Penyelenggara Jaringan Dihantui Penurunan Permintaan Jaringan Tetap

Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (APJATEL) menilai bahwa peralihan dari jaringan tetap atau fixed line ke jaringan bergerak (wireless) menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi operator penyelenggara jaringan di tengah penurunan harga layanan yang terus terjadi.
Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 27 Januari 2020  |  06:34 WIB
Penyelenggara Jaringan Dihantui Penurunan Permintaan Jaringan Tetap
Kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika RI di Jakarta. -Bisnis.com - Samdysara Saragih

Bisnis.com, JAKARTA - Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (APJATEL) menilai bahwa peralihan dari jaringan tetap  atau  fixed line ke jaringan bergerak (wireless) menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi operator penyelenggara jaringan di tengah penurunan harga layanan yang terus terjadi.

Peralihan tersebut menandakan bisnis kabel -- yang merupakan salah satu bisnis perusahaan penyedia jaringan-- menjadi berkurang permintaannya bahkan hingga beberapa tahun ke depan.

Berdasarkan data Outlook Industri Telekomunikasi Indonesia 2019, disebutukan bahwa pemanfaatan fixed line untuk mendukung perangkat IoT dan layanan over-the-top (OTT), akan terus menurun porsinya. 

Fixed line tergantikan oleh kanal Low Power Wide Area (LPWA) dan seluler (NB-IoT) yang menunjukan tren peningkatan.

Pada 2015, pemanfaatan fixed line untuk perangkat IoT di global diperkirakan sebesar 15 persen, Wireless Local Area Network (WLAN) sebesar 72 persen, LPWA sebesar 1 persen dan seluler sebesar 12 persen.

Adapun total perangkat IoT di dunia pada 2015 diperkirakan mencapai 2,3 miliar perangkat.

Kemudian, pada 2021, diperkirakan porsi pemanfaatan fixed line untuk perangkat IoT menurun menjadi 9 persen, begitupun dengan WLAN yang turun menjadi 67 persen. Jaringan selular stagnan di 12 persen dan jaringan LPWA melesat menjadi 12 peren.

Ketua Umum Apjatel Arif Angga mengatakan bahwa kondisi yang terjadi di global, tidak jauh berbeda dengan di Indonesia. Perilaku masyarakat yang telah berubah membuat teknologi fixed line ditinggalkan oleh masyakarat.  

Dengan mobilitas yang tinggi, masyarakat mendambakan sebuah perangkat yang dapat terhubung dengan jaringan internet di manapun dan kapan pun. Hal tersebut tidak dapat dipenuhi oleh fixed line.

Kebutuhan terhadap perangkat IoT pun juga terus berkembang. Peralatan yang terhubung dengan internet tidak lagi menetap di satu tempat, namun terus bergerak seperti alat pelacak kendaraan, yang membutuhkan cakupan jaringan yang luas.  

“Orang sekarang memiliki mobilitas, kalau dahulu orang gemar main gim di komputer, sekarang di gawai sudah bisa. Industri komputer rumah mungkin sudah berubah, sekarang orang lebih suka menggunakan leptop atau gawai,” kata Angga kepada Bisnis, Minggu (27/1/2020).

Meski masih terdapat beberapa perusahaan masih menggunkan fixed line untuk mendukung operasional, kata Angga, untuk pasar ritel diperkirakan pemanfaatan fixe line makin menipis angkanya.

Angga menjelaskan bahwa redupnya pemanfaatan fixed line juga disebabkan oleh biaya penggelaran jaringan yang besar. Dia mengatakan bahwa umumnya satu wireless bisa menyalurkan internet  kepada puluhan atau ratusan perangkat dengan luasnya cakupan jaringan yang dimiliki.

“Simpelnya kalau fixed line itu lebih repot dan lebih banyak [kabel yang dibutuhkan]” kata Angga.

Angga menuturkan bahwa berkurangnya pemanfaatan fixed line hingga beberapa tahun ke depan, menambah  tantangan yang harus dihadapi para pemain penyelenggara jaringan.

Industri penyelenggara jaringan masih dihantui oleh harga layanan yang makin murah dan regulasi menggelar jaringan yang ketat, yang membuat industri penyelenggara jaringan telekomunikasi makin berat untuk maju.

Angga berharap pemerintah dapat memberi insentif atau ‘angin segar’ agar beban operator penyelenggara jaringan telekomunikasi dapat berkurang dan penetrasi jaringan dapat makin merata.

“Kan tidak pernah ada kabar mengenai insentif bagi industri penyedia jaringan, yang ada adalah [permintaan] penurunan kabel, regulator yang ini dan itu,” kata Angga.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
telekomunikasi, jaringan

Editor : Nancy Junita
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top