Airy: Bisnis Hotel Virtual Masih Menjanjikan di Indonesia

Tingginya minat wisatawan di Indonesia terhadap hotel berbiaya murah, membuat bisnis hotel virtual dinilai masih menjanjikan.
Akbar Evandio
Akbar Evandio - Bisnis.com 13 Februari 2020  |  21:06 WIB
Airy: Bisnis Hotel Virtual Masih Menjanjikan di Indonesia
Ilustrasi - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Perusahaan rintisan yang bergerak di bidang operator hotel virtual (VHO) Airy optimistis bisnis layanan tersebut masih cukup menjanjikan di Indonesia

CEO Airy Louis Alfonso Kodoatie mengatakan belum lama ini perusahaanya melakukan studi terhadap minat masyarakat akan hotel atau akomodasi berbiaya murah di Indonesia. Adapun, dari hasil studi tersebut 54 persen persen wisatawan memilih hotel bujet lantaran keterjangkauan harga, dan disusul lokasi yang strategis (41 persen). 

“Kami optimistis bisnis startup hotel virtual operator di Indonesia yang menawarkan akomodasi beranggaran murah masih cukup menjanjikan di Indonesia. Ditambah lagi, pertumbuhan industri pariwisata Indonesia yang cukup signifikan dalam 5 tahun belakang, terangnya saat dihubungi Bisnis, Kamis, (13/2/2020).

Sementara itu, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) pada 2018 meningkat 12,37 persen menjadi 303,4 juta kali dibandingkan tahun sebelumnya. Bahkan dalam lima tahun, perjalanan wisnus telah meningkat lebih dari 21 persen.

Menurut Louis, faktor ini pun turut menjadikan bisnis hotel virtual operator dapat bertumbuh, tentunya jika dimanfaatkan dan dijalankan dengan strategi yang matang.

Sementara itu, saat ditanyakan mengenai konsep bakar uang untuk memberikan promo menarik yang selama ini menjadi rahasia umum bagi startup untuk untuk bertahan di pasar. Louis justru mengatakan bahwa pihaknya lebih fokus untuk memberdayakan para pemangku kepentingan di industri perhotelan.

“Promo menarik, memang menjadi andalan pemasaran dalam menarik minat masyarakat terkait sebuah produk. Namun bagi Airy, menjaga kualitas pelayanan dan kenyaman bagi para pengguna kami dan keberlangsungan usaha para mitra menjadi prioritas dalam mengembangkan bisnis ini,” ujarnya.

Dia mengatakan bahwa sebelum memilih hotel atau akomodasi, dibandingkan melihat promosi yang ditawarkan wisatawan Indonesia justru memberi pertimbangan yang cukup besar terhadap standar kebersihan sebuah akomodasi, serta nyaman tidaknya kamar yang tersedia.

Sementara itu, berdasarkan Startup Ranking,  Indonesia menempati peringkat kelima dunia dengan jumlah startup 2193 buat pada 2019. Indonesia dalam hal ini hanya berada di bawah Amerika Serikat, India dan Kanada. Indonesia berhasil menggunguli negara-negara maju lain seperti Australia, Jerman, dan Spanyol. Apalagi saat ini Indonesia sudah memiliki 4 startup unikorn dan satu yang dekakorn.

Louis mengakui bahwa saat ini pertumbuhan perusahaan rintisan atau startup di Indonesia memang mengalami lonjakan yang cukup besar dalam 5 tahun terakhir.

“Lebih dari 2.000 startup bermunculan dari berbagai sektor, bahkan diantara mereka sudah mendapatkan valuasi yang cukup besar. Ditambah lagi gerakan 1.000 startup yang dicanangkan pemerintah menjadi faktor pendukung pertumbuhan jumlah startup di Indonesia,” lanjutnya.

Meskipun terjadi lonjakan yang cukup besar tidak sedikit dari startup tersebut menghilang dari permukaan. Baginya, hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, seperti pendanaan yang tidak memadai, jenis produk yang belum diterima masyarakat serta kualitas sumber daya manusia (SDM) yang belum memenuhi standar.

“Untuk menghindari hal ini terjadi, sudah sebaiknya perusahaan rintisan mempersiapkan strategi untuk bisnis yang berkelanjutan tentunya berujung pada profitability [keuntungan],” terangnya.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
hotel, virtual, startup

Editor : Yustinus Andri DP
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top