The Next Big Thing: Blockchain, Kecerdasan Buatan, dan AR

Miliarder terkondang seantero jagad, Bill Gates, pernah dibilang konyol gara-gara memprediksikan masa depan cerah internet. Di masa kini, inovasi atau ide macam apa yang dinilai bakal menjadi the next big thing?
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 08 Oktober 2019  |  17:06 WIB
The Next Big Thing: Blockchain, Kecerdasan Buatan, dan AR
Ilustrasi - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Miliarder terkondang seantero jagad, Bill Gates, pernah dibilang konyol beberapa dekade yang lalu gara-gara memprediksikan masa depan cerah internet.

Ya maklum saja, pada 1996, ketika Gates membuat prediksi gila-gilaan untuk internet dalam essay-nya berjudul “Content is King”, kecepatan koneksi sangat lambat. Hanya sekitar 1 persen dari jaringan dunia yang bisa dijelajahi secara online.

Coba tengok apa yang terjadi kini. Internet sudah menjadi salah satu kebutuhan vital. Sebagian orang sampai menganggapnya belahan jiwa. Kehadiran internet bisa lebih didambakan ketimbang pasangan.

Jika orang-orang zaman dulu bisa mengintip masa depan, mungkin mereka sudah selangkah lebih maju daripada Bill Gates. Nah, di masa kini, masih banyak inovasi yang keberadaannya belum benar-benar diperhitungkan.  

Sejumlah investor, pemodal, dan eksekutif teknologi terkemuka pun mengemukakan inovasi atau ide-ide yang dinilai bakal menjadi the next big thing di dunia, seperti dilansir melalui Bloomberg.

Ahn Le, Fintech Practice, Chinarock Capital Management Ventures

“Kita masih dini dalam kurva adopsi blockchain. Industri [fintech] akan terus melalui berbagai iterasi dimana killer app akan mendorong batas infrastruktur yang ada, dan permintaan itu akan menciptakan terobosan pada tingkat protokol,” tutur Ahn Le.

“Startup yang dapat meningkatkan pengalaman pengguna dan menyediakan layanan utama bagi pengembang, investor, dan pengguna akhir akan berhasil terlepas dari outcome rantai utama,” tambahnya.

Menurutnya, orientasi pelanggan yang mulus, antarmuka pengguna, keamanan serta privasi data dan aset pribadi, juga alasan yang tepat sasaran untuk menggunakan teknologi blockchain ataupun aset-aset kripto masih diperlukan baik di negara-negara berkembang maupun Amerika Serikat.

Nana Otsuki, Chief Analyst, Monex Inc.

Menurut Otsuki, seiring dengan bertambahnya usia masyarakat global, kita perlu berpikir untuk menawarkan peluang bisnis yang lebih kreatif bagi para kalangan lanjut usia.

“Beberapa orang mungkin berpikir tentang menulis novel, melakukan riset dan mengajar sejarah, atau pemrograman untuk aplikasi. Mereka dapat menyediakan layanan atau produk melalui internet, dan perusahaan dapat menawarkan platform untuk menghubungkan mereka,” terang Otsuki.

“Target pelanggan untuk produk-produk ini adalah para lansia. Mereka tahu apa yang diinginkan orang seusia mereka. Bisnis ini tidak hanya akan memberi fulus kepada generasi tua, tetapi juga motivasi untuk hidup lama dan sehat,” jelasnya.

Simon Loong, Founder dan CEO, Welab Holdings Ltd.

Dengan begitu banyaknya perangkat yang terhubung ke internet, orang-orang akan menghasilkan banyak data. Pada 2015, rata-rata orang menghasilkan sekitar 0,32 gigabyte per hari. Pada 2020, diperkirakan rata-rata orang akan menghasilkan 1,5 gigabytes per hari.

Oleh karenanya, menurut Loong, di dalam dunia sistem informasi yang kompleks dan platform atau jaringan yang terhubung saat ini, penting untuk mengeksplorasi solusi kreatif untuk mengekstraksi wawasan berharga dari data pengguna.

“Ini sekaligus untuk melindungi privasi data pengguna saat informasi bergerak melalui jaringan sistem,” tutur Loong.

Maaike Steinebach, General Manager, Visa Inc. Hong Kong dan Macau

Menurut Steinebach, seiring dengan laju percepatan inovasi, khususnya dalam bidang teknologi, perusahaan-perusahaan dapat mengabaikan pentingnya pengalaman pelanggan yang terbuka dan dapat dioperasikan.

Tantangan utama untuk fintech juga merupakan tantangan konsumen yaitu, bagaimana agar perusahaan dapat memperluas pilihan konsumen dalam hal pembayaran.

“Konsumen harus dapat membayar dengan metode pembayaran apapun yang mereka pilih, baik itu pembayaran tanpa kontak berstandar atau kode QR melalui dompet digital,” ungkap Steinebach.

“Agar hal itu terjadi, kita perlu memupuk ekosistem pembayaran loop terbuka, memungkinkan interoperabilitas yang penuh dan konsisten,” tambahnya.

Kevin Bong, Direktur Strategi Ekonomi dan Investasi, GIC

Dalam beberapa tahun terakhir, pasar negara berkembang (emerging market) telah menjadi pusat utama untuk inovasi dan adopsi teknologi, juga peluang investasi.

“Kekuatan emerging market adalah infrastruktur baru dengan ruang untuk pertumbuhan yang substansial, perusahaan yang sangat inovatif menangani tantangan, dan keterbukaan yang lebih besar terhadap eksperimen,” jelas Bong.

“Dalam jangka panjang, kami percaya bahwa disrupsi teknologi dapat menjadi lebih kuat di negara-negara berkembang, karena negara-negara ini memiliki lebih banyak kebutuhan yang tidak terpenuhi dan belum ditemukan serta lebih banyak peluang lompatan,” ujarnya.

Sebagai contoh, perbankan mikro dan e-commerce telah menjadi anugerah besar bagi usaha kecil dan konsumen, dengan memberi akses yang sangat dibutuhkan untuk pembiayaan dan marketplace baru.

Cheng Li, Chief Technology Officer, Ant Financial

“Kita hidup di era dimana semua cara kita hidup dan bekerja saat ini dapat dibuat jauh lebih efisien dan inklusif melalui teknologi digital. Banyak gagasan konvensional yang belum ditata kembali dalam beberapa dekade atau bahkan abad,” ujar Li.

“Ambil contoh, bagaimana kita membeli dan menjual, menerima dan membayar, dan bagaimana kita mentransfer uang secara global. Semua ini memiliki kemungkinan tersembunyi yang menunggu untuk direvolusi melalui digitalisasi,” terangnya.

Dengan langkah ini, bisnis akan dapat lebih mudah dilakukan di mana saja dan memberi peluang yang sama di seluruh dunia.

Hannah Qiu, Co-General Manager, Ping An Oneconnect

Menurut Qiu, data tak terstruktur saat ini berkontribusi lebih dari 80 persen dari seluruh data, tetapi sentralisasi dan tata kelola data tidak terstruktur dalam teks, suara, dan video belum mapan.

“Nilai penerapan data ini masih perlu dikembangkan lebih lanjut. Penelitian dan pengembangan teknologi AI (artificial intelligence/kecerdasan buatan) fundamental saat ini relatif kuat, tetapi penerapan teknologi AI ke dalam keuangan masih perlu upaya,” papar Qiu.

“Karena kurangnya talenta lintas batas dan sensitivitas data keuangan, pengembangan inovasi AI dan keuangan saat ini sangat terbatas. Penetapan standar dan sistem pencegahan risiko juga tertinggal,” imbuhnya.

Piyush Gupta, CEO, DBS Group Holdings Ltd.

Menurut Gupta, hal penting terkait kecerdasan buatan adalah augmented reality (AR) dan virtual reality (VR). Ketika AR digabungkan ke dalam virtual reality, kita dapat masuk ke dunia yang sama sekali berbeda.

“Itu bermakna karena kita dapat hidup di dunia alternatif sepanjang hidup kita. Saya tidak perlu berada (di suatu tempat) secara fisik. Anda dapat melihat AR saya dan saya dapat memberi tahu semua yang Anda butuhkan,” jelasnya.

“Saya tidak bergerak secara fisik. Jadi gagasan tentang hologram, gagasan tentang avatar, gagasan tentang orang virtual yang pergi ke mana-mana, kita bisa mewujudkannya,” pungkas Gupta.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
internet, kecerdasan buatan (AI), blockchain

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top