Starlink Elon Musk Disebut Berpeluang Kolaborasi dengan Indosat (ISAT) & XL Axiata (EXCL)

Leo Dwi Jatmiko
Senin, 28 Agustus 2023 | 09:56 WIB
Ilustrasi starlink
Ilustrasi starlink
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menyatakan bahwa satelit orbit bumi rendah (LEO) Starlink milik Elon Musk harus bekerja sama dengan operator telekomunikasi di dalam negeri jika ingin memberi layanan ke Indonesia.

Kerja sama tidak hanya dengan Telkom, juga berpeluang dengan Indosat, XL Axiata, dan Smartfren

Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kemenkominfo Usman Kansong mengatakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan perusahaan telekomunikasi asing yang ingin beroperasi di Indonesia harus bekerja sama dengan operator telekomunikasi Indonesia dalam negeri. 

Starlink, lanjutnya, sudah masuk dan bekerja sama dengan Telkomsat, anak usaha PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. Jadi tidak boleh mereka langsung masuk dan beroperasi di Indonesia. 

“[Starlink kerja sama dengan ISAT dan XL] Bisa saja yang penting itu kan soal di bisnisnya, bisa saja. Yang jelas Starlink harus bekerja sama dengan operator dalam negeri tidak bisa langsung ke pelanggan,” kata Usman kepada Bisnis, Senin (28/8/2023). 

Dia mencontohkan kerja sama yang terjalin antara penyedia layanan over the top (OTT) di video hiburan HBO dan CNN. Keduanya telah bekerja sama dengan Indovision, Transvision, dan lain sebagainya.

Dengan kerja sama tersebut, maka tayangan di HBO dapat diminati oleh pelanggan Indovision dan Tranvision. 

Menurut Usman dalam menjalin kerja sama Starlink tentu akan melihat kesepakatan bisnis, jangkauan dan faktor-faktor lain sehingga kerja sama saling memberi keuntungan. 

“Bisnis dealnya seperti apa? jangkauannya bagaimana? itu kan faktor-faktor yang membuat operator luar bekerja sama dengan operator dalam negeri,” kata Usman. 

Sebelumnya, Satelit orbit bumi rendah milik SpaceX Elon Musk, Starlink, dinilai menjadi salah satu ancaman bagi industri telekomunikasi ke depan. Sama seperti layanan over the top (OTT) lainnya seperti Google, Whatsapp, dan lain-lain, Starlink berisiko menggerus pasar telekomunikasi dalam negeri. 

Dalam sebuah acara diskusi, Presiden Direktur& CEO XL Axiata Dian Siswarini mengatakan kehadiran internet Elon Musk, berisiko memakan bisnis operator seluler. 

Dian berpendapat pada masa yang akan datang, pangsa pasar milik operator seluler direbut oleh Elon Musk, yang saat ini memiliki layanan Starlink, yang beroperasi tanpa terikat banyak peraturan seperti operator seluler. 

“Kalau Elon Musk muncul, sudah masuk ke sini [Indonesia] dan kita tidak mendapatkan playfield yang sama. Wah, itu mungkin bisa dibabat habis,” ujar Dian.  

Starlink merupakan bagian dari Space X yang menyediakan akses internet melalui jaringan satelit pribadi. Setelah bertahun-tahun mengembangkan SpaceX dan mendapatkan hampir US$885,5 juta dana hibah dari Komisi Komunikasi Federal pada akhir tahun 2020 Starlink memulai langkah pertamanya pada 2021. 

Pada Januari 2021, Starlink meluncurkan 1.000 satelit ke orbit adapun sampai dengan April 2022, Starlink telah meluncurkan lebih dari 2.000 satelit. Starlink memakai konstelasi satelit low-earth (LEO) dengan jarak sekitar 550 km, di mana jangkauan ini termasuk kecil dibandingkan satelit lainnya. 

Dikarenakan satelit Starlink berada di orbit rendah, waktu perjalanan data dari dan ke pengguna juga jauh lebih rendah daripada layanan internet satelit biasa. Sehingga latensi juga jauh lebih rendah di mana dapat memberikan internet lebih cepat dibanding provider satelit lainnya. 

SpaceX sempat mengeklaim bahwa Starlink mampu menawarkan kecepatan internet hingga 350 Mbps di setiap penerbangan. Namun sumber lain menyebut kecepatannya hanya 160 Mbps, bagaimana pun kecepatan tersebut masih 8 kali lebih cepat dari rata-rata kecepatan layanan seluler Indonesia yang menurut laporan Ookla sekitar 21 Mbps (unduh). 

Adapun layanan Starlink dikabarkan memiliki harga sekitar US$200 per bulan, dengan biaya peralatan penangkap sinya starlink sebesar US$599.  Sementara itu, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin saat negosiasi dengan Elon Musk, menawar harga layanan internet Starlink menjadi sekitar US$50 atau empat kali lebih murah untuk memberi akses internet ke 2.200 puskesmas dengan koneksi internet buruk dan 745 puskesmas tanpa internet.  

"Saya bilang kita tidak semiskin Rwanda, yang bayar US$50. Harusnya sekitar Rp300.000—Rp750.000 per bulan untuk mbps. Kami maunya sekitar segitulah, di bawah US$50 dengan kapasitas yang cepat sekali," kata Budi saat itu.

Penulis : Leo Dwi Jatmiko
Editor : Leo Dwi Jatmiko
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper