Indosat (ISAT) Ungkap Satelit Pesaing Starlink Milik Elon Musk

Rika Anggraeni
Kamis, 18 April 2024 | 19:13 WIB
Logo Starlink pada salah satu satelit orbit rendah/dok. tangkapan layar SpaceX
Logo Starlink pada salah satu satelit orbit rendah/dok. tangkapan layar SpaceX
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — PT Indosat Tbk. (ISAT) atau Indosat Ooredoo Hutchison menilai pemain dengan satelit Very Small Aperture Terminal (VSAT) akan menjadi pesaing Starlink milik Elon Musk ke Indonesia, dibandingkan pemain selular.

VSAT sendiri merupakan jaringan komunikasi yang mengandalkan orbitan satelit sebagai media transmisi di luar bumi, demikian yang dikutip dari Linknet pada Kamis (18/4/2024).

Hal itu diungkapkan Director & Chief Business Officer IOH Muhammad Danny Buldansyah saat ditemui di Gedung Indosat, Jakarta, Kamis (18/4/2024).

“Menurut saya yang paling banyak kompetisi [Starlink] yang paling banyak head-to-head-nya dengan penyelenggara dari VSAT, bukan dengan selular,” kata Danny.

Menurutnya, pemain selular bisa menggunakan layanan dari satelit orbit bumi rendah alias Low Earth Orbit Satellite (LEO). “Tetapi dalam hal saingan head-to-head tepatnya Starlink akan bersaing dengan penyelenggara VSAT,” ujarnya.

Namun, Danny menyampaikan bahwa masuknya satelit internet Starlink ke Indonesia tetap harus mematuhi peraturan yang telah ditetapkan di Indonesia.

Emiten telekomunikasi bersandi saham ISAT itu menilai bahwa dalam hal produk internet, kehadiran Starlink juga menjadi saingan bagi perusahaan untuk beberapa produk.

“Menurut saya saingan itu akan muncul terus, baik itu dari Starlink atau manapun. Tetapi selama itu mematuhi aturan yang berlaku Indonesia, kita sama-sama akan berkompetisi dalam bentuk service, harga, maupun covarage,” tuturnya.

Lebih lanjut, Dany juga menyampaikan bahwa tidak boleh adanya keberpihakan jika Starlink resmi beroperasi di Indonesia.

“Kelihatannya Starlink ini belum selesai semua izin-izinnya, sehingga belum bisa jalan, menurut saya itu tugasnya baik Kementerian untuk melihat akses kepada Starlink lebih transparan saja,” ujarnya.

Danny menambahkan bahwa dampak dari masuknya satelit milik Elon Musk ke Indonesia tergantung dari harga yang ditawarkan Starlink.

Sekadar informasi, biaya langganan Starlink dipatok Rp750.000 per bulan. Namun, harga layanan internet Elon Musk itu belum termasuk biaya lainnya, seperti perangkat keras yang dibanderol Rp7,8 triliun.

“Ini yang FTTH [Fiber To The Home] instalasi nggak sampai sejuta, ya, dianalisa saja, apakah akan berkompetisi [dengan Starlink]? Menurut saya tidak,” tuturnya.

Meski begitu, Danny menyampaikan bahwa setelah kehadiran Starlink, akan ada satelit orbit rendah seperti OneWeb, Kuiper, maupun satelit LEO lainnya yang akan menjadi saingan para pemain.

“Sekarang apakah pemerintah membolehkan semua produk di dunia masuk ke RI atau akan disaring? Misalnya, boleh cuma dua, supaya nggak ada predatory pricing segala macam, yang kuat makan yang menang, banting harga, kualitas anjlok,” imbuhnya.

Untuk itu, menurut Danny, pemerintah harus menyusun regulasi yang jelas agar industri telekomunikasi. “Tetapi saya mendukung adanya teknologi seperti Starlink untuk menjangkau yang kita sendiri kita tidak bisa jangkau seperti daerah rural,” imbuhnya.

Namun, Danny meminta agar semua penyelenggara telekomunikasi memiliki kesempatan yang sama dalam meski Starlink hadir di Indonesia, sehingga adil bagi semua pihak.

“Pada intinya kita bersaing, yang penting secara regulasi kita ada di level playing field yang sama,” pungkasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Penulis : Rika Anggraeni
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper