Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ini Penyebab Gunung Berapi Meletus Dahsyat Setelah Beberapa Dekade Tidak Aktif

Ahli vulkanologi dari Universitas Bristol telah mengungkapkan peran kristal yang disebut "nanolit" yaitu kristal yang sangat kecil dengan ukuran 10.000 kali lebih kecil dari lebar rambut manusia yang bisa menjadi penyebab letusan dahsyat gunung berapi.
Fransisco Primus Hernata
Fransisco Primus Hernata - Bisnis.com 24 September 2020  |  18:55 WIB
Debu vulkanik menyembur dari kawah gunung Bromo di desa Cemorolawaang, Probolinggo, Jawa Timur, Minggu (10 Januari 2016).  -  Antara/Umarul Faruq
Debu vulkanik menyembur dari kawah gunung Bromo di desa Cemorolawaang, Probolinggo, Jawa Timur, Minggu (10 Januari 2016). - Antara/Umarul Faruq

Bisnis.com, JAKARTA - Para peneliti menemukan apa yang dapat memicu sebuah letusan dahsyat pada gunung berapi yang sudah lama tidak aktif.

Ahli vulkanologi dari Universitas Bristol telah mengungkapkan peran kristal yang disebut "nanolit" yaitu kristal yang sangat kecil dengan ukuran 10.000 kali lebih kecil dari lebar rambut manusia yang bisa menjadi penyebab letusan dahsyat gunung berapi.

Nanolit ini sekarang telah diidentifikasi sebagai bahan rahasia di balik letusan dahsyat gunung berapi yang tenang dan biasanya dapat diprediksi.

Meskipun ukuran mereka yang kecil, nanolit memainkan peran kunci dalam viskositas magma yang meletus, yang dapat menghasilkan letusan gunung berapi yang sampai sekarang belum dapat dijelaskan.

Dr Danilo dari University of Bristol Di Genova dan penulis utama studi inovatif ini percaya bahwa penelitian ini memiliki implikasi yang mendalam untuk mempelajari beberapa gunung berapi paling terkenal di planet ini.

“Penemuan ini memberikan penjelasan yang tepat untuk letusan dahsyat di gunung berapi yang umumnya berperilaku tenang tetapi kadang-kadang memberi kita kejutan yang mematikan, seperti letusan Gunung Etna pada 122 tahun sebelum masehi,” ujar Dr Danilo seperti dikutip dari Express.co.uk

“Gunung berapi dengan komposisi magma silika rendah memiliki viskositas yang sangat rendah, yang biasanya memungkinkan gas untuk keluar secara perlahan. Namun, kami telah menunjukkan bahwa nanolit dapat meningkatkan viskositas untuk waktu yang terbatas, yang akan memerangkap gas dalam cairan lengket, yang mengarah ke peralihan tiba-tiba dalam perilaku yang sebelumnya sulit dijelaskan,” tambahnya.

Dr Richard Brooker, yang juga dari departemen Bristol’s Earth Sciences, mengungkapkan bagaimana mereka mencapai kesimpulan yang mengejutkan dan disampaikan dalam sebuah pernyataan.

Mereka mendemonstrasikan efek mengejutkan nanolit pada viskositas magma, dan menghubungkan dengan letusan gunung berapi, menggunakan teknologi nano-imaging mutakhir dan Raman spectroscop untuk mencari bukti partikel yang hampir tak terlihat di dalam abu dihasilkan dari gunung berapi dengan letusan yang sangat dahsyat.

“Tahap selanjutnya adalah mencairkan kembali batuan ini di laboratorium dan menciptakan kembali kadar pendinginan yang tepat untuk menghasilkan nanolit dalam magma cair. Dan dengan menghamburan radiasi sumber sinkrotron yang sangat terang (10 miliar kali lebih terang dari Matahari) kami dapat mendokumentasikan pertumbuhan nanolit," paparnya.

Kemudian, mereka memproduksi busa basaltik bantalan nanolit (batu apung) dibawah kondisi laboratorium, dan juga mendemonstrasikan bagaimana nanolit ini dapat diproduksi dengan undercooling karena volatil dikeluarkan dari magma, menurunkan liquidus.

Profesor Heidy Mader, yang juga terlibat dalam penelitian tersebut, berpendapat bahwa penelitian gunung berapi tersebut merupakan salah satu yang paling penting dalam beberapa dekade terakhir.

"Dengan melakukan eksperimen baru pada bahan sintetis analog, pada tingkat geser rendah relatif terhadap sistem vulkanik, kami dapat menunjukkan kemungkinan viskositas ekstrim untuk magma bantalan nanolit, memperluas pemahaman kami tentang perilaku yang tidak biasa (non-Newtonian) nanofluida, yang tetap misterius sejak istilah itu diciptakan 25 tahun lalu,” demikian penjelasannya.

Para ilmuwan menyarankan langkah selanjutnya adalah memodelkan perilaku vulkanik yang berbahaya dan tidak dapat diprediksi ini di lingkungan vulkanik dalam kehidupan nyata.
 
 
 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

gunung wisata gunung berapi
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top