Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Mengulas Strategi E-Grocery AlloFresh Supaya Dilirik Konsumen

Kalangan pengamat ekonomi digital menilai, keterjangkauan harga menjadi faktor penting agar para konsumen berkenan menggunakan layanan e-grocery AlloFresh.
Ahmad Thovan Sugandi
Ahmad Thovan Sugandi - Bisnis.com 02 Maret 2022  |  05:23 WIB
Mengulas Strategi E-Grocery AlloFresh Supaya Dilirik Konsumen
Ultimate Shareholder PT Allo Bank Indonesia Tbk. (BBHI) Chairul Tanjung memberikan keterangan pers usai rights issue Allo Bank di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (11/1/2022). Bisnis - Fanny Kusumawardhani
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Kalangan pengamat ekonomi digital menilai, keterjangkauan harga menjadi faktor penting agar para konsumen berkenan menggunakan layanan e-grocery AlloFresh.

Ketua Umum Indonesia Digital Empowering Community (Idiec) M. Tesar Sandikapura menyebut, layanan e-grocery AlloFresh harus cepat dan murah untuk dapat menarik konsumen.

"Menurut saya para konsumen kebutuhan sehari-hari sangat sensitif dengan harga, perbedaan harga akan sangat mempengaruhi keputusan konsumen," ujarnya, Rabu (2/3/2022).

Menurut Tesar, selain harga dan kecepatan, para konsumen saat ini juga sangat memperhatikan kualitas pelayanan. Para konsumen tidak terlalu peduli dengan brand besar, tetapi lebih memilih brand yang memberikan layanan terbaik.

Selain itu, dia menambahkan, kualitas dan kebersihan produk pertimbangan utama para konsumen saat ini. Terutama produk-produk segar yang mudah rusak seperti sayur dan aneka daging.

Tesar mengatakan, untuk menggaet konsumen di segmen rumah tangga, aplikasi e-grocery harus mudah digunakan, sederhana, tetapi tetap dengan fitur yang memadai.

"Menurut saya selain aplikasi, sistem customer service harus dapat dioptimalkan, konsumen jangan dipaksa unduh bangak aplikasi. Misalnya bisa telepon atau kirim pesan untuk memesan, sederhana tetapi memudahkan kalangan tertentu," ujarnya.

Di sisi lain, menurut Tesar, AlloFresh harus memiliki armada pengantarannya sendiri dan tidak tergantung pada perusahaan lain.

Sepakat dengan Tesar, Koordinator Pusat Inovasi dan Inkubator Bisnis Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Dianta Sebayang menyebut, tantangan utama dari AlloFresh saat ini adalah tuntutan untuk dapat menyediakan harga yang terjangkau.

"Bagi e-commerce yang terbiasa menggunakan sistem bakar uang untuk menjaga harga tetap kompetitif, akan sulit melakukannya tanpa sokongan dana besar," ujarnya.

Walaupun begitu, Dianta melihat AlloFresh memiliki peluang untuk berkembang di awal kemunculannya jika menyasar kelas menengah ke atas di perkotaan sebagai konsumen utama.

Selain itu menurutnya, keberadaan AlloFeesh turut memperkuat ekosistem Bukalapak di luar layanan daring. Adapun Trans Retail diuntungkan dengan masuknya mereka ke ekosistem digital.

Sebagai informasi, menurut pantauan Bisnis pada, Selasa (1/3/2022) unit supermarket CT Corp., PT Trans Retail Indonesia bersama Bukalapak turut menjalin kerja sama dengan perusahaan swasta Growtheum Capital Partners.

Ketiga perusahaan besar tersebut bakal menggelontorkan investasi senilai Rp1 triliun untuk membangun AlloFresh. Nantinya, Trans Retail akan menjadi pemilik 55 persen saham, Bukalapak 35 persen, dan Growtheum 10 persen.

Dalam platform AlloFresh, nantinya pelanggan bisa memesan bahan makanan menggunakan aplikasi dan website dengan memindai barang di dalam toko fisik. Barang yang sudah dipesan akan dikemas dan dikirim menggunakan transportasi online, bekerja sama dengan mitra bisnis AlloFresh, Grab Holdings Lt

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

e-commerce digital bukalapak Grab
Editor : Pandu Gumilar
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

back to top To top