Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Indosat (ISAT) dan Tri Indonesia Merger Gara-Gara Ini?

Analis menyimpulkan salah satu penyebab yang menjadi alasan munculnya rencana Indosat dan Tri Indonesia merger.
Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 28 Desember 2020  |  15:37 WIB
Menara BTS PT Hutchison 3 Indonesia
Menara BTS PT Hutchison 3 Indonesia

Bisnis.com, JAKARTA – Investasi besar untuk menggelar 5G disinyalir menjadi salah satu penyebab munculnya rencana merger antara PT Hutchison 3 Indonesia dengan PT Indosat Tbk (ISAT).

Chief of Marketing Jarvis Asset Management Kartika Sutandi mengatakan bahwa persiapan menuju 5G menjadi salah satu pertimbangan merger antara Indosat dengan Tri Indonesia. Untuk menggelar 5G dibutuhkan belanja modal yang besar sekaligus spektrum frekuensi yang cukup.

Saat ini Tri menggunakan frekuensi sebesar 35 MHz yang tersebar di 1800 (10 MHz), 2100 MHz (15 MHz) dan 2300 MHz (10 MHz). Adapun Indosat menggunakan frekuensi sebesar 47,5 MHz yang tersebar di 850 (2,5 MHz), 900 (10 MHz), 1800 (20 MHz) dan 2100 MHz (15 MHz).

Gabungan keduanya akan menghadirkan frekuensi sebesar 30 MHz di pita 1800 MHz dan 2100 Mhz. Jumlah tersebut belum terlalu cukup untuk mencapai batas minimum 5G – 40 MHz, kecuali kedua perusahaan merger bekerja sama berbagi spektrum frekuensi dengan operator seluler lainnya.

“4G mungkin belum sempat balik modal dan sekarang sudah mau masuk ke 5G, agar modalnya kuat maka merger,” kata Kartika kepada Bisnis.com, Senin (28/12/2020).

Dia mengatakan dengan melebur menjadi satu perusahaan, pemilik modal akan melihat efisiensi dari sisi operasional perusahaan dan peningkatan dari sisi jumlah pelanggan.

Dengan merger, sambungnya, persaingan dalam perebutan pelanggan juga akan makin sehat. Jumlah pelanggan yang besar akan mendorong keduanya untuk meningkatkan kualitas layanan dibandingkan harus jual murah layanan untuk mendapat pelanggan.

“Secara spektrum juga lebih rapih dan efisiensi. Pelanggan dua kali lipat tapi direksinya hanya satu, jadi lebih sehat. Kalau sudah hemat bisa kuat gelar 5G,” kata Kartika.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

telekomunikasi
Editor : Rio Sandy Pradana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top