Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Implementasi 5G Tak Cukup Bermodalkan Infrastruktur Telekomunikasi

Penggelaran 5G dengan skema berbagi spektrum merupakan hal yang wajar di industri telekomunikas seluruh dunia.
Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 13 Januari 2021  |  16:54 WIB
Warga menggunakan smartphone berjalan melewati papan Taman 5G di markas Huawei Technologies Co. di Shenzhen, China, Rabu(22/5/2020).Bloomberg - Qilai Shen
Warga menggunakan smartphone berjalan melewati papan Taman 5G di markas Huawei Technologies Co. di Shenzhen, China, Rabu(22/5/2020).Bloomberg - Qilai Shen

Bisnis.com, JAKARTA – Meski telah memiliki infrastruktur telekomunikasi yang siap mendukung 5G, operator seluler dinilai tetap membutuhkan tambahan frekuensi untuk menggelar generasi kelima ini.

Ketua Pusat Studi Kebijakan Industri dan Regulasi Telekomunikasi Indonesia-ITB Ian Yosef M. Edward mengatakan sangat sulit bagi operator seluler untuk menggelar 5G hanya bermodalkan infrastruktur telekomunikasi yang telah terbangun.

Menurutnya, operator seluler tetap butuh pita frekuensi untuk menghadirkan teknologi 5G agar manfaat yang diberikan lebih optimal.

“Rata-rata kan operator [di luar Telkomsel dan Smartfren] punya frekuensi sekitar 20 MHz – 30 MHz, tetap bisa menjalankan 5G namun tidak ideal. Operator yang memiliki spektrum frekuensi lebih lebar, lebih bagus,” kata Ian kepada Bisnis, Rabu (13/1/2021).

Ian memperkirakan dengan 20 MHz, kecepatan 5G yang akan dirasakan oleh pengguna sekitar 80 Mbps -160 Mbps. Kecepatan tersebut berisiko turun seiring dengan jumlah pengguna yang makin banyak.

Ian menilai agar infrastruktur telekomunikasi siap 5G yang telah dibangun operator seluler dapat mengalirkan layanan 5G yang sebenarnya, maka operator telekomunkasi perlu saling bekerjasama.

Ian mencontohkan salah satu skema kerja sama di pita 2,3 GHz. Seandainya Tri, Telkomsel, dan Smartfren bekerjasama, maka ketiganya akan merasakan manfaat 5G dengan pita frekuensi sebesar 90 MHz.

Adapun, jika berbagi spektrum frekuensi dilakukan di pita 1800 MHz, antara para penghuni spektrum, yaitu Indosat, XL Axiata, Telkomsel, dan Tri, maka total spektrum frekuensi untuk 5G yang digunakan lebih kecil yaitu 75 MHz.

“Kalau 90 MHz kecepatannya sudah bagus sekali itu,” kata Ian.

Penggelaran 5G dengan skema berbagi spektrum merupakan hal yang wajar di industri telekomunikasi. Sejumlah negara seperti Australia, China, Jerman, Perancis, Korea Selatan, Hongkong dan lain sebagainya telah menggelar 5G dengan berbagi spektrum.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

infrastruktur telekomunikasi teknologi 5G
Editor : Amanda Kusumawardhani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top