Investasi Apple di RI Rendah, Menkominfo: Vietnam Beri Tax Holiday 50 Tahun

Rika Anggraeni
Jumat, 19 April 2024 | 16:11 WIB
CEO Apple Inc. Tim Cook memeberikan keterangan pers dengan didampingi oleh Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita, dan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Budi Arie Setiadi usai bertemu usai melakukan pertemuan dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Merdeka, Rabu (17/4/2024). JIBI/Akbar Evandio
CEO Apple Inc. Tim Cook memeberikan keterangan pers dengan didampingi oleh Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita, dan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Budi Arie Setiadi usai bertemu usai melakukan pertemuan dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Merdeka, Rabu (17/4/2024). JIBI/Akbar Evandio
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mengungkap alasan di balik rendahnya investasi yang ditanamkan Apple di Indonesia dibandingkan Vietnam, disebabkan negara tersebut menawarkan tax holiday hingga 50 tahun.

Perlu diketahui, CEO Apple Tim Cook menanamkan investasi senilai Rp1,6 triliun untuk membangun empat akademi Apple Developer Academy di Indonesia, yaitu Jakarta, Surabaya, Batam, dan teranyar adalah Bali. Nilai investasi yang digelontorkan Apple lebih rendah dibandingkan Singapura dan Vietnam

Di Vietnam, investasi yang dikucurkan Tim Cook mencapai US$15,84 miliar atau setara Rp256,22 triliun (kurs jisdor Rp16.176 per dolar AS). Sedangkan di Singapura, Apple berkomitmen untuk menggelontorkan investasi senilai US$250 juta atau sekitar Rp4 triliun.

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Budi Arie Setiadi mengatakan bahwa investasi Apple di Tanah Air belum sepenuhnya digelontorkan oleh raksasa teknologi asal Amerika Serikat (AS).

“Belum [semua]. Banyak orang yang tidak paham kalau investasi manufaktur Vietnam itu tax holiday 50 tahun. Kita mau tidak? Itu Vietnam kasih insentifnya agak bombastis, tetapi kan semua negara punya kepentingan,” kata Budi saat ditemui di Kementerian Kominfo, Jakarta, Jumat (19/4/2024).

Di Vietnam, Budi mengatakan bahwa investasi yang digelontorkan Apple itu telah menciptakan sekitar 200.000 lapangan kerja.

Sementara di Indonesia, Budi menuturkan bahwa pemerintah masih mempertimbangkan guyuran insentif yang akan diterima Apple untuk menanamkan investasinya di Indonesia.

“Kalau kita kan masih mikir, mesti gimana, nanti kan bukan urusan saya juga itu, itu urusan Menkeu, investasi, perindustrian, karena Vietnam menawarkan [insentif] luar biasa, tapi kan kita sebagai negara bangsa harus hitung dong,” ujarnya.

Budi menambahkan bahwa Vietnam menhadi salag negara yang bisa ditiru Indonesia dari segi insentif. 

“Vietnam contohnya itu, ya tidak apa-apa, kita mah pokoknya ikut saja, selama negara yang putuskan, kita ikut. Tetap mau saya kasih perbandingan, kalau di Vietnam itu tax holiday 50 tahun,” tambahannya.

Sebelumnya, pemerintah telah membuka rencana membuat insentif untuk merayu Apple menanamkan investasinya di Indonesia.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan pemerintah siap memberikan insentif jika Apple mau berinvestasi di Indonesia.

Dalam unggahan video di akun Instagram pribadinya, @luhut.pandjaitan, Menko Luhut mengatakan bahwa pemerintah menawarkan beragam macam insentif, termasuk biaya masuk Apple.

“Dia [Apple] kan ada barang yang kita belum bisa produksi dan kita butuh untuk memproduksi suatu barang. Ya, ngapain kita pajakin? Kalau kita pajakin itu barang kan akhirnya produknya nggak mau masuk,” ujar Luhut, Kamis (18/4/2024).

Nantinya, Luhut menjelaskan Indonesia bisa mencontoh insentif yang diberikan India dan Thailand untuk Apple dengan tetap menyesuaikan terhadap regulasi yang ada.

“Tetapi kalau aturan itu menghambat, kita memang harus ganti. Jadi kita kadang-kadang membuat aturan yang mengikat diri kita sendiri sehingga kita jadi tidak kompetitif,” tambahnya.

Menurutnya, dengan adanya persaingan maka menciptakan efisiensi sehingga Indonesia bisa lebih kompetitif dalam berbagai bidang, baik regional maupun global.

“Jadi intinya semua [tentang] persaingan dan persaingan itu akibatnya efisiensi. Efisiensi itu akan membawa Indonesia lebih kompetitif di berbagai bidang ke depannya,” tandasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Penulis : Rika Anggraeni
Editor : Leo Dwi Jatmiko
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper