Kontribusi 5G Tembus Rp202.828 T, Kemenkominfo Ingin Lelang 700 MHz Akhir 2023

Crysania Suhartanto
Kamis, 21 September 2023 | 20:12 WIB
Tanda 5G dipasang di belakang jejaring kabel telekomunikasi di MWC Barcelona di Barcelona, Spanyol, Senin (25/2/2019)./Bloomberg-Angel Garcia
Tanda 5G dipasang di belakang jejaring kabel telekomunikasi di MWC Barcelona di Barcelona, Spanyol, Senin (25/2/2019)./Bloomberg-Angel Garcia
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menyiapkan pita frekuensi 700 MHz sebagai spektrum frekuensi baru, yang salah satunya tujuannya untuk 5G. Rencananya lelang 700 MHz digelar akhir 2023.

Dalam pemaparannya, Direktur Penataan Sumber Daya Kemenkominfo Denny Setiawan menyampaikan ada sejumlah tantangan dalam akselerasi 5G di Indonesia. 

Denny mengaku saat ini jaringan 5G masih menggunakan spektrum frekuensi radio existing, yang menyebabkan operator seluler masih berbagai kapasitas dan trafik layanan. 

"Kemenkominfo berencana untuk merilis pita frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz di akhir tahun 2023 ataupun awal tahun 2024," tulis Kemenkominfo dalam pemaparannya, Kamis (21/9/2023). 

Selain itu, Denny juga melihat penggelaran fiber optik (FO) masih sangat mahal dan terkendala perizinan. Adapun sebagian besar fiber optik juga ada di kota besar dan belum merata.

Dengan demikian, sebenarnya Kemenkominfo juga tengah mengkaji terkait insentif pajak, PNPB, ataupun retribusi daerah.

Lebih lanjut, Denny memandang biaya PNBP BHP frekuensi masih relatif membebani terhadap komponen regulatory cost serta biaya investasi jaringan 5G yang terhitung cukup mahal. Alhasil, Kemenkominfo berusaha untuk memproses revisi PP PNBP agar dapat memberikan faktor pengurang dari BHP frekuensi.

 Kemudian, terakhir Denny melihat kebutuhan yang begitu besar dari vertical industri terkait 5G. Oleh karena itu, Kemenkominfo tengah mengkaji potensi trial use case 5G dengan industri vertikal hingga pengembangan 5G innovation center.

Sementara itu, Senior Director Government Affairs Qualcomm Nies Purwati mengatakan hal tersebut dikarenakan adanya jaringan 5G yang akan menunjang kinerja kecerdasan buatan (AI) yang dapat membuat pekerjaan lebih efisien dan produktif.

Oleh karena itu, sejumlah negara seperti Malaysia, Thailand, Brunei dan Singapura, sudah mulai membuat perencanaan perkembangan 5G. 

Adapun Indonesia, kata Nies, walaupun terlambat bukan berarti Indonesia tidak bisa. Menurutnya, Indonesia masih memiliki waktu untuk mengejar ketertinggalan tersebut. 

“Walaupun saat ini Indonesia masih belum merilis 5G spektrum, kita belum terlambat. Kita masih bisa ada waktu untuk mengejar ketertinggalan,”’ ujar Nies.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper