Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Mengenal 8 Fase Bulan dalam Astronomi

Penamaan “konjungsi” atau dalam bahasa Arab “ijtimak” berasal dari posisi Bulan yang “berkumpul” dengan Matahari. Setiap 5-6 lunasi* sekali, Bulan akan berada di simpulnya (perpotongan antara ekliptika dengan orbit Bulan), sehingga Bulan Baru tidak selalu terjadi gerhana Matahari.
1

Bulan Baru hingga Bulan Besar

Fenomena bulan biru
Fenomena bulan biru
Bagikan

1. Bulan Baru

Nama lainnya adalah Konjungsi [solar] atau Ijtimak, yakni konfigurasi ketika Matahari-Bulan-Bumi dalam posisi segaris jika diamati dari atas bidang ekliptika dan Bulan terletak di antara Matahari dan Bumi. Dikarenakan posisi Bulan sehadap dengan Matahari, maka permukaan Bulan yang menghadap Bumi tidak terkena cahaya Matahari sehingga Bulan tampak tidak bercahaya.

Penamaan “konjungsi” atau dalam bahasa Arab “ijtimak” berasal dari posisi Bulan yang “berkumpul” dengan Matahari. Setiap 5-6 lunasi* sekali, Bulan akan berada di simpulnya (perpotongan antara ekliptika dengan orbit Bulan), sehingga Bulan Baru tidak selalu terjadi gerhana Matahari. Hal ini dikarenakan orbit Bulan miring 5,1 derajat terhadap ekliptika dan periode simpul Bulan (disebut juga periode drakonis) lebih pendek 2,2 hari dibandingkan dengan lunasi.

Saat fase Bulan Baru, gaya diferensial (gaya pasang surut) yang ditimbulkan oleh Matahari dan Bulan memiliki arah yang sama sehingga resultan gaya diferensialnya menjadi maksimal. Kondisi ini disebut juga sebagai pasang purnama (spring tide). Beberapa kalender di dunia menggunakan fase Bulan Baru sebagai awal bulan di kalender mereka di antaranya: Kalender Hindu, Kalender Tionghoa (Imlek), dan Kalender Ibrani.
*lunasi adalah periode sinodik Bulan, yakni interval waktu antara Bulan Baru dengan Bulan Baru berikutnya. Durasinya bervariasi antara 29,2 hingga 29,8 hari dengan rata-rata 29,5 hari.

2. Bulan Sabit Awal

Yakni konfigurasi ketika Matahari-Bumi-Bulan membentuk sudut lancip (kurang dari 90 derajat) jika diamati dari atas bidang ekliptika dan berada di sebelah timur Matahari jika diamati dari pengamat di permukaan Bumi. Bulan Sabit Awal umumnya terbit setelah Matahari terbit dan terbenam setelah Matahari terbenam.

Bulan Sabit Awal pertama yang terlihat setelah Matahari terbenam dijadikan sebagai penanda awal bulan kamariah dalam kalender Hijriah/Islam maupun kalender Jawa. Penamaan “sabit” karena bentuknya menyerupai sabit/arit yang digunakan untuk menyiangi rumput dan gulma di pekarangan.

3. Bulan Perbani [Kwartir] Awal

Yakni konfigurasi ketika Matahari-Bumi-Bulan membentuk sudut siku-siku (tepat 90 derajat) jika diamati dari atas bidang ekliptika dan berada di sebelah timur Matahari jika diamati dari pengamat di permukaan Bumi. Bulan Perbani Awal umumnya terbit saat tengah hari (ketika Matahari mengalami kulminasi/mencapai titik tertinggi di atas ufuk), berkulminasi saat Matahari terbenam dan terbenam saat tengah malam. Saat fase Bulan Perbani, gaya diferensial (gaya pasang surut) yang ditimbulkan oleh Matahari dan Bulan memiliki arah yang saling tegak lurus, sehingga resultan gaya diferensialnya menjadi minimal.

Kondisi ini disebut juga sebagai pasang perbani (neap tide). Bulan Perbani Awal yang terlihat setelah Matahari terbenam dijadikan sebagai penanda awal bulan kamariah/candrakala dalam kalender Sunda. Untuk konfigurasi planet yang serupa dengan Bulan perbani (seperti pada Merkurius dan Venus), fase perbani dapat disebut juga kuadratur maupun dikotomi (dichotomy)

4. Bulan Besar/Benjol Awal

Yakni konfigurasi ketika Matahari-Bumi-Bulan membentuk sudut tumpul (antara 90-180 derajat) jika diamati dari atas bidang ekliptika dan berada di sebelah timur Matahari jika diamati dari pengamat di permukaan Bumi. Bulan Besar umumnya terbit setelah tengah hari hingga sebelum Matahari terbenam, dan terbenam setelah tengah malam hingga sebelum Matahari terbit. Bulan Besar dapat terlihat saat sore hari di atas ufuk timur ketika Matahari masih di atas ufuk barat sehingga Sobat tidak perlu heran. Penamaan “benjol” berasal dari bentuknya yang cembung seperti benjolan. Terkadang, fase benjol awal juga disebut “cembung awal”. Penamaan “Bulan Besar” dikarenakan cahaya Matahari yang mengenai permukaan Bulan yang menghadap Bumi semakin bertambah.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bulan
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bagikan

Terpopuler

back to top To top