RELOKASI PABRIK INTI butuh dana Rp100 miliar

 
News Editor | 26 April 2012 15:30 WIB

 

BANDUNG: PT Industri Telekomunikasi Indonesia (Inti) siap memindahkan lokasi pabrik mereka di Jalan Moh.Toha Bandung ke dua lokasi berbeda. Rencana ini merespons permintaan Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan yang menilai lahan PT Inti saat ini kurang produktif.
 
Direktur Utama PT INTI Irfan Setiaputra mengatakan pihaknya sudah menghitung biaya relokasi pabrik sebesar Rp 100 miliar. “Namun angka ini belum kita detilkan,” kata Irfan kepada Bisnis
 
Dia menambahkan BUMN itu memiliki pilihan dua lokasi pabrik, sehingga belum bisa memberikan detilnya kebutuhan dana untuk relokasi pabrik.
 
Pilihan lahan pertama adalah  lahan Inti di Palasari, Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung yang sudah ada namun belum dimanfaatkan. “Lokasi di sana masih bisa kita pakai, cuma butuh beberapa perbaikan,” katanya. 
 
Adapun pilihan  lokasi kedua berada di Kabupaten Karawang. Dengan angka Rp100 miliar, menurut Irfan jika pabrik pindah ke Palasari maka pihaknya tidak memerlukan ongkos pindah.  “Kalau Palasari tidak perlu keluarkan biaya lain karena itu lahan kita,” katanya.
 
Angka Rp 100 miliar pun menurutnya berlaku untuk lokasi pabrik di Karawang. “Karawang angkanya belum dihitung dengan banyak hal, ongkos pindah termasuk tempat layak huni untuk karyawan dan keluarganya,” paparnya. 
 
Saat ini Inti memiliki 700 orang karyawan. Kepindahan Inti ke Palasari menurutnya jauh lebih mudah ketimbang di lokasi di luar Bandung. 
 
“Untuk alasan penjagaan kontrol dan fasilitas manufaktur kita manfaatkan yang ada di sini dulu. Secara teori, ini dulu untuk gedung perkantoran, pabriknya di sana,” katanya. 
 
Lahan Palasari sendiri butuh perbaikan karena berada di lokasi yang rawan banjir.
 
Irfan menambahkan selain masalah biaya, Inti juga masih menunggu petunjuk dari Kementerian BUMN soal siapa yang tertarik dengan gedung yang saat ini ditempati. “Mau dijualkah? Ke swasta atau BUMN? Siapa yang mau ambil alih ini belum ada pembicaraan,” katanya.
 
Menurut Irfan sebetulnya gedung yang dipakai saat ini relatif baru. “Gedung ini baru berdiri tahun 90. Artinya kalau mau yang ambil gedung ini harus bisa memfungsikan gedung ini,” katanya. 
 
Rencananya, gedung tersebut akan ditawarkan terlebih dahulu ke BUMN. “Kalau tidak ada yang pas kita tunggu arahan (Kemeneg BUMN) untuk memberikan gedung ini ke swasta,” katanya.
 
Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan dua pekan lalu menilai lahan Inti kurang produktif. Padahal, menurutnya lahan yang diduduki saat ini memiliki potensi, harga, dan nilai yang luar biasa. 
 
"Kita coba agar PT Inti bisa bertahan dengan lahan yang luas itu dimanfaatkan untuk hal lain yang lebih penting. Saya sudah meninjau PT Inti  dan melihat lahannya kelas satu di Bandung. Menurut orang bisnis seperti saya, lahan itu tidak tepat digunakan untuk merakit barang elektronik," kata Dahlan.
 
Menurutnya, kegiatan merakit dan merangkai perangkat elektronik seperti yang dilakukan PT INTI sekarang, bisa dikerjakan di Purwakarta, Sukabumi, atau lahan lain yang harganya masih murah.
 
"Sehingga saya sampaikan ke direksi PT Inti apa tidak perlu dipikirkan lahan itu sebaiknya untuk apa yang bagi memberi nilai tambah bagi kota bandung dan bagi perusahaan," katanya.
 
Ia menilai INTI sebaiknya memiliki pabrik di luar kota. "Lahan itu mahal banget, sayang dipakai untuk itu," katanya. (sut)

Sumber : Wisnu Wage Pamungkas

Tag :
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top