Palapa Ring Timur Jadi Andalan Ekspansi Jaringan Operator Telekomunikasi

Kehadiran Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) Palapa Ring Timur melengkapi proyek Palapa Ring yang digagas oleh Pemerintah diharapkan mampu mendorong penetrasi internet di wilayah timur Indonesia lebih cepat lagi.  
Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 18 September 2019  |  14:47 WIB
Palapa Ring Timur Jadi Andalan Ekspansi Jaringan Operator Telekomunikasi
Pekerja mengawasi proses bongkar muat kabel serat optik proyek Palapa Ring Paket Timur di Depo PT. Communication Cable Systems Indonesia (CCSI), Cilegon, Banten, Selasa (5/6/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA — Kehadiran Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) Palapa Ring Timur melengkapi proyek Palapa Ring yang digagas oleh Pemerintah diharapkan mampu mendorong penetrasi internet di wilayah timur Indonesia lebih cepat lagi.  

Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) telah merilis tarif untuk Palapa Ring Timur. Bakti membaginya menjadi 12 proyek, terdiri dari 8 proyek yang menggunakan serat optik dan 4 proyek yang menggunakan gelombang mikro. 

Berdasarkan dokumen yang diterima Bisnis.com, proyek 11 yang menghubungkan kota Ransiki, Raisei, Nabire, Botawa, Serui, Biak, Sorendiweri, Numfor dan Manokwari, menjadi proyek dengan tarif termahal.

Bakti memasang harga sewa senilai Rp69 juta per bulan untuk kapasitas sebesar 1 Gbps. Adapun, untuk 10 Gbps harga sewa per bulannya sebesar Rp552 juta. Ini merupakan tarif sewa termahal dibandingkan dengan proyek Palapa Ring lainnya.  

Direktur Utama Bakti Anang Latif mengatakan mahalnya harga sewa proyek 11 karena cakupan proyek dan kabel laut yang digunakan cukup banyak, sehingga membuat tarif menjadi mahal. Harga sewa per km per tahun untuk serat optik bawah laut diketahui senilai Rp36 juta, sedangkan untuk serat optik di darat hanya Rp12 juta.  

Palapa Ring Timur merupakan Proyek Palapa dengan jumlah kabel terpanjang dibandingkan dengan Palapa Ring Tengah dan Palapa Ring Barat, kabel Ring Timur membentang melewati lautan dan daratan.  Adapun, panjang kabel Palapa Ring Timur yaitu 6,878 km dengan perincian 4,426 km kabel laut dan 2,452 km kabel darat.

“Kabel laut itu investasi per kilometernya lebih mahal, bisa empat kali lebih besar per kilometernya dibandingkan dengan kabel darat,” kata Anang kepada Bisnis.com, Selasa (17/9/2019).

Anang mengatakan meskipun memiliki tarif yang relatif lebih mahal dibandingkan dengan Palapa Ring Barat dan Palapa Ring Tengah, para operator tetap antusias untuk menyewa Palapa Ring Timur.

Hingga saat ini, sekurangnya sudah terdapat 18 perusahaan yang menyampaikan minat untuk menyewa Palapa Ring Timur.

Tingginya jumlah peminat, sambungnya, karena cakupan Palapa Ring Timur lebih luas dibandingkan dengan proyek lain. Selain itu, dengan cakupan yang luas tersebut penetrasi operator ke wilayah timur pun akan makin mudah dan luas.

“Khusus timur karena jumlah kota yg dijangkau mencapai 51 kota/kabupaten, dibandingkan barat 12 kota/kabupaten, tengah 27 kota/kabupaten, sehingga dari sisi investasi, paket ini yang paling besar,” kata Anang.

Adapun, untuk Palapa Ring Barat jumlah penyelenggara telekomunikasi yang telah bekerja sama sebanyak 3 perushaan, proses menuju kontrak sebanyak 3 perusahaan, masa uji coba 2 perusahaan, dan berminat 5 perusahaan.

Kemudian, untuk Palapa Ring Tengah, jumlah perusahaan yang telah bekerja sama sebanyak 5 perusahaan, 3 perusahaan menuju kontrak, 4 perusahaan masa uji coba, dan 9 perusahaan mengaku berminat.

MINAT OPERATOR

Sementara itu, PT Smarfren Telecom Tbk. menjadi salah satu operator yang berencana menggunakan Palapa Ring Timur untuk ekspansi ke wilayah timur Indonesia.

VP Technology Relations and Special Project Smartfren Munir Syahda Prabowo  mengatakan ekspansi jaringan di wilayah timur akan dimulai tahun depan. Rencananya, pada awal 2020 jaringan Smartfren telah hadir di Kupang dan Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur.

Munir mengakui secara umum ekspansi jaringan Smartfren di timur mengikuti gelaran sistem komunikasi kabel laut (SKKL) Palapa Ring.

 “Secara umum iya [mengikuti pembangunan Palapa Ring] karena Palapa Ring kan jaringan tulang punggung,” kata Munir.

Presiden Direktur Smartfren Merza Fachys mengatakan dalam melakukan ekspansi ke timur menggunakan Palapa Ring, perseroan masih mengedepankan persaingan harga dengan memberi harga yang murah untuk mengambil pelanggan operator yang petahan.

Sementara itu, Direktur Utama PT Telekomunikasi Indonesia (persero) Tbk. Ririek Adriansyah mengatakan perseroan masih mempertimbangkan pemanfaatan Palapa Ring Timur. Dia mengatakan pemanfaatan Palapa Ring akan disesuaikan dengan kebutuhan perseroan.  

“Kami akan menggunalan Palapa Ring sesuai dengan kebutuhan kami, baik untuk main route maupun untuk memperkuat jaringan Telkom yang sudah ada,” kata Ririek.

Sementara itu, Wakil Direktur Utama PT Hutchison 3 Indonesia, Danny Buldansyah mengatakan perseroan belum berminat untuk ikut Palapa Ring Timur. Perseroan masih akan berhitung terkait dengan investasi yang digelontorkan dengan keuntungan yang dikantongi nanti.

Di samping itu, jelasnya, alasan lain perseroan tidak ikut Palapa Ring karena perseroan belum berencana menggelar jaringan di wilayah timur. “Belum termasuk rencana bisnis tahun ini,” kata Danny.

Senada, President Director PT Supra Primatama Nusantara (Biznet), Adi Kusma, mengatakan perseroan masih mengkaji mengenai rencana pemanfaatan Palapa Ring Timur, sebab Biznet tidak memiliki kantor cabang di sejumlah wilayah yang dilalui oleh Palapa Ring.

“Kami belum memberikan layanan, jika belum tidak ada kantor cabang. Karena kami kan harus bangun kabel di sana juga,” kata Adi.    

Sementara itu, Menteri Komunikasi dan Informatika menyambut positif mengenai rampungnya proyek Palapa Ring Timur. Rudiantara optimistis hadirnya Palapa Ring dari Barat sampai Timur Indonesia akan membuat harga layanan menjadi satu harga per Mbps nya.

Dia mengatakan hadirnya jaringan tulang punggung Palapa Ring seharusnya dijadikan insentif oleh operator yang menyewa, sebab harga sewa jaringan SKKL Palapa Ring lebih murah dibandingkan dengan harga sewa jaringan tulang punggun milik operator lain.   

“Tadinya di Maluku dan Papua lebih maha dibandingkan dengan di Jawa per Mbps nya, setelah hadirnya Palapa Ring, jika orang menelpon di Jawa ke Maluku harusnya sama,” kata Rudiantara.   

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
operator seluler, operator telekomunikasi, palapa ring, palapa ring paket timur

Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top