Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Target Proyek BTS Wilayah 3T Bakti Meleset? Ini Kata Pengamat

Target proyek BTS wilayah 3T Bakti dinilai telah meleset dari yang direncanakan selesai pada Maret 2022.
Rahmi Yati
Rahmi Yati - Bisnis.com 13 April 2022  |  19:48 WIB
Teknisi memasang perangkat Base Transceiver Station (BTS) di salah satu tower di Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (18/3/2020). - Bisnis/Paulus Tandi Bonern
Teknisi memasang perangkat Base Transceiver Station (BTS) di salah satu tower di Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (18/3/2020). - Bisnis/Paulus Tandi Bone\r\n

Bisnis.com, JAKARTA - Badan Aksesibilitas Telekomunikasi Indonesia (Bakti) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) dinilai tidak memenuhi target pembangunan Base Transceiver Station (BTS) di 4.200 desa 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) yang direncanakan selesai pada Maret 2022.

Hal itu disampaikan Direktur Eksekutif Center for Budget Analysis (CBA) Uchok Sky Kadafi. Menurutnya, Kemenkominfo sebagai pengawas harus benar-benar mengawasi kinerja Bakti karena anggaran dari pemerintah untuk pembangunan BTS USO ini sudah diberikan.

"Seharusnya [anggaran ini] bisa dimanfaatkan dengan sebaik mungkin untuk memberikan layanan telekomunikasi masyarakat di daerah 3T," katanya, Rabu (13/4/2022).

Berbanding terbalik, Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute Heru Sutadi menilai Bakti sudah berupaya maksimal dalam memenuhi target yang ditetapkan tersebut.

Hanya saja, sambung dia, tak bisa dipungkiri ada beberapa kendala yang berpotensi menghambat proses pembangunan tersebut.

"Sebab yang dibangun kan adalah wilayah 3T. Saya pikir upaya Bakti sudah maksimal untuk memenuhi target yang sudah ada. Namun memang, di lapangan kan banyak kendala," ujar Heru.

Dia bahkan menyebut, dari informasi yang diperoleh, sulitnya transportasi justru menjadi salah satu kendala dalam membangun BTS tersebut. Misalnya, gelombang air laut yang tidak bisa dikendalikan, jalan ke lokasi pembangunan yang tidak ada atau bahkan harus dibawa ke puncak gunung.

Dengan adanya hambatan-hambatan tersebut, lanjutnya, proses pembangunan dari persiapan lahan, pengiriman barang hingga instalasi tentu butuh waktu.

"Seperti di Waropen, material didatangkan dari Biak atau Serui. Belum lagi ke wilayah pedalaman distrik-distriknya. Di daerah Puncak Papua, juga ada kendala keamanan. Ya memang kita semua berharap ini segera diselesaikan, tetapi kalau ada kendala, kita juga harus memaklumi," imbuh Heru.

Ketua Pusat Studi Kebijakan Industri dan Regulasi Telekomunikasi Indonesia ITB Ian Yosef M. Edward mengungkapkan hal yang sama. Dia menilai Bakti sudah melakukan langkah yang tepat dalam mewujudkan pemerataan infrastruktur telekomunikasi di Tanah Air.

"Bakti sudah melakukan langkah-langkah yag tepat, hanya memang saat ini ada beberapa kendala misal pandemi, kondisi wilayah misalnya Papua, dan tentu sudah melakukan review pula hal tersebut apakah akibat force majure atau human/vendor error," ucap Ian.

Menurutnya, kendala utama dalam membangun BTS di daerah 3T adalah lokasi pembangunan yang sulit dijangkau serta faktor keamanan petugas.

Namun begitu, Ian menuturkan bila memang nantinya dilakukan evaluasi dan diketahui target pembangunan tidak tercapai lantaran kelalaian Bakti, maka Kemenkominfo dapat memberikan sanksi tegas dan mengalihkan proyek ini ke pihak lain yang memiliki kinerja baik tanpa melanggar perjanjian ataupun peraturan yang berlaku.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bts bakti
Editor : Rio Sandy Pradana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

Banner E-paper
To top