Starlink Milik Elon Musk Masuk Indonesia, Apa itu Starlink?

Khadijah Shahnaz
Minggu, 12 Juni 2022 | 15:01 WIB
Presiden RI Jokowi bertemu Elon Musk di pabrik SpaceX di Boca Chica, Amerika Serikat pada Sabtu (14/05/2022)/BPMI Setpres
Presiden RI Jokowi bertemu Elon Musk di pabrik SpaceX di Boca Chica, Amerika Serikat pada Sabtu (14/05/2022)/BPMI Setpres
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Starlink milik Elon Musk resmi masuk dan mendapatkan izin beroperasi di Indonesia. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mengatakan bahwa PT Telkom Satelit Indonesia (Telkomsat) membeli kapasitas dari Starlink, perusahaan SpaceX milik Elon Musk.

Ini artinya Telkomsat mendapatkan Hak Labuh Satelit Khusus Non Geostationer (NGSO). Starlink pun akan digunakan untuk keperluan layanan backhaul Telkom Group.

Merujuk pada Permen Kominfo Nomor 21 tahun 2014, Hak Labuh (Landing Right) Satelit adalah hak untuk menggunakan Satelit Asing yang diberikan oleh Menteri kepada Penyelenggara Telekomunikasi atau Lembaga Penyiaran.

Sehingga nanti pada praktiknya, satelit Starlink kemungkinan akan disewa oleh Telkomsat untuk memberikan bentuk layanan jaringan internet tertutup ke pelanggan korporat.

Sebelumnya, kerjasama ini telah disinggung oleh Menko Marinves Luhut Binsar Panjaitan beberapa waktu lalu. Dia mengatakan negosiasi dengan starlink sudah di tahap final. Lantas apa itu Starlink?

Dilansir dari Cnet.com, Minggu (12/6/2022) Starlink merupakan bagian dari Space X yang menyediakan akses internet melalui jaringan satelit pribadi.

Setelah bertahun-tahun mengembangkan SpaceX dan mendapatkan hampir US$885,5 juta dana hibah dari Komisi Komunikasi Federal pada akhir tahun 2020 Starlink memulai langkah pertamanya di tahun 2021. Di mana pada bulan Januari 2021, Starlink meluncurkan 1.000 satelit ke orbit. Sampai dengan April 2022, saat ini Starlink telah meluncurkan lebih dari 2.000 satelit.

Starlink pun memakai konstelasi satelit low-earth (LEO) dengan jarak sekitar 550 km, di mana jangkauan ini termasuk kecil dibandingkan satelit lainnya. Adapun, dikarenakan satelit Starlink berada di orbit rendah, waktu perjalanan data dari dan ke pengguna juga jauh lebih rendah daripada layanan internet satelit biasa. Sehingga latensi juga jauh lebih rendah di mana dapat memberikan internet lebih cepat dibanding provider satelit lainnya.

Menurut situs pelacak kecepatan internet Ookla, yang menganalisis kinerja internet satelit selama kuartal keempat tahun 2021, Starlink menawarkan kecepatan unduh melebihi 100Mbps di 15 negara berbeda tahun lalu, dengan kecepatan rata-rata di Q4 lebih tinggi dari Q3.

Di Amerika Serikat , Starlink menawarkan kecepatan unduh rata-rata sekitar 105Mbps dan kecepatan unggah rata-rata sekitar 12Mbps, yaitu sekitar lima atau enam kali lebih baik daripada rata-rata pesaing satelit Viasat dan HughesNet dan hanya sedikit dari rata-rata keseluruhan untuk seluruh jaringan nirkabel tetap. Saat ini pun Starlink menawarkan layanan di 32 negara di seluruh dunia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper