PHK Startup Ramai Awal Tahun Ini, Ekspansi Salah Kaprah Jadi Biang Kerok

Crysania Suhartanto
Rabu, 24 Januari 2024 | 18:06 WIB
Ilustrasi badai PHK yang menerjang perusahaan teknologi dan startup. Dok. JIBI
Ilustrasi badai PHK yang menerjang perusahaan teknologi dan startup. Dok. JIBI
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA -  Kesalahan strategi serta jor-joran dalam ekspansi membuat perusahaan rintisan atau startup melakukan efisiensi besar-besaran, termasuk memangkas jumlah karyawan.

Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda mengatakan ekspansi itu yang kemudian gagal membawa profit bagi perusahaan, padahal investor sudah mulai selektif memberikan pendanaan, terutama di 2023.

“Ekspansi bisnis besar-besaran menjadi beban bagi perusahaan. Sudah bisa dipastikan startup digital tersebut akan melakukan efisiensi hingga menutup usahanya,” ujar Huda kepada Bisnis, Rabu (24/1/2024).

Diketahui, pendanaan untuk perusahaan rintisan di kawasan Asia Tenggara tercatat turun 56% pada semester I/2023. Deal Street Asia dalam laporannya menyebut, startup di wilayah ini mendapatkan 403 kesepakatan pendanaan ekuitas dengan total hasil US$4,2 miliar pada semester I/2023. 

Sementara itu, Indonesia tengah menghadapi penurunan volume kesepakatan yang konsisten selama empat kuartal terakhir. Pada kuartal II/2023, Indonesia mencatat volume transaksi kuartalan terendah sejak kuartal IV/2020.

Padahal Huda mengatakan, seharusnya para modal ventura juga bertanggung jawab akan keberlangsungan startup digital, karena sejak awal kemitraan setelah penyuntikan dana adalah pendampingan.

Sebenarnya, Huda mengatakan, setelah menyuntikan dana, modal ventura kerap meletakan orang dari perusahaannya di jajaran C level atau komisaris untuk memberikan pendampingan. Namun, Huda merasa proses tersebut kerap tidak optimal terhadap startup Tanah Air. 

Menurutnya, masih banyak modal ventura yang mempercayakan segalanya pada perusahaan setelah melakukan penyuntikan dana. 

“Namun, saya rasa proses tersebut belum berjalan optimal. Banyak PMV [perusahaan modal ventura] yang begitu pendanaan lepas tangan atau divestasi investasinya,” ujar Huda. 

Padahal, Huda mengatakan saat tersebut merupakan saat krusial perusahaan untuk berkembang dan mencari pendanaan kembali, karena dana suntikan yang bisa habis sewaktu-waktu.

“Yang pasti ketika sudah mendapatkan pendanaan, startup digital pun harus mencari pendanaan kembali karena secara cashflow belum mampu membiayai operasional secara mandiri,” ujar Huda. 

Sebagai informasi, di awal 2024, Indonesia dikejutkan dengan tutupnya dan PHK beberapa startup fintech, yakni Zenius, Xendit dan Flip. Menariknya, ketiga startup ini sama-sama baru memperoleh pendanaan di 2022. 

Zenius sempat mendapatkan dana dengan jumlah yang tidak disebutkan dari modal ventura milik Telkom MDI Venture. Lalu, Flip juga mendapat pendanaan Seri B putaran kedua yang dipimpin oleh Tencent dengan nilai US$55 juta atau Rp811 miliar.

Sementara Xendit pada kuartal II/2022 juga mendapatkan pendanaan seri D dengan total US$300 juta atau senilai Rp4,3 triliun yang dipimpin oleh Coatue dan Insight Partner.

Ritme serupa juga ditemui pada akhir 2023, startup edutech Halodoc melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawan untuk jumlah yang tak disebutkan, hanya 4 bulan setelah mendapat pendanaan Seri DI U$100 juta atau Rp1,5 triliun dari Astra. 

Editor : Kahfi
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper