MNC Group Ungkap Biang Kerok Penurunan Bisnis Penyiaran

Crysania Suhartanto
Senin, 18 Maret 2024 | 20:42 WIB
Ilustrasi Gedung MNC Group/mncfinance.com
Ilustrasi Gedung MNC Group/mncfinance.com
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Konglomerasi media MNC Group mengaku migrasi analog switch off (ASO) tidak terlalu mengganggu bisnis perusahaan.

Director Corporate Secretary MNC Group Syafril Nasution mengatakan perusahaan memang sedikit kesulitan pasca-ASO yang membuat jumlah multiplexing (MUX) yang disediakan pemerintah terbatas dan membuat perusahaan terpaksa menyewa dari penyelenggara lain. 

“Industri pertelevisian MNC Group tidak mengalami masalah hanya karena terbatasnya MUX yang disediakan pemerintah, sehingga MNC terpaksa sewa MUX dari penyelenggara lain,” ujar Syafril kepada Bisnis, Senin (18/3/2024).

Sebagai informasi, Direktur Penyiaran Kemenkominfo Geryantika Kurnia mengatakan mulai tanggal 12 Agustus 2023, seluruh masyarakat Indonesia secara resmi sudah menikmati era baru TV digital Indonesia. 

Namun, di sisi lain, inovasi tersebut sempat membuat beberapa pihak memprediksi industri penyiaran akan mengalami penurunan pendapatan dari belanja iklan/adex tv menjadi 30%. Hal ini bahkan dipercaya akan terjadi hingga 5 tahun ke depan. 

Lebih lanjut, Syafril mengatakan industri televisi masih memiliki banyak potensi di 2024. MNC Group, kata Syafril, juga menayangkan berbagai program baru, termasuk Piala Euro. 

Kemudian, Syafril juga mengatakan ada sejumlah program Ramadan yang ditayangkan, yang dapat meningkatkan nilai dari perusahaan televisi yang berada di bawah naungan MNC Group.

Hal tersebut berupa Hafiz Indonesia, Festival Hafiz, Tabligh Akbar, dan Bunga-bunga Hati. Selain itu, adapula program andalan MNC Group seperti turnamen bulutangkis All England dan sejumlah program lainnya.

Syafril mengatakan, optimistis ini juga bertambah karena MNC Group tetap konsisten mengikuti perkembangan teknologi yang ada selama ini. “Tetap konsisten mengikuti perkembangan teknologi,” ujar Syafril.

Sebelumnya, Wakil Menteri Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) Nezar Patria juga sempat mengatakan bahwa pelaku industri televisi harus merumuskan ulang strategi bisnis setelah ASO.

Terlebih, kata Nezar, kehadiran platform digital bukan hanya mendistribusikan ulang konten yang ada di televisi, tetapi sudah menjadi bagian dari produksi konten yang bersaing dengan yang dihasilkan televisi.

Namun, Wamen Nezar Patria optimistis sektor industri hiburan akan bisa berkembang sebagai salah satu disrupsi bagi televisi siaran, termasuk dengan kehadiran teknologi artificial intelligence.

Data Statista pada 2023 menunjukkan pengguna layanan televisi secara global diproyeksikan akan mencapai 5,7 miliar pengguna di tahun 2027, atau setara dengan pertumbuhan tahunan 3,66% pada periode 2023-2027.  

Kondisi itu berkontribusi pada revenue industri TV dan video di tingkat global yang diperkirakan tumbuh per tahunnya sebesar 3,04% pada periode 2024-2028, atau mencapai US$805,2 miliar atau Rp12.643 triliun dengan segmen periklanan sebagai sektor yang tumbuh signifikan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper