Menilik Starlink Elon Musk yang Disebut Bakal Babat Habis Industri Telko

Leo Dwi Jatmiko
Sabtu, 26 Agustus 2023 | 11:01 WIB
Roket SpaceX Falcon 9 yang membawa 58 satelit untuk jaringan internet broadband Starlink SpaceX dan tiga satelit pencitraan bumi SkySat diluncurkan di Tanjung Canaveral, Florida. Reuters
Roket SpaceX Falcon 9 yang membawa 58 satelit untuk jaringan internet broadband Starlink SpaceX dan tiga satelit pencitraan bumi SkySat diluncurkan di Tanjung Canaveral, Florida. Reuters
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Satelit orbit bumi rendah milik SpaceX Elon Musk, Starlink, dinilai menjadi salah satu ancaman bagi industri telekomunikasi ke depan. Sama seperti layanan over the top (OTT) lainnya seperti Google, Whatsapp, dan lain-lain, Starlink berisiko menggerus pasar telekomunikasi dalam negeri. 

Dalam sebuah acara diskusi, Presiden Direktur& CEO XL Axiata mengatakan kehadiran internet Elon Musk, berisiko memakan bisnis operator seluler. 

Dian berpendapat pada masa yang akan datang, pangsa pasar milik operator seluler direbut oleh Elon Musk, yang saat ini memiliki layanan Starlink, yang beroperasi tanpa terikat banyak peraturan seperti operator seluler.

“Kalau Elon Musk muncul, sudah masuk ke sini [Indonesia] dan kita tidak mendapatkan playfield yang sama. Wah, itu mungkin bisa dibabat habis,” ujar Dian. 

Dian berharap pemerintah dapat membuat regulasi yang lebih berpihak pada operator seluler dalam negeri, sehingga keberlangsungan hidup industri operator seluler dapat tetap terjamin.

Lantas Sebenarnya Seberapa Canggih Starlink? 

Starlink merupakan bagian dari Space X yang menyediakan akses internet melalui jaringan satelit pribadi.

Setelah bertahun-tahun mengembangkan SpaceX dan mendapatkan hampir US$885,5 juta dana hibah dari Komisi Komunikasi Federal pada akhir tahun 2020 Starlink memulai langkah pertamanya di tahun 2021.  

Pada Januari 2021, Starlink meluncurkan 1.000 satelit ke orbit adapun sampai dengan April 2022, Starlink telah meluncurkan lebih dari 2.000 satelit. 

Starlink memakai konstelasi satelit low-earth (LEO) dengan jarak sekitar 550 km, di mana jangkauan ini termasuk kecil dibandingkan satelit lainnya. Dikarenakan satelit Starlink berada di orbit rendah, waktu perjalanan data dari dan ke pengguna juga jauh lebih rendah daripada layanan internet satelit biasa. Sehingga latensi juga jauh lebih rendah di mana dapat memberikan internet lebih cepat dibanding provider satelit lainnya.

SpaceX sempat mengeklaim bahwa Starlink mampu menawarkan kecepatan internet hingga 350 Mbps di setiap penerbangan. Namun sumber lain menyebut kecepatannya hanya 160 Mbps, bagaimana pun kecepatan tersebut masih 8 kali lebih cepat dari rata-rata kecepatan layanan seluler Indonesia yang menurut laporan Ookla sekitar 21 Mbps (unduh).  

Adapun layanan Starlink dikabarkan memiliki harga sekitar US$200 per bulan, dengan biaya peralatan penangkap sinya starlink sebesar US$599. 

Sementara itu, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin saat negosiasi dengan Elon Musk, menawar harga layanan internet Starlink menjadi sekitar US$50 atau empat kali lebih murah untuk memberi akses internet ke 2.200 puskesmas dengan koneksi internet buruk dan 745 puskesmas tanpa internet. 

"Saya bilang kita tidak semiskin Rwanda, yang bayar US$50. Harusnya sekitar Rp300.000—Rp750.000 per bulan untuk mbps. Kami maunya sekitar segitulah, di bawah US$50 dengan kapasitas yang cepat sekali," kata Budi saat itu. 

Budi melanjutkan bahwa upaya koneksi internet tersebut diharapkan dapat membantu proses skrining vaksinasi, imunisasi, timbangan antoprometri untuk kebutuhan stunting sehingga dapat dilakukan secara digital. Mengingat saat ini, layanan tersebut tidak bisa terdigitalisasi karena tidak ada koneksi yang mumpuni. 

Dengan jaringan layanan internet milik Elon Musk tersebut, Budi menyebut puskesmas terpencil bakal memiliki kapasitas internet hingga 200 mbps download dengan harga jauh lebih murah daripada provider lokal.

Ekspansi Starlink di Afrika

Sementara itu di Afrika, Starlink terus melebarkan sayapnya. Dilansir dari Connecting Africa, Sabtu (26/8/2023) pada Januari 2023 Starlink dikabarkan telah beroperasi di Nigeria. 

Perusahaan juga mengumumkan akan memasuki pasar Kenya pada kuartal II/2023. Pada Oktober 2022 , Otoritas Regulasi Komunikasi Malawi (MACRA) memberikan izin kepada Starlink untuk beroperasi. Lisensi tersebut mengikuti jejak Nigeria dan Mozambik, yang melakukan hal serupa pada Mei lalu.

Sementara itu di Afrika Selatan sempat dikabarkan bahwa Starlink ditolak. Namun, Menteri Komunikasi dan Informatika Afrika Selatan membantah hal tersebut dan menjelaskan bahwa Starlink hanya belum mengurus izin. 

Jika perusahaan tersebut pada akhirnya mengajukan permohonan dan diberikan izin untuk beroperasi, maka perusahaan tersebut akan bersaing dengan penyedia layanan Internet lokal serta operator seluler yang menawarkan layanan Internet cepat di Afrika Selatan. 

Starlink telah menyediakan akses Internet ke sekitar 46 negara di seluruh dunia dan memiliki 1 juta pelanggan pada Desember 2022. Perusahaan telah memiliki konstelasi sekitar 3.000 satelit yang dikerahkan dan diperkirakan akan mencapai 4.200 pada 2023.

Indonesia

Di Indonesia, Starlink milik Elon Musk resmi masuk dan mendapatkan izin beroperasi pada Juni 2022. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mengatakan bahwa PT Telkom Satelit Indonesia (Telkomsat), anak usaha PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. membeli kapasitas dari Starlink, perusahaan SpaceX milik Elon Musk. 

Telkomsat mendapatkan Hak Labuh Satelit Khusus Non Geostationer (NGSO).  Starlink pun akan digunakan untuk keperluan layanan backhaul Telkom Group. 

Merujuk pada Permen Kominfo Nomor 21 tahun 2014, Hak Labuh (Landing Right) Satelit adalah hak untuk menggunakan Satelit Asing yang diberikan oleh Menteri kepada Penyelenggara Telekomunikasi atau Lembaga Penyiaran.  

Sehingga nanti pada praktiknya, satelit Starlink kemungkinan akan disewa oleh Telkomsat untuk memberikan bentuk layanan jaringan internet tertutup ke pelanggan korporat.

Terbaru,Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves), Luhut Binsar Pandjaitan menyebut Starlink Elon Musk akan beroperasi di Timur Indonesia saja. 

“Oleh karena itu kita sepakat dengan Elon untuk Starlink masuk di Indonesia bagian timur,” kata Luhut di Instagram pribadinya (@Luhut.pandjaitan), Selasa (15/8/2023).

Luhut menuturkan dengan masuknya Starlink nantinya akan membuat desa-desa yang ada dapat terhubung dengan Internet. Dengan tersambungnya Internet di desa-desa akan mempermudah pihak pemerintah untuk memberikan pelayanan kesehatan dan pendidikan lebih baik.

“Nah ini yang membuat kami berdua sepakat dan kami akan lapor ke Presiden mengenai ini, cost-nya lebih murah sehingga Starlink ini bisa kita gunakan karena dia low orbit, low earth orbit (LEO),” ujarnya.

Penulis : Leo Dwi Jatmiko
Editor : Leo Dwi Jatmiko
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper