Badai PHK Menghantam di Awal Tahun, Bisnis Startup Sampai Kapan Bertahan?

Crysania Suhartanto
Jumat, 12 Januari 2024 | 07:00 WIB
Ilustrasi perusahaan rintisan (startup) melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK)/Dice Insights
Ilustrasi perusahaan rintisan (startup) melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK)/Dice Insights
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Memasuki awal 2024, sejumlah perusahaan startup mengumumkan langkah pemutusan hubungan kerja (PHK) atau penutupan layanan. Kondisi ini memunculkan pertanyaan mengenai prospek resiliensi bisnis startup ke depan.

Kabar teranyar PHK datang dari raksasa e-commerce, Lazada. Startup asal China ini dikabarkan melakukan PHK terhadap 30% karyawannya di Asia Tenggara. Belum diketahui apakah bisnis di Indonesia turut terdampak.

Menurut laporan The Edge Singapore, diketahui Lazada mempekerjakan sebanyak 10.000 karyawan di enam negara, meliputi Filipina, Indonesia, Thailand, Vietnam, Malaysia dan Singapura.

Langkah yang diambil oleh Lazada disebut-sebut akibat agresivitas TikTok Shop di pasar Asia Tenggara dan transformasi Alibaba untuk lebih efisien.

Mengutip Strait Times, juru bicara Lazada mengatakan bahwa efisiensi karyawan ini dilakukan agar cara kerja menjadi lebih gesit dan efisien, guna memenuhi kebutuhan bisnis di masa depan.

“Transformasi ini mengharuskan kami menilai kembali kebutuhan tenaga kerja dan struktur operasional kami untuk memastikan bahwa Lazada berada pada posisi yang lebih baik dalam mempersiapkan masa depan bisnis dan sumber daya manusia kami,” ujar juru bicara tersebut, dikutip dari Strait Times, Kamis (4/1/2023).

Selanjutnya, ada startup penyedia jasa pembayaran PT Fliptech Lentera Inspirasi Pertiwi atau Flip yang melakukan PHK untuk menjamin keberlangsungan bisnis.

CEO dan Co-founder Flip Rafi Putra Arriyan mengatakan, langkah PHK tidak terlepas dari kondisi ekonomi global yang tidak menentu sehingga berdampak negatif pada arus kas perusahaan.

“Kondisi ekonomi global hingga saat ini masih tidak menentu. Hal tersebut memberikan dampak kepada hampir semua lini usaha, tidak terkecuali Flip. Demi menjamin keberlangsungan bisnis Flip, manajemen dengan berat hati melakukan reorganisasi internal,” ujar Rafi dalam keterangan yang diterima Bisnis, Rabu (10/1/2023).

Keterangan tersebut memang tidak memberitahukan jumlah karyawan yang terdampak. Namun, Rafi mengaku semua pihak yang terdampak akan diberikan kompensasi secara adil sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Sementara itu, startup edukasi-teknologi [edutech] Zenius mengumumkan tutup sementara usai 20 tahun beroperasi di Indonesia.

“Kami mengambil langkah strategis untuk menghentikan operasi secara sementara, tetapi kami menjamin bahwa kami tidak akan berhenti berusaha untuk menjalankan dan mewujudkan visi untuk merangkul Indonesia yang cerdas, cerah, dan asik,” tulis dalam keterangan resmi Zenius.

Manajemen Zenius menyatakan bahwa keputusan perusahaan diambil akibat tantangan operasional. Padahal sebagaimana diketahui, pada 2009, startup edutech ini sempat mendapat pendanaan dari Northstar Group, modal ventura yang dinahkodai Patrick Walujo sebesar US$20 juta.

Kemudian 13 tahun berselang, MDI Ventures, modal ventura milik Telkom, kembali menyuntikan pendanaan untuk jumlah yang tak disebutkan. Pendanaan tersebut digunakan untuk mendukung pengembangan lebih lanjut dan perluasan ekosistem pembelajaran Zenius.

Prospek Bisnis Startup

Asosiasi Modal Ventura untuk Startup Indonesia (Amvesindo) meyakini masa depan bisnis startup masih prospektif dan terbuka lebar. Namun, hal ini juga tergantung pada kemampuan startup dalam beradaptasi dengan kondisi pasar.

Amvesindo memandang PHK yang menyelimuti sejumlah perusahaan startup pada awal tahun ini tidak selalu mencerminkan tren sepanjang tahun.

Bendahara Amvesindo Edward Ismawan Wihardja mengatakan, masih banyak startup lain yang mungkin berkembang di sektor-sektor yang memang menjanjikan.

“Jadi, masa depan startup secara umum masih terbuka lebar, tergantung pada bagaimana mereka menyesuaikan strategi mereka dengan kondisi pasar,” ujar Edward kepada Bisnis, Kamis (11/1/2023).

Lebih lanjut, Edward mengatakan, perubahan iklim industri juga dapat terjadi dengan adanya pemulihan ekonomi, perubahan di pasar, ataupun inovasi baru. Kendati demikian, Edward juga mengaku iklim investasi global saat ini masih belum pasti. Investor masih berhati-hati terkait kondisi ekonomi global, tren industri, serta kebijakan moneter.

“Investor mungkin memilih strategi yang lebih konservatif dalam jangka pendek tetapi tetap terbuka untuk peluang jangka panjang,” ujar Edward.

Oleh karena itu, bagi startup, kata Edward, perusahaan harus dapat menavigasi tantangan ini dengan efektif, lebih kuat, dan adaptif. Menurutnya, penting bagi startup untuk tetap fokus pada value creation dan menjaga kesehatan keuangan mereka.

Sebelumnya, Edward pernah mengatakan tren investasi pada 2024 akan lebih menyasar startup yang sudah mengarah ke profit dan bukan yang mengandalkan inovasi dan bakar uang. Menurutnya, investor akan lebih tertarik pada startup yang sudah matang daripada perusahaan tahap awal.

“Ada tren untuk berinvestasi pada startup yang tidak hanya menunjukkan inovasi, tetapi juga memiliki jalur yang jelas menuju profitabilitas,” ujar Edward kepada Bisnis, Senin (1/1/2024).

Dengan demikian, Edward mengatakan, pada 2024 investor akan cenderung mencari startup yang dapat menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan risiko pengembangan perusahaan.

Adapun. Edward mengatakan. sektor yang akan paling banyak disasar secara global adalah bidang seputar kecerdasan buatan (AI), energi terbarukan, dan blockchain. Sementara di Indonesia, kata Edward, sektor cukup menarik adalah sektor yang berhubungan dengan lingkungan, masyarakat, hingga iklim.

Halaman:
  1. 1
  2. 2

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper