Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Serangan Ransomware di RS Jerman Diduga Sebabkan Pasien Meninggal

Peretas meginvasi sistem IT rumah sakit dengan menyelipkan ransomware  untuk mengenkripsi seluruh data dan meminta tebusan untuk membuka data yang dienkripsi tersebut.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 19 September 2020  |  13:29 WIB
Ilustrasi - youtube
Ilustrasi - youtube

Bisnis.com, JAKARTA – Kematian pertama pertama dari serangan dunia maya dilaporkan pada Kamis (17/9/2020) setelah peretas menyerang sebuah rumah sakit di Düsseldorf, Jerman, dengan ransomware.

Dilansir dari New York Times, Peretas meginvasi sistem IT rumah sakit dengan menyelipkan ransomware  untuk mengenkripsi seluruh data dan meminta tebusan untuk membuka data yang dienkripsi tersebut.

Ransomware menyerang 30 server di Rumah Sakit Universitas Düsseldorf minggu lalu, merusak sistem, dan memaksa rumah sakit untuk menolak pasien darurat. Akibatnya, pihak berwenang Jerman melaporkan seorang wanita dalam kondisi kritis dikirim ke rumah sakit yang 32 km Wuppertal dan meninggal di perjalanan karena terlamat penanganan.

Ini merupakan kematian pertama yang dilaporkan akibat serangan cyber. Rumah sakit sering menjadi target penjahat dunia maya, terutama serangan ransomware. Kebutuhan untuk mengakses catatan kesehatan dan sistem komputer sehingga meningkatkan kemungkinan korban akan membayar uang tebusan.

“Rumah sakit tidak dapat mentolelir downtime, sehingga mereka cnderung membayar uang tebusan dengan cepat tanpa banyak negosiasi untuk segera memulihkan layanan mereka, “ ungkap analis ancaman siber di Emsisoft, Brett Callow, seperti dikutip Bloomberg.

Serangan paling agresif yang dilaporkan pada fasilitas perawatan kesehatan hingga saat ini adalah serangan ransomware "WannaCry" Korea Utara pada 2017. Serangan ini melumpuhkan rumah sakit di Inggris dan memaksa dokter untuk membatalkan operasi dan menolak pasien.

Selain itu, serangan "NotPetya" Rusia satu bulan kemudian, memaksa rumah sakit di pedesaan Virginia dan di Pennsylvania untuk menolak pasien karena catatannya medis tidak dapat diakses.

Serangan WannaCry akhirnya dapat diatasi oleh seorang hacker yang menemukan cara untuk menetralkan serangan tersebut, tetapi banyak data yang disita di NotPetya tidak dapat kembali.

 “Ini benar-benar tidak bisa dihindari,” kata Mr. Callow. Kami beruntung hal itu tidak terjadi lebih awal.

Ransomware telah menjadi momok di AS, dan rumah sakit adalah salah satu target paling rentan. Pada 2019, 764 penyedia layanan kesehatan AS terkena ransomware. Pasien gawat darurat ditolak dari rumah sakit, catatan medis tidak dapat diakses, dan dalam beberapa kasus hilang secara permanen, prosedur pembedahan dibatalkan, tes ditunda, dan layanan telepon 911 terputus.

Belum jelas apakah penjahat dunia maya memang menargetkan sistem University Hospital Düsseldorf, atau apakah rumah sakit tersebut terkena dampak berantai dari serangan terhadap sebuah universitas. Catatan tebusan ditujukan ke Universitas Heinrich Heine, yang berafiliasi dengan rumah sakit, bukan ke rumah sakit itu sendiri.

Polisi di Düsseldorf menghubungi penyerang melalui catatan tersebut untuk menjelaskan bahwa yang terkena ransomware bukan universitas, melainkan rumah sakit, dan membahayakan kesehatan pasien.

Penyerang menghentikan serangan dan menyerahkan kunci enkripsi untuk membuka kunci data.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ransomware
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top