Perang Harga Hantui Bisnis Video Berbasis Permintaan

Persaingan industri video berbasis permintaan (Video-on-Demand/VoD) diperkirakan makin ketat tahun ini, seiring dengan ekspansi pemain VoD asing yang kerap menawarkan harga layanan murah kepada pelanggan.
Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 27 Januari 2020  |  12:22 WIB
Perang Harga Hantui Bisnis Video Berbasis Permintaan
Netflix - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Persaingan industri video berbasis permintaan (Video-on-Demand/VoD) diperkirakan makin ketat tahun ini, seiring dengan ekspansi pemain VoD asing yang kerap menawarkan harga layanan murah kepada pelanggan.  

Country Head Hooq Indonesia Guntur Siboro mengatakan bahwa pertumbuhan bisnis video berbasis permintaan (Video-on-Demand/VoD) di Indonesia dipengaruhi  sejumlah faktor.

Pertama, kata Guntur, konten menarik dan baru. Masyarakat cenderung tertarik untuk mengonsumsi konten-konten yang segar dengan cerita yang menarik.

Adapun saat ini terdapat tiga genre cerita yang digemari di Indonesia yaitu drama, horror dan komedi.

Kedua, Pertumbuhan perekonomian. Dia mengatakan bahwa Bisnis VoD merupakan bisnis hiburan, yang merupakan kebutuhan tambahan bagi masyarakat.

“Kalau ekonominya jelek, pasti akan susah bertumbuh,” kata Guntur kepada Bisnis, Minggu (27/1/2020).

Adapun mengenai tantangan industri VoD pada tahun ini, kata Guntur, adalah ekspansi pemain asing yang kerap menawarkan harga kompetitif kepada pelanggan di Indonesia.

Saat ini Netflix, penyedia layanan VoD asal Amerika Serikat, menawarkan harga langganan  sebesar Rp49.000 kepada pelanggan, meskipun sejumlah layanan tidak dapat diakses.  

Kemudian, Amazone Prime membanderol layanannya dengan harga Rp85.000 per bulan, adapun jika ingin menggunakan operator Tri untuk menonton, hanya perlu membayar Rp75.000 sudah termasuk kuota data, telpon dan sms. Kemudian HBO Go bekerja sama dengan PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel) menawarkan harga berlangganan sebesar Rp60.000 per bulan.

“Pemain-pemain dunia masuk dan menurunkan harga, itu bisa memperbesar pasar tetapi harganya menurun jadi size industrinya bisa turun juga. Jumlahnya pelanggannya besar namun ARPUnya kecil maka bisa kecil juga industrinya,” kata Guntur.  

Dia mengatakan bahwa saat ini Hooq dalam menerapkan tarif ke pelanggan memiliki beberapa skema. Melalui kerja sama dengan Telkomsel, Hooq menawarkan harga langganan sebesar Rp34.500 untuk pelanggan pascabayar.

Kemudian, ada juga untuk pelanggan prabayar Telkomsel yang dibundling dengan harga paket data Telkomsel.

Adapun jika pelanggan ingin berlangganan sendiri, tidak ikut dengan skema operator, Hooq menawarkan harga langganan bulanan sebesar Rp69.000, kemudian untuk langganan mingguan sebesar Rp24.000 dan langganan harian sebesar Rp3.900.

Guntur belum dapat memberitahu jumlah pelanggan Hooq saat ini karena jumlahnya terus berubah-ubah. Namun untuk jumlah pengunduh (downloader) diperkirakan mencapai 50 juta pengunduh.

Sebelumnya, laporan Statista (2019) menyebut bahwa bisnis Video on Demand (VoD) di Indonesia diperkirakan mencapai US$290 juta pada 2020 dengan potensi lonjakan  pengguna sebesar  16,2 persen dibandingkan dengan 2019 kisaran usia 25 sampai 34 tahun. Sedangkan penetrasi pengguna layanan VOD akan mencapai 20 persen memasuki 2024.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
video, Netflix

Editor : Nancy Junita
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top