Diguyur Modal Rp47 Triliun, Tri Akan Akuisisi?

Ekuitas besar yang dimiliki Tri Indonesia saat ini, membuat perusahaan semakin fleksibel untuk melakukan aksi korporasi seperti merger dan akuisisi atau melakukan ekspansi usaha.
Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 29 April 2019  |  10:21 WIB
Diguyur Modal Rp47 Triliun, Tri Akan Akuisisi?
Logo Hutchison 3 Indonesia - H3I

Bisnis.com, JAKARTA — PT Hutchison 3 Indonesia dikabarkan menerima suntikan modal segar bernilai sekitar Rp47 triliun. Pelaku pasar punya beragam analisis tentang rencana penggunaan dana tersebut, mulai dari ekspansi jaringan hingga akuisisi operator seluler.

Sebelumnya, Wakil Presiden Direktur PT Hutchison 3 Indonesia Danny Buldansyah mengatakan bahwa Hutchison Asia Telecom (HAT) dan PT Tiga Telekomunikasi yang terafiliasi dengan pengusaha Garibaldi Thohir menyuntik modal segar sekitar Rp47 triliun dengan membeli saham baru yang diterbitkan oleh PT Hutchison 3 Indonesia (Tri Indonesia).

Victoria Venny, Analis MNC Sekuritas, mengatakan bahwa dalam hal keuangan PT Hutchison 3 Indonesia sulit ditebak karena tidak terdaftar di bursa dan tertutup. Meskipun demikian, dia menilai tambahan modal yang disuntikan oleh pemegang saham membuka peluang Tri Indonesia untuk merger dan akuisisi.

“Tidak menutup kemungkinan dana tersebut dipersiapkan untuk itu [merger dan akuisisi], tetapi harus dikonfirmasi kembali ke Tri Indonesia,” kata Venny kepada Bisnis, Kamis (25/4/2019).

Dia berpendapat, sejauh ini Tri Indonesia masih menjadi kompetitor yang diperhitungkan di industri telekomunikasi, terlebih dengan 37 juta pelanggan yang mereka miliki pada 2018 lalu dan kepemilikan beberapa spektrum yang strategis seperti di 1.800 Mhz dan 2.100 Mhz.

Direktur Institutional Equity Sales CGS-CIMB Securities Kartika Sutandi menilai dari total Rp47 triliun dana segar yang didapat oleh Tri Indonesia, mayoritas bersifat debt to equity conversion atau mengkonversi utang menjadi penyertaan modal. Sisanya, digunakan untuk biaya operasional dan belanja modal.

Kreditur Tri adalah CK Hutchison Holdings yang juga induk perusahaan. CK Hutchison Holdings menilai bahwa perusahaan Tri memiliki pembukuan yang kurang bagus. Meskipun demikian, secara nilai ekonomi, Tri punya prospek cerah pada masa depan.   

Tambahan modal yang diberikan oleh pemegang saham, sambungnya, bertujuan untuk memperbaiki pembukuan Tri sekaligus memperkuat ekuitas perusahaan. Di samping itu, sambungnya, penambahan modal juga menandakan bahwa pemegang saham melihat potensi besar pada pasar telekomunikasi di Indonesia saat ini.

Debt to equity conversion tujuannya memperkuat equity,” kata Kartika.

Lebih lanjut, dengan ekuitas besar yang dimiliki Tri Indonesia saat ini, membuat perusahaan semakin fleksibel untuk melakukan aksi korporasi seperti merger dan akuisisi atau melakukan ekspansi usaha.

Dia mengatakan CK Hutchison Holdings merupakan pemain besar di industri telekomunikasi sehingga tidak terlalu sulit menggelontorkan dana untuk mengakuisisi perusahaan telekomunikasi di Indonesia.

“Hutchison kan bermain juga di Asia, bagi mereka yang telah berpengalaman di Asia, melihat pasar Indonesia tidak terlalu sulit,” kata Kartika.

Dalam wawancara terakhir dengan Bisnis, Ketua Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), Ismail, mengatakan proses konsolidasi bisa berjalan menggunakan aturan yang sudah ada.

Namun, BRTI juga berusaha mempermulus proses konsolidasi dengan membuat aturan baru. Peraturan yang sedang disusun oleh BRTI mengarah kepada penjabaran pelaksanaan konsolidasi operator seluler. Ismail mengatakan nantinya setelah operator seluler berkonsolodasi, gabungan spektrum frekuensi operator seluler akan dievaluasi.

“Dievaluasi pasti, karena frekuensi itu bukan aset sehingga tidak serta merta ditransfer dalam konsolidasi. Harus dikembalikan dulu kepada pemerintah untuk dievaluasi. Dari hasil merger itu, kemudian ditentukan pantasnya dapat spektrum berapa,” kata Ismail.

Ismail menerangkan BRTI akan fokus pada penyusunan formula evaluasi frekuensi agar lebih transparan. Tujuannya agar perusahaan operator seluler dapat memprediksi kondisi pembagian spektrum pascakonsolidasi.

“Teman-teman bisa menghitung sendiri yang pasti dikaitkan dengan jumlah pelanggan dan investssi. Jumlah pelanggan yang akan dihandlingseberapa besar karena frekuensi itu kaya alat untuk menghandle layanan,” kata Ismail.  

Dalam sebuah pertemuan, Presiden Direktur dan CEO Hutchison Tri Indonesia, Cliff Woo mengatakan pihaknya sangat terbuka terkait rencana konsolodasi. Dia mengatakan konsolidasi bukanlah hal yang baru bagi Hutchison.  

"Di beberapa wilayah operasi, kami justru mengambil peran utama sebagai pembeli atau yang mengakuisisi operator seluler. Ini pengalaman kami di beberapa pasar di luar negeri," kata Woo.

Sementara itu, Wakil Presiden Direktur Tri Indonesia, Danny Buldansyah mengatakan, banyak faktor yang harus dipertimbangkan untuk melakukan konsolidasi.

Dia mengatakan, salah satunya terkait dengan sinergi antar perusahaan. Menurut Danny, sinergi yang terjadi antara dua perusahaan harus saling melengkapi baik dari sisi jaringan, pasar, organisasi, dan brand.

"Kalau misalnya coverage-nya di tempat yang sama persis itu sinerginya enggak ada, jadi kalau sinergi itu komplemen, yang satu kuat di Jakarta, satu di Surabaya,” kata Danny.

Kemudian sinergi organisasi, dia mengatakan dua organisasi yang disatukan harus memberi sinergi yang saling membantu bukan bertentangan.  Terakhir, sinergi brand, “Kalau yang satu kuat di milenial, jangan ambil yang kuat di milenial juga,” kata Danny.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
brti, hutchison 3

Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top