Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Setelah Ada Frekuensi 5G di Indonesia, Ini Tantangan Selanjutnya

Kehadiran frekuensi, dinilai tidak cukup untuk membawa 5G ke Indonesia karena operator telekomunikasi tetap membutuhkan regulasi dan investasi untuk gelar teknologi kelima ini.
Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 17 Desember 2020  |  19:25 WIB
Setelah Ada Frekuensi 5G di Indonesia, Ini Tantangan Selanjutnya
Seorang wanita mengoperasikan ponselnya di dekat logo teknologi 5G. - REUTERS/Sergio Perez
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Tantangan menghadirkan 5G di Indonesia – untuk jaringan terbatas atau non terbatas – tidak hanya berkutat pada permintaan di pasar, melainkan juga regulasi dan investasi yang membutuhkan persiapan matang.

CEO Forest Interactive Johary Mustapha mengatakan untuk menghadirkan 5G operator seluler harus memiliki spektrum yang cukup, dan memastikan bahwa spektrum tersebut tidak mengganggu spektrum lainnya.

“Dari sisi uji coba di Malaysia, masih banyak konflik dari segi pengedaran spektrum. Dari sisi pemilik bisnis sangat menantikan kedatangan 5G,” kata Johari dalam webinar Forest Interactive, Kamis (17/12/2020).

Di samping itu, sambungnya, permasalahan harga perangkat juga akan menjadi tantngan dalam gelar 5G. Sejumlah gawai 5G yang beredar saat ini masih sebagian besar merupakan kelas premium.

Kemudian, dari sisi kecepatan, 5G akan menyedot layanan data dengan sangat cepat, yang membuat pelanggan makin boros terhadap layanan data.

Adapun mengenai pemanfaatan 2,3 GHz untuk 5G, Direktur Eksekutif ICT Institute, Heru Sutadi mengatakan ekosistem 2,3 GHz untuk 5G masih belum matang. Dia mengaku tidak banyak mendengar negara yang menggunakan 2,3 GHz untuk 5G.

Untuk menghadirkan 5G, Indonesia harus mengikuti ekosistem dunia di 3,5 GHz dan 2,6 GHz, agar investasi yang dikeluarkan untuk menghadirkan perangkat menjadi lebih murah.

“Kalau tidak sesuai dengan ekosistem, pertama, kesulitan interoperabilitas ketika kita menggunakan ponsel ke negara lain atau turis berkunjung ke Imdonesia. Kedua, kesesuaian frekuensi juga kita bicara harga perangkat. Jika jarang digunakan akan mahal,” kata Heru.

Meski memiliki sejumlah tantangan, pertumbuhan 5G di dunia diprediksi akan berlangsung sangat cepat dalam 5 tahun ke depan.

Laporan Forest menyebutkan pada 2025 akan terdapat sekitar 7 miliar ponsel pintar di dunia, bertambah sekitar 1,6 miliar dibandingakn dengan 2020.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 57,63 persen diperkirakan akan terhubung dengan 5G, 20,06 persen akan terhubung dengan 4G. Sementara itu sebesar 17,18 persen dan 5,13 persen akan terhubung dengan 3G dan 2G.

Sementara itu, di Indonesia diperkirakan pada 2025, terdapat 338 juta ponsel pintar yang terhubung dengan jaringan telekomunikasi. Sebanyak 5,42 persen terhubung ke 5G, 81,14 persen terhubung ke 4G, 13,44 persen terhubung ke 3G dan jaringan 2G sudah hilang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

telekomunikasi teknologi 5G
Editor : Rio Sandy Pradana
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

back to top To top