Interkoneksi Kunci Cegah Palapa Ring Nganggur

Insentif dari pemerintah dibutuhkan jika area di sekitar Palapa Ring belum masuk ke dalam hitung-hitungan komersial.
Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 17 Juni 2019  |  17:56 WIB
Interkoneksi Kunci Cegah Palapa Ring Nganggur
Ilustrasi kabel serat optik - Reuters/Mike Segar

Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah disarankan membangun infrastruktur tambahan untuk menghubungkan Palapa Ring dengan lokasi penduduk untuk mendorong pemanfaatan sistem kabel optik tersebut.

Ketua Program Studi Magister Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung (ITB) Ian Yosef M. Edward menilai kunci keberhasilan Palapa Ring adaalah interkoneksi dengan antaroperator layanan.

Dia menilai operator pasti bersedia membangun koneksi antara jaringan backbone dengan area layanan selama ada permintaan data yang potensial. Namun, insentif dari pemerintah dibutuhkan jika area di sekitar Palapa Ring belum masuk ke dalam hitung-hitungan komersial.

“Permasalahan di lapangan sebagian besar daerah terdepan, terluar dan tertinggal [3T] tidak layak secara bisnis seluler,  sehingga diperlukan insentif pemerintah untuk ketahanan dan pemerataan informasi,” kata Ian kepada Bisnis, Jumat (14/6/2019).

Dia menjelaskan permasalahan Palapa Ring adalah jarak dari backbone, landing fiber, hingga tower operator seluler sangat jauh dengan medan yang sulit sehingga secara capex dan opex sangat mahal jika operator seluler harus membangun sendiri, sedangkan jumlah trafik yang rendah.

Ian menjelaskan untuk mengatasi permalasalahan tersebut pemerintah dapat membangun kabel laut hingga ke pantai. Dari bibir pantai ke tower, pemerintah cukup menyediakan listrik yang  stabil.

“Kalau biaya interkoneksi tetap menjadi kendala insentif,  bisa dilakukan secara bisnis antaroperator seluler,” kata Ian.

Diketahui dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara komisi I dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) beberapa waktu lalu, rata-rata dari kuota 100 Gbps yang tersedia di Palapa Ring Barat hanya 21 Gbps yang terpakai dengan status kontrak, 2 Gbps terpakai dengan status ujicoba, 31 Gbps dengan status peminatan, dan 46 Gbps belum terpakai. 

Kemudian Palapa Ring Tengah, yang belum lama dikomersilakan, diketahui satu proyek sudah memiliki status kontrak dan sisanya dalam status peminatan dan belum berstatus, dengan rata-rata 22,5 Gbps dalam status peminatan dan sisanya 77,5 masih kosong atau belum terpakai.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
palapa ring

Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top