Hadapi Tech Winter, Lebih Tahan Mana Startup Berafiliasi Asing atau Lokal?

Khadijah Shahnaz
Selasa, 11 Oktober 2022 | 17:26 WIB
Ilustrasi Startup. Bisnis/Arief Hermawan P
Ilustrasi Startup. Bisnis/Arief Hermawan P
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Perusahaan rintisan atau startup yang terafiliasi asing kerap melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) pada masa tech winter yang terjadi secara global. Pengamat menilai hal ini dikarenakan startup yang terafiliasi asing lebih mementingkan valuasi.

Direktur Celios Bhima Yudhistira menjelaskan startup yang memiliki afiliasi dengan asing atau mempunyai induk di negara lain biasanya tidak stabil dibandingkan startup asli Indonesia. Meskipun startup yang terafiliasi ini biasanya mendapatkan pendanaan dengan jumlah cukup besar.

"Jadi dari sisi stabilitasnya, startup terafiliasi lebih rentan. Resesi ekonomi akan terjadi bukan hanya di Indonesia tapi bermula dari zona Eropa. Saat ini pun China sedang mengalami bubble properti dan zero Covid-19, itu juga mempengaruhi pendanaan di negara berkembang," jelas Bhima kepada Bisnis, Selasa, (11/10/2022).

Bhima juga menilai pendanaan lokal biasanya lebih mengetahui situasi perekonomian dalam negeri, sehingga investor bisa memilih startup yang sudah mempunyai arah profitabilitas atau orientasi dalam jangka panjang. Pendanaan lokal juga saat ini dinilai tidak lagi fokus kepada valuasi, yang akhirnya berkorelasi terhadap stabilitas keuangan startup.

"Kalau Asing cenderung lebih mengejar market share dan valuasi yang lebih besar, ini yang membuat mereka lebih rentan," jelasnya.

Dia menambahkan startup Indonesia dengan model bisnis yang sudah mengarah ke profitabilitas biasanya tidak akan termakan dengan perang diskon dan promo atau bakar uang yang berlebihan. Startup tersebut biasanya berusaha untuk memberikan inovasi terbaru dan meningkatkan pelayanan.

"Dan tidak terjebak dalam promo dan diskon berlebihan, karena terbukti promo dan diskon yang berlebihan belum tentu meningkatkan loyalitas kepada konsumen. Kalau promo dan diskon, pendanaan sedang mengalami penurunan maka loyalitas konsumen juga akan turun," ujar Bhima.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Modal Ventura untuk Startup Indonesia (Amvesindo) Eddi Danusaputro mengatakan fenomena PHK tak hanya terjadi pada startup di luar negeri, tapi juga beberapa startup di Indonesia. Misalnya, PHK karyawan LinkAja, Xendit dan beberpa startup lainnya.

Namun, Eddi menilai startup yang terafiliasi dengan asing akan lebih sensitif terhadap pergerakan suku bunga dan perekonomian global. 

"Juga bagi startup yang induknya (di luar negeri) sudah go public, menjadikan lebih sensitif karena mempengaruhi cost of capital," ujar Eddi.

Adapun, Blibli startup Unicorn e-commerce dukungan Grup Djarum menunjukan resistensi yang kuat di tengah tech winter. Senior Vice President dan Head of Business Development Blibli Yohanes Lukiman mengatakan laba dan rugi Blibli merupakan P&L tersehat di antara e-commerce di Indonesia.

Dia pun menegaskan di Blibli sampai saat ini tidak pernah ada PHK yang terkait efisiensi, jika dibandingkan dengan gelombang PHK di perusahaan-perusahaan teknologi yang dimulai sejak pandemi dan terus berlangsung hingga kini.

"Kami cukup yakin bahwa P&L [laba dan rugi] kami adalah yang tersehat di dunia e-commerce Indonesia,” ujar Yohanes kepada Bisnis,

Senada dengan Blibli, J&T Express yang saat ini menjadi satu satunya Decacorn di Indonesia yang mengatakan tidak pernah melakukan PHK.

CEO J&T Express Robin Lo menjelaskan dasar dari bisnis J&T Express merupakan perusahaan yang mengedepankan efisiensi dan berkelanjutan, maka terkait dengan tech winter yang terjadi secara global tidak mempengaruhi perusahaan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper