Sulitnya Berburu Sinyal Seluler saat Riuh Rendah Konser

Leo Dwi Jatmiko
Minggu, 23 Oktober 2022 | 12:02 WIB
Pekerja melakukan perawatan pada salah satu Base Transceiver Station (BTS) di Depok, Jawa Barat, Senin (25/7/2022). Bisnis/Arief Hermawan P
Pekerja melakukan perawatan pada salah satu Base Transceiver Station (BTS) di Depok, Jawa Barat, Senin (25/7/2022). Bisnis/Arief Hermawan P
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Fauzan berjalan berdesak-desakan. Berusaha membelah keramaian di tengah dentuman suara konser musik yang keras. Dia mencari tempat yang lebih longgar.

Di Pekan Raya Jakarta, lelaki berjenggot agak tebal itu kesal. Sudah 15 menit lebih, aplikasi Livin by Mandiri miliknya hanya menampilkan lingkaran yang berputar-putar. Padahal, dia mau top up e-wallet supaya bisa memesan transportasi daring dan balik ke kos-kosan.

Sepanjang jalan menuju tukang ojek, dia bersama dua orang temannya menduga-duga. Kenapa aplikasi mobile banking tidak berguna di kerumunan. Asumsi Fauzan ada dua. Sinyal pascabayar Indosat miliknya lemah di tengah keramaian konser Synchronize Fest 2022, atau ada gangguan di aplikasi mobile banking. Dugaan pertama lebih kuat.

“Akhirnya tidak jadi top up. Pulang naik ojek bayar cash,” ujar pria yang telah rutin menonton konser sejak duduk di kelas 1 SD itu.

Setali tiga uang, Shannaz juga merasakan hal yang sama. Bedanya, provider yang digunakan XL Axiata. Wanita berambut kemerahan itu mengeluh tidak bisa mengirim gambar, bahkan pesan di tengah keramaian konser.

“Kalau terpisah dengan teman atau pasangan, selesai. Harus cari tempat sepi dahulu buat kirim pesan,” kata Shannaz.

Selain itu, Felise rela berjalan sekitar 20 menit menjauhi panggung musik Hall I ICE BSD, Tangerang demi ingin mendapatkan sinyal Telkomsel. Dia ingin menggunakan layanan aplikasi transportasi daring untuk pulang.

Dia kesulitan untuk mencari informasi di sosial media saat konser berlangsung, kesulitan berkabar dengan teman-teman yang sudah janjian, dan kesulitan untuk memesan transportasi online untuk pulang ke rumah. Kebahagian selepas menonton konser malam itu menjadi tidak paripurna.

Langkah Operator

Mengenai kondisi ini, operator seluler memberikan tanggapan yang berbeda-beda. PT Telekomunikasi Selular dan PT Smartfren Telecom Tbk. tak kunjung merespons atas pertanyaan yang diberikan. Sementara itu PT XL Axiata Tbk. dan PT Indosat Tbk. mengaku terus berupaya memberikan pelayanan yang terbaik.

Head of External Communications XL Axiata Henry Wijayanto mengatakan perseroan terus berfokus untuk memberikan pengalaman yang lebih baik kepada pelanggan, termasuk kenyamanan dalam menikmati layanan data, termasuk di tempat konser.

XL rutin melakukan peningkatan kualitas jaringan secara end to end dengan terus memperluas dan meningkatkan kapasitas jaringan layanan data khususnya untuk layanan 4G dan juga pembangunan jaringan fiber optik/fiberisasi secara merata, termasuk penempatan Mobile BTS (MBTS) pada titik atau lokasi tertentu termasuk area keramaian.

“Langkah strategis ini kami terapkan, agar memastikan seluruh pelanggan XL Axiata tidak akan kesulitan mendapat jaringan dan dengan mudah serta nyaman berkomunikasi termasuk mengakses internet,” kata Henry kepada Bisnis.com, Sabtu (23/10/2022).

Dia melanjutkan meski demikian kesulitan mendapatkan akses jaringan, perlu didalami lebih dahulu dan dilakukan pemeriksaan. Kesulitan mendapat akses internet dapat disebabkan oleh berbagai hal, diantaranya ketersediaan kuota paket data yang dimiliki pelanggan dan titik keberadaan pelanggan.

Apakah di sekitar pelanggan ada penghalang fisik, misalnya pelanggan berada dalam ruangan tertutup, beton dan sebagainya. Kemudian juga kapasitas jaringan di lokasi pelanggan berada, bisa jadi karena pelanggan di satu lokasi sangat banyak dan kapasitas jaringan belum dilakukan peningkatan, sehingga tentunya juga bisa menyebabkan kenyamanan mendapatkan akses jaringan/layanan data berkurang.

Dia membenarkan bahwa jaringan 5G dapat menampung kapasitas yang lebih besar dari 4G, sehingga lonjakan trafik data di tempat keramaian dapat teratasi. Namun, keberadaan jaringan 5G tentu perlu didukung oleh ketersediaan ekosistem pendukung seperti handset pengguna.

Salah satu alasan belum tergelarnya 5G di tempat konser karena saat ini ekosistemnya belum matang. Penetrasi perangkat 5G di masyarakat masih terbatas.

Spektrum belum memenuhi standar 5G yang butuh sekitar 100 MHz. Alhasil, penyediaan 5G masih terbatas pada lokasi-lokasi tertentu saja, menyesuaikan dengan permintaan yang ada saat ini.

“Upaya kami untuk mengantisipasi lonjakan trafik difokuskan pada peningkatan kapasitas jaringan 4G secara end to end,” kata Henry.

Senada, SVP Head of Corporate Communications Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) Steve Saerang mengakui bahwa teknologi 5G bisa membantu mengatasi lonjakan trafik internet, seperti di tempat konser, terutama jika sudah tersedia alokasi spektrum yang sesuai, sehingga kapasitas jaringan internet dan jumlah penggunanya pun bisa ditingkatkan secara signifikan.

IOH secara bertahap juga terus memperluas layanan 5G yang saat ini sudah tersedia di Jakarta, Karawang, Lampung, Solo, Surabaya, Makassar, Balikpapan dan Bali. Perseroan akan memperluas jaringan 5G seiring dengan peningkatan penetrasi device, perkembangan use case, kesiapan ekosistem, serta frekuensi yang akan dialokasikan pemerintah. 

Dia juga menjelaskan kesulitan mendapatkan jaringan saat menonton konser diakibatkan kapasitas jaringan yang sudah penuh oleh lonjakan lalu lintas trafik, khususnya internet.

Analoginya sama dengan yang terjadi di jalan raya ketika jam-jam sibuk, banyaknya jumlah kendaraan yang masuk ke jalan raya di saat yang bersamaan akan menyebabkan lalu lintas tersendat.

Dampaknya, pengguna kendaraan mengalami perlambatan kecepatan akibat kemacetan. Sementara bagi pengguna seluler, akibat yang paling dirasakan akibat kepadatan jaringan adalah melambatnya akses internet di waktu tertentu atau dipahami dengan kondisi sulit mendapat jaringan.

Kecepatan internet akan kembali pulih di tempat yang sama ketika jumlah pengguna yang mengakses internet di lokasi konser mulai berkurang.

“Untuk penguatan jaringan di tempat konser, [IOH] menyediakan tambahan mobile BTS dan melakukan optimasi jaringan untuk meningkatkan kualitas layanan kepada pelanggan,” kata Steve.

Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi menilai langkah yang diambil Indosat dan XL dengan menambah mobile BTS sudah tepat. Lonjakan trafik data di tempat konser situasinya temporer, sehingga belum dibutuhkan keberadaan jaringan 5G, yang bersifat fixed atau jangka panjang.

“Tetapi kalau sering dijadikan tempat konser atau pertandingan olah raga, perlu disediakan BTS yang fixed bukan temporer,” kata Heru.

Butuh Bukti

Alkisah, pada 1952 di Florence, Italia. Terdapat sebuah batu marmer besar di sebuah gereja. Pirus Soderini, Walikota Florence saat itu, ingin mengubah balok batu marmer itu menjadi sesuatu yang luar biasa.

Dia mengundang seniman besar seperti Leonardo da Vinci dan lainnya untuk mengolahnya dan mereka menyerah. Pasalnya, di balok marmer itu ada lubang, yang membuat balok marmer sulit diubah menjadi sebuah karya.

Dalam buku yang ditulis oleh Robert Greene, singkat cerita datanglah Michelangelo Buonarroti ke Florence untuk memoles batu marmer yang rusak itu menjadi sebuah karya indah. Dia menyanggupi. Michelangelo berencana membuat patung Daud yang masih muda dengan katapel di tangannya.

Beberapa minggu setelahnya, ketika patung hampir jadi, datang Soderini. Dia yang menganggap dirinya paham tentang seni, menilai bahwa patung Daud buatan Michelangelo, hidungnya terlalu besar. Michelangelo sadar jika penilaian itu terjadi karena Soderini melihat patung dari bawah. Adapun jika dilihat dari atas dengan sudut pandang yang sama, hidungnya sudah bagus.

Michelangelo kemudian mengajak Soderini naik lebih tinggi sehingga dia dapat melihat bahwa patung yang dipahatnya, memiliki hidung yang sempurna. Soderini melihat, merasakan dan mempercayainya.

Kisah Michaelangelo dan Soderini mungkin dapat menjadi jalan tengah, dalam menyelesaikan keluhan krisis sinyal di area konser. Operator telah menambahkan mobile BTS atau menaikkan kapasitas 4G untuk menjaga sinyal tetap stabil. Namun faktanya pengguna ponsel tetap kesulitan mendapatkan sinyal.

Seperti Michaelangelo, rasanya operator seluler perlu membawa pengguna ponsel ke ‘sebuah titik’ sehingga pengguna dapat melihat, merasakan dan mempercayai bahwa ada karya operator dalam menjaga sinyal tetap nyala di tengah kerumunan penonton konser, meskipun sinyal itu sendiri adalah barang yang tidak terlihat.

Karya operator tersebut dibuktikan dengan kelancaran penonton dalam menggunakan layanan data di tempat konser, sehingga penonton dapat melakukan rencana apapun saat atau setelah konser.

Rencana untuk pulang cepat dengan memesan transportasi online lewat ponsel, rencana untuk melakukan pembayaran lewat aplikasi dan rencana untuk janjian bertemu di lokasi konser. Namun kembali pada hukum awal bahwa penonton hanya bisa berencana, operator yang menentukan. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Penulis : Leo Dwi Jatmiko
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper