Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tarif Telekomunikasi di Indonesia Timur Mahal, Ini Usul Pengamat

ICT Institute mengusulkan solusi untuk menekan tarif telekomunikasi di Indonesia Timur mahal.
Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 11 Oktober 2021  |  07:25 WIB
Teknisi melakukan pemeriksaan perangkat BTS di daerah Labuhan Badas, Sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat (NTB), Senin (26/8). Bisnis - Abdullah Azzam
Teknisi melakukan pemeriksaan perangkat BTS di daerah Labuhan Badas, Sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat (NTB), Senin (26/8). Bisnis - Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Pembangunan infrastruktur telekomunikasi yang mahal di daerah Timur Indonesia atau pedesaan terpencil seyogianya tidak dibebankan kepada masyarakat di sana.

Pemerintah disarankan untuk mengeluarkan subsidi atau menetapkan subsidi silang agar harga layanan di daerah tertinggal, terdepan dan terluar (3T) lebih terjangkau.

Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi mengatakan perlu ada kebijakan populis dari pemerintah untuk menekan harga layanan di Indonesia Timur. Pembangunan infrastruktur telekomunikasi yang mahal di sana, tidak boleh dibebankan kepada masyarakat, karena daya beli dan perekonomian tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan di Pulau Jawa.

Heru mengusulkan agar pemerintah melakukan subsidi silang untuk menekan biaya layanan di wilayah Timur Indonesia, atau di desa-desa terpencil lainnya.

“Subsidi silang dengan orang kota yang ekonominya baik membayar sedikit lebih mahal,” kata Heru, Minggu (10/10/2021).

Cara lain yang dapat ditempuh, sambungnya, adalah dengan memberi keringanan kepada operator dalam pembayaran spektrum frekuensi dan biaya penerimaan negara bukan pajak (PNBP) lainnya.

Operator yang menghadirkan layanan di sana, harus memberikan harga yang terjangkau kepada masyarakat. Sebagai gantinya, mereka akan mendapat potongan harga dalam pembayaran BHP Frekuensi.

“Subsidi dari pemerintah dalam bentuk pengurangan biaya spektrum frekuensi atau PNBP lainnya,” kata Heru.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

telekomunikasi operator seluler
Editor : Rio Sandy Pradana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

Banner E-paper
To top