakarta, Rabu (18/3/2020). Berdasarkan data Pemprov DKI Jakarta hingga Rabu (18/3), sebanyak 21.589 orang dari 220 perusahaan telah melaksanakan bekerja di rumah atau Work from Home (WFH). - ANTARA FOTO - Wahyu Putro A
Karyawan beraktivitas di sebuah gedung perkantoran di kawasan Kuningan, Jakarta, Rabu (18/3/2020). Berdasarkan data Pemprov DKI Jakarta hingga Rabu (18/3), sebanyak 21.589 orang dari 220 perusahaan telah melaksanakan bekerja di rumah atau Work from Home (WFH). - ANTARA FOTO - Wahyu Putro A

Bisnis.com, JAKARTA – Tahun ini dinilai menjadi ajang persaingan ketat perusahaan rintisan berbasis software as a service (SaaS) untuk menjaring pengguna baru 

Pendiri Asosiasi Digital Kreatif Indonesia (Aditif) Saga Iqranegara mengatakan kebanyakan perusahaan belum pernah mengadopsi remote working, sehingga aplikasi pendukungnya menjadi sangat penting, terutama untuk koordinasi dan monitoring pekerjaan.

“[Tahun ini] para pelaku akan berlomba untuk merangkul pengguna baru, yaitu pengguna yang belum pernah mengadopsi teknologi HR sebelumnya. Dari pengamatan saya sendiri, masih banyak perusahaan yang belum menerapkan teknologi pada pola kerjanya. Hal ini peluang untuk pemain SaaS,” ujarnya saat dihubungi Bisnis, Senin (18/1/2021).

Saga pun optimis pelaku startup digital dengan model SaaS akan makin banyak sejalan dengan semakin meningkatnya masyarakat yang mengadopsi pembayaran elektronik.

Namun, dia menyebutkan masih ada terdapat tantangan dari bisnis SaaS saat ini, di mana masih terkendalanya dengan mekanisme pengadaan barang jasa model lama.

“Tantangannya adalah SaaS ini masih lebih banyak ke segmen B2C. Untuk B2B dan B2G masih terkendala mekanisme pengadaan barang jasa model lama. Harapannya pola pengadaan barang jasa di Indonesia bisa mengadopsi produk SaaS,” katanya.

Adapun, laporan dari konsultan asing Gartner per Juli 2020 memperkirakan bahwa industri aplikasi awan berbasis layanan SaaS bernilai hingga US$143,7 miliar pada 2022.

Laporan tersebut menyebutkan besarnya potensi tersebut dikarenakan pasca pandemi Covid-19, proporsi belanja teknologi informasi (TI) yang beralih ke awan diprediksi dengan proyeksi mencapai 14,2 persen dari total pasar belanja TI perusahaan global pada 2024.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

software StartUp
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top