Pandi Bantu Digitalisasi Aksara Pegon di Jawa Timur

Newswire
Selasa, 24 November 2020 | 11:08 WIB
Ilustrasi transformasi digital/Flickr
Ilustrasi transformasi digital/Flickr
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (Pandi) melakukan digitalisasi aksara Pegon sebagai bagian dari program pelestarian budaya daerah peninggalan leluhur di Jawa Timur.

Ketua Pandi Yudho Giri Sucahyo mengatakan dalam upaya pelestarian budaya tersebut telah mendapatakan dukungan dari Pondok Pesantren Al Ikhlash di Gresik, Jawa Timur. Adapun, upaya ini merupakan bagian dari program Merajut Nusantara melalui Digitalisasi Aksara.

“Pandi melakukan hal ini untuk melestarikan bahasa-bahasa daerah karena ingin memberikan kontribusi bagi bangsa Indonesia sebagai wujud nasionalisme yang dituangkan dalam bentuk upaya digitalisasi aksara nusantara warisan leluhur agar generasi muda dapat mengenal dan memahami aksara-aksara asli daerah terdahulu yang kini kian terkikis zaman,” kata Yudho dalam siaran pers, Selasa (24/11/2020).

Dia menambahkan Pandi juga telah mendigitalisasikan aksara Sunda, Bali, Sunda, Rejang, Batak, dan Bugis. Digitalisasi ini bisa memudahkan proses pembinaan dan pengembangan aksara Nusantara karena bisa diakses dan tersedia di perangkat mobile agar bisa tetap hidup dan mengikuti zaman.

Yudho berpendapat Indonesia adalah negara yang memiliki kekayaan budaya yang sangat luar biasa. Lebih dari 700 bahasa daerah yang tersebar di seluruh pelosok negeri, yang masing-masing memiliki aksaranya sendiri.

Menurutnya, digitalisasi akan terus digerakkan oleh Pandi bersama dengan komunitas terkait agar semakin banyak masyarakat yang menggunakan aksara leluhurnya, dengan begitu aksara daerah akan terus lestari. Digitalisasi aksara nusantara diyakini sebagai kunci untuk tetap menghidupkan warisan nenek moyang.

Pemimpin Pondok Pesantren Al Ikhlash Alfin Sunhaji mengatakan makna lafal Pegon berasal dari lafal Jawa pego, yang berarti menyimpang, karena memang menyimpang dari literatur Arab dan Jawa. Dalam perbincangan soal gagasan tersebut mengemuka persoalan bahwa aksara Pegon ternyata belum ada standarisasi di antara para penggunanya.

“Ibarat gayung bersambut, kami mendukung penuh gagasan ini (digitalisasi aksara) karena bisa melestarikan budaya pesantren di era digitalisasi, yang penting arahnya ke mana (positif) kita mengikuti, yang penting jangan ke mana-mana,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Penulis : Newswire
Sumber : Antara
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper