Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Indonesia Miliki 4 Startup Unikorn Baru, Amsevindo Ungkap Alasannya

Amvesindo menjelaskan soal 4 startup unikorn yang baru di Indonesia.
Rahmi Yati
Rahmi Yati - Bisnis.com 29 April 2022  |  09:11 WIB
Ilustrasi startup -
Ilustrasi startup -

Bisnis.com, JAKARTA - Indonesia dikabarkan mempunyai empat perusahaan rintisan atau startup baru yang berstatus unikorn. Selain GoTo dan Bukalapak, kini predikat unikorn disandang oleh Akulaku, Ajaib, Codapay dan Xendit.

Unikorn merupakan istilah yang diberikan kepada startup yang memiliki valuasi melampaui US$1 miliar atau sekitar Rp14,3 triliun.

Bendahara Asosiasi Modal Ventura dan Startup Indonesia (Amsevindo) Edward Ismawan Wihardja mengatakan keempat startup tersebut bisa naik kelas dan menyandang status unikorn dikarenakan beberapa faktor.

Di antaranya, market size, maturity dan market domination yang biasanya juga menentukan apakah sebuah startup bisa memegang predikat unikorn.

"Valuasi unikorn sama atau lebih dari US$1 miliar. Kesempatan mendapatkan liquidity bagi investor sebelumnya baik dari trade sales maupun IPO akan membuat ekosistem investasi makin baik, hal ini memberikan keyakinan makin tinggi bagi investor untuk mengucurkan dana di sektor ini," kata Edward, Kamis (28/4/2022).

Dengan begitu, dia berharap startup yang dinobatkan sebagai unikorn tersebut dapat terus memperlihatkan dan mempertahan perjalanan atau pertumbuhannya dengan baik.

Sebab, sambung Edward, investor akan terus melihat inovasi dan pengembangan sebuah unikorn tersebut ke adjacent category dan market.

"Selama growth story masih terlihat baik biasanya investor masih mau mengucurkan dana mereka," ucap dia.

Sebagai informasi, dalam laporan Cento Ventures, Akulaku, Xendit, Ajaib, dan Codapay masuk dalam kolom startup dengan valuasi di atas US$1 miliar. Fintech ini berada di bagian yang sama dengan Bukalapak.

Namun Codapay merupakan startup asal Singapura, bukan Indonesia. Cento Ventures juga sudah memberikan catatan bahwa daftar ini tidak lengkap. Data didasarkan pada pembiayaan substansial terbaru, peristiwa likuiditas (exit strategy), atau perkembangan bisnis yang diketahui.

“Laporan ini berfokus pada teknologi digital, tetapi daftarnya mungkin mengecualikan perusahaan di bidang logistik, ritel, kantor layanan, dan operator apartemen,” demikian tulis laporan Cento Ventures.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

StartUp Unicorn
Editor : Rio Sandy Pradana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper
To top