Pertama Kali Sejak 13 Tahun, Pasar Ponsel Pintar Indonesia Turun

Khadijah Shahnaz Fitra
Jumat, 17 Februari 2023 | 18:09 WIB
Pengunjung berada di gerai ponsel pintar di sebuah pusat perbelanjaan, di Jakarta, Rabu (20/6/2018)./JIBI-Dwi Prasetya
Pengunjung berada di gerai ponsel pintar di sebuah pusat perbelanjaan, di Jakarta, Rabu (20/6/2018)./JIBI-Dwi Prasetya
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Pasar ponsel pintar Indonesia mengalami penurunan untuk pertama kalinya, setelah tumbuh 13 tahun berturut-berturut.

Berdasarkan International Data Corporation’s (IDC) Worldwide Quarterly Mobile Phone Tracker, pasar smartphone Indonesia turun sebesar 14,3 persen year-over-year (yoy) menjadi 35 juta unit pada 2022. Penurunan ini menghapus seluruh pertumbuhan yang terjadi selama 3 tahun terakhir, seiring dengan turunnya market size ke level tahun 2018-2019.

Pada kuartal IV/2022, pasar smartphone mengalami penurunan sebesar 17,6 persen yoy dengan sedikit pertumbuhan 3,9 persen secara kuartalan yang mencapai 8,5 juta unit.

"Pertumbuhan secara kuartalan ini terjadi karena adanya beberapa peluncuran produk baru dan kegiatan promosi, walaupun permintaan konsumen masih lemah," ujar Associate Market Analyst IDC Indonesia Vanessa Aurelia melalui keterangan resmi yang diterima Bisnis, Jumat (17/2/2023).

Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan dan penawaran memberikan tekanan besar pada 2022, dengan hambatan pada rantai pasok yang menjadi faktor dominan pada semester I/2022 dan penurunan daya beli konsumen pada semester II/2022. 

Faktor ekonomi seperti inflasi memiliki pengaruh besar terhadap daya beli konsumen, terutama pada masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah, yang lebih mengutamakan pemenuhan kebutuhan primer mereka. Ada juga faktor peningkatan pengeluaran di aspek-aspek lain, seperti transportasi, seiring dengan kembalinya masyarakat ke kegiatan pre-pandemi mereka.

Dari sisi segmen harga, ponsel  dengan harga kurang dari US$200 masih menguasai pasar pada 2022, berkontribusi sekitar 74 persen dari keseluruhan pasar smartphone Indonesia. Segmen inilah yang paling terdampak pada 2022, dengan penurunan sebesar 19,8 persen yoy, yang dipengaruhi faktor-faktor yang disebutkan di atas. 

Di sisi lain, pada segmen mid-range (US$200<US$400) dan mid-to-high-end (US$400<US$600) bertumbuh dengan tingkat gabungan sebesar 3,6 persen YoY, yang dipimpin oleh merek OPPO.

Perangkat pada kategori harga yang lebih tinggi (>US$600) mencatatkan performa yang lebih baik lagi pada 2022, dengan pertumbuhan sebesar 36,9 persen yoy, yang dipimpin oleh merek Apple dan Samsung.

Pertumbuhan penjualan pada kanal online melambat seiring berlanjutnya kegiatan offline dan adanya peralihan fokus para pemain eTailers ke profitabilitas. 

Adapun, IDC memperkirakan pertumbuhan pada 2023 akan flat atau skenario yang lebih positif pertumbuhan di angka satu digit, di tengah dunia berjuang melawan inflasi, pergerakan kurs, ketegangan geopolitik, dan kebijakan-kebijakan moneter.

Vanessa menjelaskan, konsumen akan lebih hati-hati dengan pengeluaran mereka dan perusahaan-perusahan smartphone juga akan lebih hati-hati dalam menyusun strategi, sambil mengatur ulang pendekatan mereka terhadap pasar. 

Ponsel pada segmen bawah akan tertekan disebabkan peralihan pengeluaran konsumennya ke area lain. Lain halnya dengan segmen-segmen premium yang diperkirakan akan lebih tahan banting karena adanya tendensi dari sisi konsumen untuk memilki ponsel yang lebih tahan lama dan memiliki spesifikasi lebih baik. 

"Di sisi lain, vendor-vendor smartphone juga berfokus untuk memperluas portofolio kelas atas mereka,” kata Vanessa.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper