Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Planet Eksoplanet Terkecil Ditemukan Mengawang Tanpa Orbit

Planet eksoplanet ini memiliki massa yang berada di antara Bumi dan Mars yang hanya 10 persen sekuat Bumi
Ika Fatma Ramadhansari dan Fransiso Primus Hernata
Ika Fatma Ramadhansari dan Fransiso Primus Hernata - Bisnis.com 30 Oktober 2020  |  19:17 WIB
Eksoplanet
Eksoplanet

Bisnis.com, JAKARTA – Para astronom melihat kandidat "planet nakal" terkecil yang pernah diketahui, yang kemungkinan lebih kecil dibandingkan Bumi tampak melaju melalui galaksi Bima Sakti tanpa terikat pada sebuah bintang.

Penemuan ini berdasarkan studi yang dipublikasikan kemarin pada 29 Oktober 2020 melalui website Astrophyssical Journal Letters.

Planet eksoplanet ini memiliki massa yang berada di antara Bumi dan Mars yang hanya 10 persen sekuat Bumi. Jika dikonfirmasi, penemuan itu akan menjadi tonggak besar dalam studi planet-planet, yang diperkirakan sangat melimpah di seluruh galaksi dan sekitarnya tetapi sulit untuk dideteksi.

"Penemuan kami menunjukkan bahwa planet mengambang bebas bermassa rendah dapat dideteksi dan dikarakterisasi menggunakan teleskop berbasis darat," ungkap Andrzej Udalski, salah seorang penulis studi yang mengumumkan penemuan dan peneliti utama proyek Optical Gravitational Lensing Experiment (OGLE).

Para astronom telah menemukan lebih dari 4.000 eksoplanet yang dikonfirmasi hingga saat ini. Kebanyakan dari mereka telah ditemukan dengan metode transit yang mencatat penurunan kecerahan yang disebabkan ketika sebuah planet melintasi permukaan bintang induknya dari sudut pandang pengamat.

Cara lain dengan menggunakan metode kecepatan radial yang melihat pergerakan bintang yang disebabkan oleh tarikan gravitasi planet.

Kedua teknik ini bergantung pada keberadaan bintang induk, sehingga tidak bisa digunakan untuk berburu planet tanpa orbit.

Namun teknik berburu planet lain dengan pelensaan mikro gravitasi yang melibatkan pegamatan objek latar depan lewat di depan bintang latar yang jauh bisa melakukannya.

Jika ini terjadi, benda yang lebih dekat dapat bertindak sebagai lensa gravitasi yang membengkokkan dan memperbesar cahaya bintang dengan cara mengungkapkan massa objek di latar depan dan karakteristik lainnya.

Menurut peneliti pascadoktoral di Institut Teknologi California di Pasadena Amerika Serikat Przemek Mroz, peluang mengamati peristiwa pelensaan mikro ini sangat kecil karena tiga objek yaitu sumber cahaya, lensa dan pengamat harus hampir sejajar.

Jika ingin mengamati satu bintang sumber maka harus menunggu hampir satu juta tahun untuk melihat sumber itu di lensa mikro tambahnya dikutip dari Space pada Jumat (30/10/2020).

Namun pemburu planet seperti Mroz  dan rekan-rekannya menganalisis data yang dikumpulkan oleh OGLE.

Proyek ini dipimpin oleh Universitas Warsawa di Polandia menggunakan teleskop 1,3 meter di Observatorium Las Campanas di Chili untuk memantau jutaan bintang di dekat pusat Bima Sakti setiap malam yang cerah.

Para peneliti menarik sinyal yang sangat menarik dari pengamatan OGLE yaitu sebuah peristiwa yang disebut OGLE-2016-BLG-1928 selama 42 menit merupakan sebuah peristiwa pelensaan mikro terpendek yang pernah terdeteksi.

Tim selanjutnya menandai menggunakan data yang dikumpulkan oleh Jaringan Teleskop Mikrolensing Korea yang mengoperasikan teleskop di Chili, Australia, dan Afrika Selatan.

"Ketika kami pertama kali melihat peristiwa ini, jelas bahwa itu pasti disebabkan oleh benda yang sangat kecil," ungkap rekan penulis Radoslaw Poleski dari Observatorium Astronomi Universitas Warsawa.

Perhitungan tim menunjukkan bahwa badan pelensa memiliki massa antara Mars dan Bumi dan mungkin lebih dekat ke planet merah dibandingkan Bumi.

Kandidat OGLE-2016-BLG-1928 kemungkinan besar akan melakukan zooming melalui ruang angkasa dengan kesendiriannya.

Jika lensa mengorbit sebuah bintang, peneliti akan mendeteksi kehadirannya dalam kurva cahaya peristiwa tersebut. Peneliti dapat mengesampingkan planet yang memiliki bintang yang berkisar 8 unit astronomi.

Satu unit astronomi atau AU adalah jarak rata-rata dari Bumi ke Matahari sekitar 150 juta km. Di tata surya sebuah objek pada 8 au akan mengelilingi matahari antara Jupiter dan Saturnus merupakan tempat yang aneh untuk planet kecil.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

planet tata surya
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top