Paket Data Indonesia Termurah No. 2 Dunia, Mastel: Ada Persaingan Tak Sehat

Rio Sandy Pradana
Jumat, 11 Desember 2020 | 20:20 WIB
Ilustrasi kartu SIM. /Dok. Istimewa
Ilustrasi kartu SIM. /Dok. Istimewa
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) menilai ada risiko terjadi persaingan usaha tidak sehat pada sektor telekomunikasi di Indonesia apabila tidak segera diantisipasi.

Ketua Umum Mastel Kristiono mengatakan operator telekomunikasi perlu mewaspadai persaingan tidak sehat yang terjadi saat ini. Meski diprediksi tumbuh 5,3 persen pada 2021, beban investasi berpotensi menghambat pertumbuhan industri.

"Saat ini, harga paket data di Indonesia hanya di kisaran US$0,4 per gigabit, menjadi yang terendah kedua di dunia [setelah India]," kata Kristiono dalam siaran pers, Jumat (11/12/2020).

Padahal, lanjutnya, peningkatan konsumsi rata-rata paket data mencapai 87 persen per tahun. Kondisi ini akan menekan arus kas perusahaan dan berpotensi menggerus EBITDA margin yang turun 5 persen dibandingkan dengan 10 tahun lalu.

Menurutnya, return on invested capital juga menurun secara signifikan menjadi hanya 1 persen pada 2019 dari sebelumnya 7 persen pada 2009. Tren seperti ini akan menghambat pembangunan infrastruktur yang sangat esensial untuk mengembangkan ekonomi digital.

Kendati demikian, dia berpendapat adanya Undang-Undang Cipta Kerja akan mengatur ketentuan infrastructure sharing baik pasif maupun aktif serta menetapkan batas tarif bawah dan tarif atas. Jika berhasil diterapkan dengan baik, efisiensi investasi dan biaya operasional operator telekomunikasi bisa dicapai hingga naik 40 persen tanpa harus mengorbankan kualitas layanan.

Apalagi, masih ada lebih dari 70 juta penduduk Indonesia yang belum mendapatkan akses internet. Sebagian dari mereka berada di luar Pulau Jawa yang masih menggunakan jaringan 2G.

Kristiono mengatakan ini menjadi pasar potensial untuk digarap lebih serius, meski diperlukan skema yang pas karena wilayah ini mungkin saja memenuhi kriteria wilayah universal service obligation (USO).

Namun. tidak akan ada internet tanpa ketersediaan infrastruktur yang memadai. Sepanjang 2020, banyak investasi yang terhenti akibat pandemi. Tahun depan menjadi momen krusial untuk kembali mengejar target penggelaran fixed broadband di Indonesia dengan target 15-17 persen dari total rumah tangga.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper