Negara Agraris, Startup Agritech Menjanjikan

Akbar Evandio
Selasa, 8 September 2020 | 19:28 WIB
Petani menjemur bawang merah di desa Pujon Kidul, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Kamis (26/9/2019). Bisnis/Arief Hermawan P
Petani menjemur bawang merah di desa Pujon Kidul, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Kamis (26/9/2019). Bisnis/Arief Hermawan P
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Asosiasi Modal Ventura dan Startup Indonesia menilai perusahaan rintisan yang bergerak di bidang teknologi pertanian atau agroteknologi (agritech) memiliki prospek menjanjikan.

Bendahara Asosiasi Modal Ventura dan Startup Indonesia (Amvesindo) Edward Ismawan Chamdani mengatakan bahwa Indonesia sebagai negara agraris menyediakan ceruk pasar yang baik bagi startup agrobisnis untuk bertumbuh.

Namun, dia menyayangkan bahwa masih banyak pemain agrobisnis cenderung bergelut di industri hilir. Pasalnya, tantangan dari startup agrobisnis saat ini adalah mengamankan keberlanjutan dari penawaran dan permintaan termasuk dari segi kualitas dan kuantitas.

“Kebanyakan startup agritech masih fokus ke segmen hilir, masih sedikit yang fokus ke hulu,” katanya saat dihubungi Bisnis, Selasa (8/9/2020).

Lebih lanjut, Edward mengatakan bahwa dirinya tetap optimis, karena bila melihat melalui sudut pandang lain, startup yang berfokus pada hilir diakuinya memberikan peningkatan penjualan dari sisi jumlah dan harga.

Menurutnya, startup yang fokus ke hilir seharusnya bisa membantu petani menambah jalur penjualan mereka sehingga dampak ke pendapatan diharapkan memberikan komitmen peningkatan produksi berikutnya.

“Dampaknya [fokus ke hilir] upah riil petani bisa naik tentunya dengan makin banyaknya pilihan kanal penjualan baik jalur konvensional maupun startup agritech yang gencar menghubungkan supply petani langsung ke pelanggan,” ujarnya.

Koordinator Pusat Inovasi dan Inkubator Bisnis Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Dianta Sebayang mengamini bahwa peningkatan produk pertanian bisa meningkatkan upah riil buruh tani, tetapi dia meyakini bahwa kenaikannya tergolong kecil.

“Dalam kondisi stabil Covid-19, paling akan naik sekitar 0,50—1 persen karena kesempatan kerja di pedesaan juga lagi rendah. Dan, tidak banyak petani yang bekerja sama dengan perusahaan startup digital yang menerapkan fair trade, maka terjadi oversupply buruh tani, akibatnya upah buruh tani tidak akan meningkat secara drastis,” katanya.

Sekedar catatan, fair trade adalah sistem perdagangan yang fokus kepada kesejahteraan petani, keberlanjutan usaha petani dengan cara beli langsung di petani

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), upah rill buruh tani di Juli 2020 mencapai Rp52.549 dengan kenaikan 0,32 persen dibandingkan Mei 2020 yang berada di angka Rp52.379

Dianta menambahkan startup yang fokus ke sektor pertanian memberikan percepatan informasi tentang kesediaan, harga produk dan distribusi produk pertanian.

“Hal ini yang berkorelasi terhadap pengambilan keputusan petani sehingga dapat berpotensi pada peningkatan produksi pertanian dan berjalan beriringan pada kenaikan upah rill buruh tani,” ujarnya.

Sementara itu dari sisi penyaluran pendanaan, Ketua Bidang Humas dan Kelembagaan Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Tumbur Pardede menilai masih sedikitnya jumlah perusahaan rintisan berbasis teknologi finansial (tekfin/fintech) peer to peer (P2P) lending yang menyasar di sektor agrobisnia merupakan peluang bagi pelaku yang ada.

Dia menjelaskan bahwa jumlah pemain fintech lending yang berdedikasi di industri agro saja baru ada lima. Hal ini dapat dilihat dari catatan di OJK per Maret 2020.

“Kenapa baru sedikit, karena sektor agri memiliki tantangan yang besar dibanding sektor lain, salah satunya karena kondisi utama pelaku [fintech] yang kesulitan untuk mendapatkan data karena yang bersangkutan masih tidak punya akses internet,” katanya.

Dia pun tidak menampik bahwa kebutuhan akses internet tidak menghentikan langkah dari pelaku untuk mengambil peluang emas dari sektor tersebut.

“Ada peluang, karena masalah utama saat ini kan masih timpangnya kredit di masyarakat Indonesia. Kalau akses internet masih sulit. Biasanya mereka jemput bola, perusahaan bekerja sama, dan kami mencari ekosistem-ekosistem di daerah yang memiliki data tentang pelaku usaha,” ujarnya.

Untuk diketahui, saat ini jumlah pemain fintech lending di sektor agritech saja masih terbatas. Menurut catatan OJK per Maret 2020, mereka adalah iGrow, iTernak, Crowde, TaniFund, dan DanaLaut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper