Jobstreet Sebut AI Justru Buka Lebih Banyak Peluang Pekerjaan

Crysania Suhartanto
Rabu, 18 Oktober 2023 | 21:53 WIB
Kecerdasan buatan. /Youtube
Kecerdasan buatan. /Youtube
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Kehadiran kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) disebut akan melahirkan lebih banyak peluang pekerjaan bagi masyarakat, alih-alih menghilangkannya. Masyarakat diminta untuk tidak khawatir. 

Indonesia Country Marketing Manager Jobstreet by Seek Sawitri mengatakan manusia jauh lebih pintar daripada robot, sehingga akan tercipta pekerjaan-pekerjaan baru.

“Manusia dapat membuat pekerjaan. Mereka dapat mulai membuat (pekerjaan baru),” ujar Sawitri dalam paparannya di Techinasia Conference, Rabu (18/10/2023).

Selain itu, menurutnya banyak aspek yang dimiliki manusia tetapi tidak dimiliki robot. Mulai dari kreatifitas, kecerdasan emosional, pemecahan masalah yang kompleks, dan pembuatan keputusan.

Oleh karena itu, Sawitri menyebutkan nantinya bisa ada pekerjaan baru seperti pengembang kecerdasan buatan, kreatifitas, ataupun penjamin keamanan AI. 

Jadi, sebenarnya dengan keberadaan kecerdasan buatan, kata Sawitri, banyak pekerjaan baru yang dapat tercipta. 

Selain itu, Sawitri mengatakan di tengah musim dingin teknologi pada saat ini, jumlah pekerjaan justru mengalami peningkatan 19 persen. 

“Waktu itu kita selalu berasumsi tentang kembalinya dunia (startup) teknologi, ya, sekarang (startup) teknologi sudah kembali,” ujar Sawitri. 

Sementara itu, laporan dari Organisasi Kerja sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) memperlihatkan data lain. OECD menyatakan lebih dari seperempat atau 27 persen pekerjaan manusia akan tergantikan dengan kecerdasan buatan (AI). 

Sedihnya, OECD pun menyatakan bahwa ini baru permulaan dampak AI pada pasar kerja, karena revolusi AI yang masih ada di dalam tahap awal. 

Sekretaris Jendral OECD, Mathias Cormann pun menyatakan bahwa pemerintah harus bersiap untuk membantu pekerja yang terdampak sekaligus memanfaatkan peluang yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan. 

“Bagaimana AI pada akhirnya akan mempengaruhi pekerja di tempat kerja dan apakah manfaatnya akan lebih besar daripada risikonya, akan bergantung pada tindakan kebijakan yang kami ambil,” ujar Cormann dalam konferensi pers-nya.

Menariknya, kabar ini tidak sepenuhnya mengejutkan. Pasalnya, diskusi terkait kecerdasan buatan yang dapat mengambil alih pekerjaan manusia sudah ada sejak ChatGPT dan AI generatif lainnya diperkenalkan di dunia. 

Alhasil karena kecanggihan teknologi tersebut, sejumlah pekerjaan yang rutin, berulang, manual, berketerampilan rendah, dan risiko tinggi akan memiliki peluang terbesar untuk diotomatisasi. 

“Pekerjaan dengan risiko tertinggi yang menggunakan keterampilan rendah akan mudah untuk diotomatisasi,” ujar survei OECD. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper