Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ekspedisi Laut Dalam Timur Australia Temukan 10 Spesies Baru

Tim sains Australia menemukan karang keras yang hidup di perairan dalam Australia timur. Mereka melihat ikan di mana mereka belum pernah menemukan sebelumnya, dan mengidentifikasi hingga 10 spesies ikan baru, siput, dan spons.
Lukas Hendra TM
Lukas Hendra TM - Bisnis.com 29 Juni 2020  |  17:55 WIB
Spesies baru yang ditemukan
Spesies baru yang ditemukan

Bisnis.com, JAKARTA—Ekspedisi bawah laut di timur Australia oleh para ilmuwan sukses mengidentikasi 10 species ikan baru, siput dan spons. Ini merupakan ekspedisi pertama di laut dalam Coral Sea.

Para ilmuwan yang bekerja secara jarak jauh dengan Schmidt Ocean Institute, satu-satunya ekspedisi sains di laut untuk terus beroperasi selama pandemi global, telah menyelesaikan pandangan pertama pada perairan dalam di Laut Koral (Coral Sea)yang belum pernah terlihat sebelumnya.

Tim sains Australia menemukan karang keras yang hidup di perairan dalam Australia timur. Mereka melihat ikan di mana mereka belum pernah menemukan sebelumnya, dan mengidentifikasi hingga 10 spesies ikan baru, siput, dan spons.

Kapal riset Schmidt Ocean Institute, Falkor --satu-satunya kapal penelitian filantropi sepanjang tahun di dunia-- menghabiskan 46 hari terakhir di salah satu kawasan lindung terbesar di dunia, Coral Sea Marine Park.

Tim ilmuwan Australia terhubung dari jarak jauh ke kapal dari rumah mereka, mengumpulkan peta dasar laut resolusi tinggi dan rekaman video laut dalam hingga 1.600 meter.

Pada laman Schmidt Ocean Institute mengungkapkan, ekspedisi itu dipimpin oleh kepala ilmuwan Robin Beaman dari Universitas James Cook. Ekspedisi ini memungkinkan tim untuk mengembangkan pemahaman yang lebih baik tentang perubahan fisik dan jangka panjang yang terjadi di terumbu karang lautan dalam. Ini menandai pertama kalinya wilayah tersebut dilihat, menggunakan robot bawah air (ROV) yang mengalirkan video berkualitas 4K secara real-time.

Upaya pemetaan yang luar biasa telah menerangi dasar laut yang kompleks dengan 30 atol dan bank karang besar, mengungkapkan ngarai bawah laut, ladang gundukan, terumbu karang yang tenggelam, dan tanah longsor.

Adapun, lebih dari 35.500 kilometer persegi dipetakan. Peta yang dibuat akan tersedia melalui AusSeabed, program pemetaan dasar laut nasional Australia, dan juga akan berkontribusi pada Proyek Nippon Foundation GEBCO Seabed 2030.

Hanya bagian-bagian yang lebih dangkal dari terumbu-terumbu ini yang telah dipetakan sebelumnya, dan sampai sekarang tidak ada data pemetaan terperinci tentang daerah yang lebih dalam.

"Ekspedisi ini telah memberi kami jendela unik ke dalam kondisi geologis di masa lalu dan saat ini, yang memungkinkan para ilmuwan dan pengelola taman untuk dapat melihat dan menceritakan kisah lengkap tentang lingkungan yang saling berhubungan," kata Beaman, di laman Schmidt Ocean Institute, dikutip Bisnis, Senin (29/6/2020).

Adapun video beresolusi tinggi itu dikumpulkan lebih dari 91 jam dengan robot bawah laut Falkor yang disebut sebagai SuBastian. Hasilnya, video tersebut tidak menunjukkan bukti pemutihan karang di bawah 80 meter.

"Kami tahu bahwa karang yang dangkal saat ini sedang menghadapi pemutihan massal tahap ketiga dalam lima tahun, jadi ini merupakan wawasan yang sangat berharga bagi para ilmuwan dan manajer untuk mengetahui seberapa dalam pemutihan itu meluas," kata Jyotika Virmani, direktur eksekutif Schmidt Ocean Institute .

Dia menambahkan bahwa penting untuk dicatatyakni karang yang ditemukan adalah khusus untuk habitat yang dalam ini dan tidak ditemukan di perairan dangkal. Ekspedisi ini, lanjutnya, adalah pertama kalinya spesies ini tercatat sangat berlimpah di Coral Sea.

Adapun, 14 penyelaman laut dalam bersejarah yang dilengkapi dengan SuBastian juga telah membantu memberikan pemahaman yang jauh lebih baik tentang kedalaman dan preferensi habitat komunitas terumbu karang dalam di Coral Sea.

Semua data yang dikumpulkan telah dibagikan secara publik melalui lebih dari 74 jam survei video dan sorotan tersedia di saluran dan situs web Schmidt Ocean Institute. Penyelaman dengan streaming langsung menciptakan platform online, yang menarik penonton dari seluruh dunia untuk menyaksikan spesies unik seperti hiu air dalam dan nautilus bilik - sepupu jauh untuk cumi-cumi - yang menggunakan propulsi jet untuk bergerak.

"Rekaman yang berasal dari penyelaman kami sangat mencengangkan. Teknologi telepresensi yang kuat dari Falkor telah memungkinkan para ilmuwan dari seluruh dunia untuk berkolaborasi dalam beberapa penemuan ini. Data ini akan sangat memajukan karakterisasi kawasan laut Australia yang besar dan penting secara ekologis," kata Virmani.

Kapal Riset Falkor akan kembali ke Coral Sea Marine Park untuk satu bulan penelitian tambahan pada akhir Juli. Schmidt Ocean Institute didirikan pada 2009 oleh Eric dan Wendy Schmidt untuk memajukan penelitian oseanografi melalui pengembangan teknologi inovatif, berbagi informasi dan komunikasi luas tentang kesehatan laut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

australia spesies langka
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top