Aplikasi Tanijoy Beli Produk Petani di Atas HPP

Hingga kini, jumlah investor yang menanamkan modalnya di Tanijoy mencapai 1.270 orang, dengan total dana yang dikelola mencapai Rp8 miliar
Deandra Syarizka
Deandra Syarizka - Bisnis.com 28 Februari 2019  |  17:26 WIB
Aplikasi Tanijoy Beli Produk Petani di Atas HPP
CEO Tanijoy Muhammad Nanda Putra memberikan keterangan kepada wartawan, Kamis (28/02/2019) - Bisnis/Deandra Syarizka

Bisnis.com, JAKARTA — Tanijoy, perusahaan rintisan teknologi pertanian yang menghubungkan investor dengan mitra lahan dan mitra tani, berniat menjangkau hingga 26.000 petani di Pulau Jawa pada tahun ini.

CEO Tanijoy Muhammad Nanda Putra menjelaskan Tanijoy berdiri sejak 2017 ini bertujuan memotong rantai pasok distribusi yang panjang antara petani hingga konsumen. Selain itu, juga bertujuan untuk menyerap sekaligus memberikan kepastian harga  kepada para petani. Semua hal tersebut dicapai dengan menggunakan pendekatan teknologi dan digitalisasi.

Pihaknya juga menawarkan  layanan investasi proyek pertanian kepada para investor. Melalui situs web dan aplikasinya yang baru dirilis pada pekan lalu, para investor dapat menanamkan modalnya pada proyek pertanian yang dikerjasamakan dengan mitra lahan dan petani dengan imbal hasil tertentu dalam kurun waktu yang disepakati.  

Pihaknya pun menugaskan field manager yang bertugas mengawasi dan mendampingi petani selama proyek berjalan. Adapun hingga kini, jumlah investor yang menanamkan modalnya di Tanijoy mencapai 1.270 orang, dengan total dana yang dikelola mencapai Rp8 miliar

“Sekarang jumlah petani yang bekerja sama dengan kami sebanyak 1.950 petani, masih ada potensi  26.000 orang petani yang sedang kita data dan siap untuk mulai project,” ujarnya, Kamis (28/2/2019).

Dia menambahkan, saat ini Tanijoy fokus mengelola produk hortikultura, dengan mayoritas komoditas yang diproduksi berupa kentang, cabai, sayur mayur, dan jagung.  Untuk menyerap produksi hasil pertanian, pihaknya pun bekerja sama dengan sejumlah pasar induk seperti Pasar Kramat Jati serta sejumlah pasar di Jawa Tengah, Temanggung, dan Yogyakarta.

Lebih lanjut, pihaknya mengaku pernah mencoba untuk menyuplai produk ke supermarket dan pabrik. Namun, dia menilai sistem pembayaran yang cukup lama membuat pihaknya saat ini fokus untuk menyuplai ke pasar dengan daya serap yang besar.

“Pasar tradisional serapannya banyak, sehari bisa 50 ton, 100 ton, bayarnya 3 hari paling lama. Salah satu keuntungan Tanijoy karena kita punya partner di pasar yang memang sudah kenal, sehingga dapat mengurangi risiko permainan harga,” ujarnya.

Untuk menjamin keuntungan yang diperoleh petani, pihaknya pun melakukan negosiasi dengan buyer untuk harga beli di atas Harga Pokok Penjualan (HPP). Sebagai gambaran, dia menyebut saat ini harga jual kentang berkisar Rp4.000 per kilogram, padahal biasanya dapat menyentuh Rp8.000 per kilogram. Sementara itu, HPP untuk kentang saat ini sebesar Rp4.500 per kilogram.

“Ya sudah kita nego ke buyer kasih harga Rp5.500 per kilogram. Minimal petani dapat untunglah,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
StartUp, agritech

Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup