Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Mengintip Beragam Alutsista Buatan Anak Bangsa di Indo Defence Expo & Forum 2022

Berikut daftar alutsista buatan anak bangsa yang ditampilkan di Indo Defence Expo dan Forum 2022.
Mia Chitra Dinisari
Mia Chitra Dinisari - Bisnis.com 06 November 2022  |  18:41 WIB
Mengintip Beragam Alutsista Buatan Anak Bangsa di Indo Defence Expo & Forum 2022
Anggota TNI Angkatan Darat mengangkat senjata usai apel pemberangkatan Satgas ke Papua di Pelabuhan Sukarno Hatta, Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (3/3/2019). - ANTARA/Abriawan Abhe
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Tentara Nasional Indonesia (TNI), baru saja selesai memamerkan sejumlah alutsista buatan anak bangsa pada kegiatan pameran pertahanan terbesar di ASEAN, "Indo Defence Expo & Forum 2022 pada 2-5 November 2022 kemarin.

Sejumlah alutsista buatan anak bangsa dipamerkan dalam gelaran terbesar se-ASEAN, Indo Defence 2022.

Adapun alutsista yang dipamerkan itu terdiri dari hasil produksi perusahaan pertahanan asli dalam negeri.

Dikutip dari Indonesia Baik, beberapa alutsista buatan Indonesia itu dipamerkan oleh PT Dirgantara Indonesia, PT Pal Indonesia, Pindad, dan PT Dahana.

1. PT DI

PT Dirgantara Indonesia (PTDI) salah satunya, menghadirkan pesawat N219 dan CN235 FTB (Flying Test Bed). Kedua pesawat dihadirkan secara statik.

Pesawat N219 

N219 Nurtanio adalah moda transportasi yang cocok untuk membuka, meningkatkan pertumbuhan ekonomi rakyat, dan untuk menjaga pertahanan dan keamanan di daerah terpencil.

N219 Nurtanio adalah pesawat multiguna generasi baru, yang dirancang untuk mengangkut 19 penumpang dengan penampang kabin terbesar di kelasnya, mesin terbukti dan efisien, sistem avionik canggih, roda pendaratan roda tiga tetap, dan pintu kargo lebar untuk membuat lebih mudah untuk mengubah konfigurasi pesawat. Dengan demikian, N219 Nurtanio dirancang untuk memberikan keuntungan bagi operator dari aspek teknis dan ekonomis.

Selain konfigurasi angkutan penumpang, N219 Nurtanio juga dapat dilengkapi dengan peralatan yang sesuai untuk memenuhi berbagai kebutuhan misi seperti Transportasi Pasukan, Evakuasi Medis, Transportasi Kargo, Pengawasan dan Pencarian dan Penyelamatan (SAR).

Dalam pameran itu, PT Karya Logistik Indotama juga membeli 11 unit pesawat tersebut.

Total harga kontrak jual beli 11 (sebelas) unit pesawat N219 adalah sebesar USD 80,5 Juta. Penandatanganan kontrak ini disaksikan oleh Menteri Pertahanan RI, Prabowo Subianto dan Menteri PPN/Kepala Bappenas, Suharso Monoarfa.

Pesawat N219 pertama rencananya akan diserahkan oleh PTDI kepada PT Karya Logistik Indotama pada 28 bulan setelah kontrak berlaku efektif, dan unit kedua sampai dengan unit kesebelas Pesawat N219 diserahkan secara bertahap pada setiap 4 (empat) bulan setelah Pesawat N219 sebelumnya.

Pesawat CN235 FTB

Pada 17 Oktober 1979, IPTN dan CASA (sekarang Airbus Defence & Space) mendirikan perusahaan joint-venture baru, Aircraft Technology (Airtech) untuk merancang CN235. Pesawat multiguna baru ini memiliki kemampuan Short Take-Off and Landing (STOL) di landasan yang kokoh sepanjang 800 meter, pintu ramp untuk barang keluar/masuk dengan mudah, dan karakteristik perawatan berbiaya rendah.

Prototipe pertama “Elena” produksi CASA melakukan penerbangan perdana pada 11 November 1983 dan prototipe kedua “Tetuko” produksi IPTN (sekarang PTDI) terbang pertama kali pada Desember 1983. Produksi serial dimulai pada 1986 untuk 10 dan 100 versi

Kemudian PTDI mengembangkan versi perbaikan seperti versi 110 dan 220; sedangkan Airbus Defence & Space dengan versi 200 dan 300. Saat ini, lebih dari 300 CN235 telah diproduksi dalam banyak versi dengan dua mesin General Electric CT7-9C terbaru (masing-masing memiliki 1.750 SHP).

Dalam kerjasama untuk tujuan ekspor, PTDI memproduksi sayap luar, stabilizer horizontal, sirip vertikal dan pintu untuk Airbus Defence & Space; sedangkan Airbus Defence & Space memproduksi hidung yang dibongkar, kokpit yang dibongkar, dan sayap tengah untuk PTDI.

2. PT Pal Indonesia

Sementara itu, matra laut yang diwakili PT PAL Indonesia, dalam rangkaian Indo Marine 2022 Expo & Forum di Pondok Dayung, Jakarta Utara menunjukkan berbagai jenis kapal perang. Mulai dari LPD 163M, KCR generasi baru, Kapal Rumah Sakit, Perusak Kawal Rudal, Fregat, hingga kapal selam tanpa awak.

3. PT PINDAD

Dari matra darat, PT Pindad akan menampilkan berbagai produk senjata dan amunisi mulai dari SS2-V5 A1, SS Amphibious hingga simulator senjata Pasopati. PT Pindad juga menghadirkan berbagai kendaraan tempur yaitu Medium Tank Harimau, Badak 6X6 hingga kendaraan taktis Maung yang didemonstrasikan secara langsung di area outdoor.

SS2-V5 A1

Varian SS2-V5 mendapatkan beberapa upgrade untuk meningkatkan performanya. Popor lipat yang menjadi standar pada SS2-V5 diganti dengan popor model teleskopik. Pada bagian handguard, disematkan rail pada kiri, kanan, atas, dan bawah untuk memasang berbagai aksesoris.

Pada rail bawah, sudah terpasang sebuah vertical foregrip yang dapat menambah ergonomi dan kenyamanan dalam penggunaan senjata. Selain itu, pisir model carry handle diganti dengan model lipat pada rail. Pisir dan pijera ini dapat diganti dengan berbagai jenis teleskop yang dipasang pada rail senjata.

4. PT Dahana

Lalu PT Dahana, hadir memamerkan beragam produk energetik materialnya seperti roket dan kendaraan peluncurnya, bom pesawat tempur, Senjata Lawan Tank, MANPADS, hingga drone pintar bernama Rajata.

Rajata drone

Rajata punya jarak jangkau maksimum 30 km, dengan jarak jangkau efektif 10 – 15 km, dengan endurance kurang lebih 15 menit di udara.

Rajata dilengkapi servo atau motor listrik dengan sumber tenaga baterai. Kecepatan Rajata saat diluncurkan mencapai 150 km per jam, dan kecepatan maksimum 200 km per jam. Dengan kecepatan awal didapatkan dari launcher, tanpa booster.

Rajata dilengkapi kamera untuk mengetahui sasaran, kemudian ada sensor kecepatan, GPS, serta sistem kendali otomatis. Rajata punya material composite fiber punya berat hulu ledak 800 gram, sementara berat totalnya kurang lebih 2,5 kg, dan panjang 994 mm dan lebar bentang sayap 920 mm. 

5. DEFEND ID

Berbagai produk pertahanan buatan DEFEND ID pun juga ditampilkan, seperti misalnya Len Industri yang akan menampilkan radar, intercome, E-Tactical Bike hingga Combat Management System.

Pameran pertahanan internasional terbesar se-Asia Tenggara, Indo Defence 2022 Expo & Forum ini mengusung tema “Peace, Prosperty, Strong”

Pameran besar ini dilaksanakan pada 2-5 November 2022 di tiga lokasi yaitu Jakarta International Expo Kemayoran, Pangkalan TNI Angkatan Laut Pondok Dayung serta Apron Selatan Pangkalan TNI Angkatan Udara (Lanud) Halim Perdanakusuma.

Gelaran ini merupakan pameran industri pertahanan bergengsi yang diadakan Kementerian Pertahanan berkolaborasi dengan lebih dari 900 perusahaan bidang inhan yang akan terlibat, baik inhan dalam negeri maupun inhan luar negeri dari 59 negara.

Sementara itu, BTI Indo Tekno kontraktor alutsista dengan spesialisasi di bidang MRO, platform kapal angkatan laut, sistem persenjataan, dan sistem navigasi juga ikut dalam pameran tersebut. 

PT. BTI Indo Tekno tercatat memegang lebih dari 10 agen pabrikan alutsista terkemuka di dunia yang berkomitmen untuk meningkatkan kapabilitas tempur jajaran kapal perang kedepannya.

Fokus PT. BTI Indo sebagai tekno kontraktor alutsista dengan spesialisasi di bidang MRO, platform kapal angkatan laut, sistem persenjataan, dan sistem navigasi kapal perang, Salah satunya SEA.

Saat ini PT. BTI Indo Tekno juga telah melakukan penandatangan kerjasama antara BTI dan SEA yang diharapkan kedepannya BTI dapat memberikan produk-produk terbaik dan terdepan yang dimiliki oleh SEA guna memperkuat pertahanan Republik Indonesia. Penanda tanganan kerja sama ini berlangsung pada 3 November 2022.

BTI Indo Tekno juga telah berkerjasama dan melakukan tanda tangan kontrak dengan LOA,POA SEA, PT citra shipyard dan PT Republik Korpora Dengan mengikuti kegiatan Indo Defence 2022 ini.

"Kapal -kapal kecil itu terbatas karena mereka memiliki ukuran kecil, Semacam PC 1,Pc60,KCR,FPV itu tidak bisa karena mereka membawa sonar aja terlalu berat dengan adanya produk SEA dari Creat ini, kapal sekelas PC40 saja itu bisa mendeteksi kapal selam mengunakan sonar milik SEA" ujar Peter Tjahjono selaku Direktur Utama BTI Defence (PT. BTI Indo Tekno)

Peter Tjahjono menambahkan ini merupakan terbosan luar biasa, terutama untuk user atau angkatan laut untuk bisa mendeteksi lebih dini karena perairan armatim Indonesia ini kita arahnya mengunakan kapal kecil dari pada kapal besar,

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

alutsista pameran senjata Pindad
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

back to top To top