Persaingan Startup Makin Panas, Kearifan Lokal Jadi Modal Utama

Leo Dwi Jatmiko
Senin, 11 Oktober 2021 | 17:26 WIB
Pengelola perusahaan rintisan digital atau startup mengoperasikan program pelayanan di sebuah kantor bersama berbasis jaringan internet (Coworking space) Ngalup.Co di Malang, Jawa Timur, Senin (12/10/2020). Kementerian Koperasi dan UKM menargetkan bisa menumbuhkan 750 wirausaha baru berbasis teknologi informasi atau startup digital setiap tahun untuk mendorong lebih banyak pelaku UMKM terakses digital./ANTARA FOTO-Ari Bowo Sucipto
Pengelola perusahaan rintisan digital atau startup mengoperasikan program pelayanan di sebuah kantor bersama berbasis jaringan internet (Coworking space) Ngalup.Co di Malang, Jawa Timur, Senin (12/10/2020). Kementerian Koperasi dan UKM menargetkan bisa menumbuhkan 750 wirausaha baru berbasis teknologi informasi atau startup digital setiap tahun untuk mendorong lebih banyak pelaku UMKM terakses digital./ANTARA FOTO-Ari Bowo Sucipto
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Perusahaan rintisan yang dibangun di dalam negeri punya beberapa keunggulan yang tidak dimiliki oleh perusahaan asing yakni pemahaman terhadap pasar dan kearifan lokal. 

Direktur Digital Business PT Telkom Indonesia Tbk. Muhammad Fajrin Rasyid mengatakan kearifan lokal menjadi salah satu modal kuat bagi perusahaan rintisan lokal dalam bersaing dengan pemain global. 

Dengan mengetahui kondisi pasar domestik, kata Fajrin, perusahaan rintisan dapat menentukan bisnis model yang tepat, yang dapat diterima oleh masyarakat. 

Selain itu pengetahuan terhadap kondisi lokal juga membuat perusahaan rintisan bergerak lebih lincah dibandingkan dengan perusahaan global atau asing. 

“Rahasia dari startup yang bisa bersaing dengan startup global adalah kearifan lokal itu sendiri,” kata Fajrin dalam siaran pers yang diterima Bisnis, Senin (11/10/2021).

Dengan proyeksi ekonomi digital Indonesia yang besar - mencapai US$124 miliar pada 2025 - kata Fajrin, perusahaan rintisan Indonesia mampu untuk memahami pasar lokal dengan lebih baik lagi.

Penyesuaian dengan pasar lokal bukanlah hal yang mudah, mengingat pemain global memiliki banyak cabang operasi di beberapa negara. 

Agility menjadi salah satu kunci juga, bagaimana startup lokal bisa bersaing dan mengembangkan fitur-fitur dengan lebih cepat, lebih baik dan lebih unggul,” kata Fajrin. 

Dengan kekuatan yang dimiliki, dalam beberapa kasus perusahaan rintisan yang dibangun di dalam negeri, kata Fajrin, berhasil unggul atas perusahaan rintisan global. 

Di beberapa sektor vertikal, perusahaan digital Indonesia berhasil memenangkan persaingan dengan pemain raksasa global. 

Sebut saja persaingan di sektor transportasi daring antara Gojek dengan Uber telah memaksa Uber berhenti beroperasi pada 2018. 

Kemudian Tokopedia, Bukalapak dan platform dagang el lainnya juga memukul mundur Rakuten sehingga pada 2016 Rakuten berhenti beroperasi.  

“Kemudian Grabfood dan GoFood yang memaksa Foodpanda berhenti beroperasi,” kata Fajrin. 

Sementara itu, Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Sarwoto Atmosutarno mengatakan transformasi yang memanfaatkan teknologi dan layanan digital akan memprioritaskan perbaikan ekonomi, pemerintahan, dan sosial masyarakat. 

“Suksesnya Unicorn Gojek, Tokopedia atau Bukalapak, adalah contoh konsep digitalisasi yang memanfaatkan kearifan lokal, termasuk untuk kota cerdas,” kata Sarwoto.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini di sini:

Bagikan

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terkini

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Topik-Topik Pilihan

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper