Hati-hati! Sistem Kerja Hybrid Beri Peluang Hacker Curi Data Perusahaan

Rahmi Yati
Senin, 28 Februari 2022 | 16:53 WIB
Ilustrasi kejahatan siber./Reuters-Kacper Pempel
Ilustrasi kejahatan siber./Reuters-Kacper Pempel
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Sistem kerja hybrid di era serba digital saat ini membuat pelaku kejahatan siber semakin berkesempatan mencuri data perusahaan. Maka dari itu, penting bagi organisasi maupun individu agar waspada dengan kejahatan yang mengintai.

Head of Governance Risk Control & Technology Consulting RSM Indonesia Angela Simatupang mengatakan cybersecurity culture menjadi penting karena dengan adanya hybrid office seperti sekarang ini, pelaku kejahatan siber memiliki lebih banyak kesempatan untuk bertindak.

"Dengan meningkatkan kewaspadaan dan rasa tanggung jawab terhadap data-data yang ada, hal tersebut dapat diminimalisir," ujarnya, Senin (28/2/2022).

Dia menyebut, berdasarkan data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), terdapat lebih dari 1,6 miliar anomali trafik yang terlacak sepanjang 2021, dengan tiga terbesar dilaporkan terjadi di situs pendidikan, situs swasta, dan situs milik pemerintah daerah.

Bahkan, sambung dia, perangkat dan aplikasi yang umum digunakan seperti Microsoft, Facebook, Twitter, Canva, dan banyak lainnya tidak luput dari serangan breaches dan hacking.

"Ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan keamanan siber, antara lain dengan perilaku seluruh insan organisasi yang sadar akan proteksi data, konsistensi dari komunikasi internal terkait keamanan data dan teknologi, program yang terencana dan terimplementasi dengan baik untuk membangun budaya sadar keamanan siber," ucapnya.

Lebih lanjut, dia menuturkan, menurut pantauan BSSN sepanjang 2021, dari anomali trafik yang terdeteksi, terdapat 1,6 miliar pergerakan anomali di dunia siber yang terdeteksi dan 7,9 juta berasal dari pergerakan malware dan 5,4 juta dari phising.

Sedangkan data terbaru, imbuhnya, menunjukkan sebanyak lebih dari 4.000 pengguna data di sektor pemerintahan telah terinfeksi oleh malware.

"Dengan kondisi ini kita harus lebih peduli dengan keamanan sistem yang kita gunakan dan disarankan mengganti password akun yang dimiliki secara berkala guna menghindari information phishing dan hacking,” terang Angela.

Sebagai tambahan, berdasarkan survei yang diadakan oleh RSM Indonesia dalam special report: Emerging Threats in Cybersecurity, 36 persen responden berpendapat protokol keamanan siber harus diperbarui, dan 22 persen lainnya berpendapat kebijakan privasi juga harus diperbarui secara berkala.

Sementara itu 46 persen gangguan di tahap operasional diperkirakan sebagai bentuk gangguan paling parah di dunia siber, dan 29 persen beranggapan bahwa kerugian finansial merupakan kerugian terbesar yang dapat dialami organisasi.

Menurut survei, 59 persen responden juga percaya dengan keamanan data organisasi mereka dan 83 persen menyatakan bahwa keamanan siber telah menjadi prioritas di organisasi mereka. Namun 70 persen responden melihat ancaman terbesar berasal dari pihak eksternal seperti hacker dan pelaku kejahatan siber.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Penulis : Rahmi Yati
Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper