Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Penemuan Mikroba di Gurun Atacama, Dukung Kehidupan di Planet Mars

Penemuan tersebut menunjukkan bahwa mikroba, baik makhluk hidup maupun fosil, dapat ditemukan di lapisan tanah liat serupa di Mars.
Desyinta Nuraini
Desyinta Nuraini - Bisnis.com 18 November 2020  |  14:41 WIB
Gurun Atacama
Gurun Atacama

Bisnis.com, JAKARTA - Peneliti di Cornell University dan Centro de Astrobiología di Spanyol mengumumkan temuan baru yang dapat berimplikasi pada kehidupan mikroba bawah permukaan di Mars. Para ilmuwan menemukan mikroorganisme yang tumbuh subur di lapisan tanah dangkal yang kaya tanah liat di Gurun Atacama di Chili. 

Penemuan tersebut menunjukkan bahwa mikroba, baik makhluk hidup maupun fosil, dapat ditemukan di lapisan tanah liat serupa di Mars.

"Di sini kami melaporkan sebuah lapisan yang diperkaya dengan smektit yang terletak hanya 30 cm [11,8 inci] di bawah permukaan inti hyperarid Atacama. Kami menemukan bahwa lapisan yang kaya akan tanah liat basah (fenomena yang belum pernah diamati sebelumnya di wilayah ini), menjaga kelembaban relatif yang tinggi dan konstan sebesar 78% (aw 0,780), dan sepenuhnya terisolasi dari karakteristik kondisi subaerial yang berubah dan sangat kering," tulis para peneliti dalam laporannya seperti dikutip dari Earth Sky, Rabu (18/11/2020).

Atacama, kata peneliti memiliki lapisan kaya smektit dihuni oleh setidaknya 30 spesies halofilik dari bakteri dan archaea yang aktif secara metabolik, mengungkap habitat kehidupan mikroba yang sebelumnya tidak dilaporkan di bawah permukaan tempat terkering di Bumi.

"Penemuan komunitas mikroba yang beragam di lapisan bawah permukaan yang kaya akan smektit di inti hyperarid Atacama, dan koleksi tanda tangan biologis yang telah kami identifikasi di dalam lempung, menunjukkan bahwa endapan tanah liat dangkal yang serupa di Mars mungkin mengandung tanda tangan hayati yang mudah dijangkau oleh penjelajah saat ini," tutur peneliti. 

Penulis korespondensi Alberto G. Fairén mengatakan lempung dihuni oleh mikroorganisme. "Penemuan kami menunjukkan bahwa sesuatu yang serupa mungkin telah terjadi miliaran tahun yang lalu atau masih mungkin terjadi di Mars. Jika mikroba masih ada saat ini, kemungkinan kehidupan Mars terbaru mungkin masih ada di sana," sebutnya.

Para peneliti menemukan setidaknya 30 spesies mikroba pencinta garam yang sebelumnya tidak diketahui dari bakteri aktif secara metabolik dan archaea (organisme sel tunggal). Itu cukup signifikan, mengingat betapa keringnya kondisi di permukaan.

Mereka menjelaskan jika ada mikroba, atau sisa-sisa mereka, memang ada di lapisan tanah liat dangkal di Mars juga, mereka dapat dengan mudah ditemukan oleh penjelajah masa depan. Kondisi di permukaan Mars saat ini lebih kering dan lebih dingin daripada di Atacama, tetapi tanah liat berlimpah di banyak daerah. 

Selain terdeteksi oleh pesawat ruang angkasa yang mengorbit, penjelajah seperti Spirit and Opportunity (MER) dan Curiosity juga telah menemukannya, meskipun mereka tidak diperlengkapi untuk menemukan mikroba atau jenis kehidupan lainnya. "Curiosity telah menemukan berbagai molekul organik yang terawetkan dalam batulumpur kuno, yang dapat memberikan petunjuk penting tentang kemungkinan kehidupan lampau," kata peneliti dalam laporannya.

Oleh karena itu, penemuan ini dinilai dapat membantu para ilmuwan memutuskan tempat terbaik di Mars untuk mencari bukti kehidupan mikroskopis di masa lalu. "Makalah ini membantu memandu pencarian, untuk menginformasikan ke mana kita harus mencari dan instrumen apa yang digunakan untuk pencarian kehidupan," ujar Fairén.

Dia menuturkan Kawah Gale, tempat Curiosity mendarat, juga memiliki sedimen dan lempung dari danau besar sebelumnya. Apa yang ditemukan penjelajah sejauh ini sangat menggoda, tetapi karena tidak dapat mendeteksi tanda-tanda kehidupan secara langsung, belum diketahui apakah sebenarnya ada mikroba yang menyebut danau itu sebagai rumah. 

Akan tetapi menurutnya dua penjelajah baru akan dapat mencari kemungkinan biosignatures. Adapun pendaratan penjelajah Perseverance NASA dilakukan pada Februari 2021, dan penjelajah Rosalind Franklin dari Badan Antariksa Eropa (ESA), yang akan mendarat pada tahun 2023. Kedua penjelajah akan memeriksa lapisan tanah liat, mirip dengan yang ada di Atacama, tepat di bawah permukaan.

Sebagaimana dicatat Fairén, tanah liat adalah salah satu tempat terbaik dan paling mungkin untuk mencari bukti kehidupan Mars. "Itulah mengapa tanah liat penting. Mereka mengawetkan senyawa organik dan penanda biologis dengan sangat baik dan berlimpah di Mars," tegasnya.

Penemuan ekosistem kehidupan mikroba yang begitu hidup di salah satu tempat paling tidak ramah di Bumi itu dianggap menarik, dan memberikan petunjuk penting tentang bagaimana dan di mana mencari kehidupan di Mars. Apakah tanah liat Mars juga mengandung bukti kehidupan masa lalu atau bahkan sekarang? Itu masih merupakan pertanyaan yang belum terjawab, tetapi kita tidak akan tahu sampai kita melihatnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

planet mars mikroba kawah putih tgurun
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top