Nokia dan Ooredoo Qatar Sukses Demonstrasikan Panggilan Data 5G SA

Crysania Suhartanto
Selasa, 11 Juli 2023 | 17:18 WIB
Tanda 5G dipasang di belakang jejaring kabel telekomunikasi di MWC Barcelona di Barcelona, Spanyol, Senin (25/2/2019)./Bloomberg-Angel Garcia
Tanda 5G dipasang di belakang jejaring kabel telekomunikasi di MWC Barcelona di Barcelona, Spanyol, Senin (25/2/2019)./Bloomberg-Angel Garcia
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Nokia, perusahaan teknologi informasi asal Finlandia, dan Ooredoo Qatar berhasil mendemonstrasikan panggilan data pertama dalam mode 5G SA (Standalone Core) di Doha, Qatar.

Mode 5G SA ini akan memberikan pengalaman pengiriman suara, video, dan data dengan lebih cepat, dengan latensi yang rendah. Hal ini pun menjadi salah satu solusi untuk penerapan teknologi-teknologi terbaru di dunia, seperti augmented reality, virtual reality, hingga industri 4.0.

Uji coba tersebut memanfaatkan Server Nokia AirFrame, Cloud Mobility Manager, Cloud Mobile Gateway, dan CloudBand Application Manager. 

Chief Business Officer Ooredoo Qatar Thani Al Malki mengatakan salah satu gawai yang dapat menangkap panggilan tersebut adalah Nokia 5G Standalone Core yang memiliki kemampuan Voice over New Radio (VoNR).

“Kami senang dengan keberhasilan penyelesaian panggilan data pertama dalam mode 5G SA di Qatar, uji coba penting untuk menuju peluncuran penuh layanan 5G SA dan dengan pengaktifan perangkat VoNR,” ujar Thani, dikutip Selasa (11/7/2023).  

Sementara itu Kepala Layanan Cloud dan Jaringan (CNS) Pasar MEA Nokia Samar Mittal menyatakan panggilan suara berbasis 5G SA akan menjadi solusi paling terdepan dan dipastikan dapat menjadi pengalaman terbaik bagi para pelanggannya.

“Selain itu, 5G Standalone Core kami menghadirkan layanan panggilan suara dan video berkualitas tinggi melalui jaringan 5G-nya,” ujar Thani. 

Diketahui, 5G SA bekerja dengan membagi jaringan, sehingga dapat memberikan layanan yang berbeda untuk setiap segmen perusahaan.

Dengan demikian, 5G SA ini akan memungkinkan Ooredoo Qatar menciptakan cara untuk memperoleh pendapatan baru, yakni bermitra dengan perusahaan yang menginginkan lebih banyak data yang dikirim bersamaan dengan lebih cepat. 

Sebelumnya, riset Counterpoint memperkirakan bahwa pada 2023 5G akan tumbuh di pasar negara berkembang. Ini akan mendorong transisi berkelanjutan dari 5G non-standalone (NSA) ke 5G SA.

5G non-standalone adalah arsitektur 5G yang menggunakan infrastruktur 4G untuk menghadirkan layanan 5G.

Kelebihan arsitektur ini investasi yang digelontorkan operator lebih mini. Sementara itu kekurngannya adalah kualitas layanan tidak sebagus SA karena bergantung dengan infrastruktur 4G. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper