Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bulan Mengalami Karat, Peneliti Sebut Terkait dengan Kondisi Bumi

Karat atau yang juga dikenal sebagai oksida si besi adalah senyawa kemerahan yang terbentuk saat besi terkena air dan oksigen. Karat merupakan hasil reaksi kimi umum untuk paku, gerbang, batu merah, bahkan Mars
Syaiful Millah
Syaiful Millah - Bisnis.com 04 September 2020  |  20:16 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Bulan dilaporkan telah mengalami perubahan warna menjadi sedikit merah dan itu merupakan kesalahan dari yang ada di Bumi. Penelitian baru menyatakan bahwa atmosfer planet kita telah menyebabkan bulan berkarat.

Karat atau yang juga dikenal sebagai oksida si besi adalah senyawa kemerahan yang terbentuk saat besi terkena air dan oksigen. Karat merupakan hasil reaksi kimi umum untuk paku, gerbang, batu merah, bahkan Mars.

Berdasarkan informasi dari Jet Populsion Laboratory (JPL) NASA, Mars dijuluki Planet Merah karena rona kemerahan yang berasal dari karat, yang ada di tempat itu sejak lama, ketika besi di permukannya dikombinasikan dengan oksigen dan air.

Namun demikian, tidak semua lingkungan angkasa optimal untuk karat, terutama di bulan kering dan bebas atmosfer. Oleh karenanya, penemuan ini membingungkan para peneliti.

"Ini sangat membingungkan. Bulan adalah lingkungan yang mengerikan untuk karat terbentuk," kata Shuai Li, pemimpin studi ini dan asisten peneliti di Universitas Hawaii, seperti dikutip Live Science, Jumat (4/9).

Li sedang mempelajari data dari JPL Moon Mineralogy Mapper, yang berada di dalam pengorbit Chandrayaan-1 dari organisasi peneliti India, ketika dia menyadari bahwa kutub bulan memiliki komposisi yang sangat berbeda dari yang lainnya.

Selama misinya, Moon Mineralogy Mapper mendeteksi spektrum atau panjang gelombang cahaya yang dipantulkan dari berbagai permukaan bulan untuk menganalisis susunan permukaannya.

Ketika Li memusatkan perhatiannya pada daerah kutub, dia menemukan bahwa permukaan kutub bulan memiliki batuan kaya besi dengan tanda spektral cocok dengan mineral hematit. Mineral ini umumnya ditemukan di permukaan bumi berupa sejenis oksida besi atau karat.

"Pada awalnya, saya sama sekali tidak mempercayainya. Seharusnya tidak ada mineral itu berdasarkan kondisi yang ada di bulan," kata Abigail Fraeman, rekan peneliti dan ahli geosains planet di JPL.

"Tapi sejak kami menemukan air di bulan, orang-orang berspekulasi bahwa mungkin ada lebih banyak variasi mineral daripada yang kita ketahui jika air bereaksi dengan bebatuan yang ada di sana," tandasnya.

Agar besi menjadi merah berkarat, dibutuhkan apa yang disebut dengan oksidator yakni molekul seperti oksigen, yang menghilangkan elektron dari bahan seperti besi. Akan tetapi, angin matahari, aliran partikel bermuatan yang terus menghantam bulan dengan hidrogen memiliki efek sebaliknya.

Hidrogen adalah peredam atau molekul yang yang mendonasikan elektron ke molekul lain. Tanpa perlindungan dari angin matahari ini, seperti medan magnet yang melindungi Bumi, karat seharusnya tidak dapat terbentuk di bulan. Akan tetapi, para ilmuwan berspekulasi itu terjadi mungkin berkaitan dengan planet Bumi.

Bulan tidak memiliki atmosfer sendiri untuk menyediakan oksigen dalam jumlah yang cukup, tetapi memiliki jumlah jejak yang disumbangkan oleh atmosfer bumi. Oksigen terestrial ini bergerak ke bulan sepanjang perjalanan medan magnet planet lain yang disebut magnetotail.

Pernyataan dari para peneliti menyebut bahwa magnetotail bumi dapat menjangkau hingga ke sisi dekat bulan, di mana lebih banyak hematit ditemukan. Terlebih lagi pada setiap bulan purnama.

Ketika waktu itu, magnetotail menghalangi 99 persen angin matahari dari ledakan bulan, menarik tirai sementara di atas permukaan bulan, memungkinkan periode waktu untuk pembentukan karat. Akan tetapi, masih ada satu bahan yang dibutuhkan agar karat terbentuk, itu adalah air.

Bulan sebagian besarnya tidak memiliki air kecuali air beku yang ditemukan di kawah bulan pada sisi terjauhnya. Namun, para peneliti menyatakan bahwa partikel debu yang bergerak cepat yang memborbardir bulan dapat membebaskan molekul air yang beku tersebut.

Partikel debu ini bahkan mungkin membawa molekul air itu sendiri dan dampaknya dapat menciptakan panas yang dapat meningkatkan laju oksidasi, "Penemuan ini akan membentuk kembali pengetahuan kita tentang wilayah kutub Bulan," kata Li.

Namun demikian, penelitian ini masih sebatas hipotesis dan dibutuhkan lebih banyak data untuk memahami dengan tepat mengapa bulan bisa berkarat. Hal yang lebih mengejutkan bahwa sejumlah kecil hematit telah ditemukan di sisi tejauh bulan, yang seharusnya terlalu jauh untuk oksigen bumi mencapai tempat itu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bumi bulan
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top